| 0 Comments | 70 Views

Sumber Review : Artikel 24 Sastra Digital 2023

Judul  :  الأدب الرقمي مفاهم في طور الشكل : (Sastra Digital Konsep )

Penulis: Zahur Karam 


Sastra Digital : Konsep-konsep yang Sedang dalam Proses Dibentuk, Penulis Digital: Pembaca Digital

Oleh : ‘Aqil Dlabit APZ 20101010083 

Setiap pemikiran, budaya, dan kreativitas baru yang produktif akan menimbulkan pertanyaan tentang keabsahan dan sejauh mana efektivitasnya dalam menciptakan ruang yang lebih luas. Bagaimana perkembangannya dan kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul. Terkhusus dalam bidang media, dimana memungkinkan seseorang untuk lebih dapat mengekspresikan pandangan, ide, dan gagasannya. Media juga dapat mempengaruhi gaya berpikir seseorang. Ketika pemikiran manusia berkembang, tentu menjadikan mekanisme berpikirnya berkembang pula. Hal itu dikarenakan pandangannya terhadap sesuatu dapat lebih sering berubah seiring dengan perkembangan keilmuan dan kaitannya dengan sejarah perkembangan peradaban.

Peralihan peradaban dari satu tingkat ke tingkat yang lain menjadikan manusia lebih terbuka terhadap kreasi, kreativitas, dan pembaruan pandangan sehingga memunculkan ekspresinya sebagai perwujudan dari perkembangan pemikirannya. Oleh karena itu, setiap individu memiliki hak untuk mengekspresikan dirinya menggunakan kemampuan dan alat yang tersedia. Bukan saja tentang media, lebih dari itu yaitu mengungkap bentuk pemikiran sesuai dengan perubahan kondisi pemikirannya. Hal ini merupakan masalah yang tumpang tindih.

Variabel-variabel yang dikenal oleh pemikiran manusia saat ini, dengan perkembangan teknologi, telah memungkinkan manusia berpindah keadaan dimana tindakan dan prakteknya tunduk pada sarana industri dan teknologi untuk mengekspresikan gagasannya tentang sesuatu secara bebas dan cepat. Pergeseran alat untuk mengkomunikasikan pengetahuan, dalam bentuk layanan cepat dan efektif, berkontribusi pada pengembangan bentuk ekspresi yang tidak diragukan lagi dalam mengungkapkan perubahan besar dalam visi dunia. Saat ini kita dapat menyaksikan bentuk manifestasi baru akibat teknologi yang telah mengubah ritme interaksi individu maupun kelompok. Media elektronik dan digitalnya juga memungkinkannya mengubah seluruh budaya terbuka satu sama lain dalam kondisi budaya yang bersatu secara digital.

Dengan adanya perkembangan digital maka memungkinkan adanya kebebasan individu untuk berkreasi. Layanan mempesona dan menakjubkan disediakan oleh media tanpa batasan atau sensor apapun yang menghalangi proses memulai penelitian dan penemuan. Perkembangan digital juga terjadi pada masyarakat arab, dimana mereka juga terus menerus mengonsumsi kondisi transformasi digital tersebut. Kemudian juga menggunakannya demi kepentingan pengembangan pemikiran mereka. Digitalisasi menjadikan mereka lebih modern dalam sastranya.

Karena banyak konsep modernitas, seperti yang muncul di Barat, masih mendominasi pemikiran teoretis, maka tidak ada keraguan bahwa situasi ini mungkin menghambat proses percepatan keterlibatan yang fleksibel, positif, efektif dan produktif di era teknologi, dan memanfaatkan sarana-sarana tersebut untuk kepentingan pengalaman pemikiran Arab. Mungkin masalahnya menjadi rumit karena kebijakan resmi Arab terus mendorong teknologi mereka untuk bermigrasi ke luar negeri, yang mengubah dunia Arab menjadi kuasi-pusat pembentukan arah teknologi yang bermigrasi dan menjadikan dunia Arab di sebagian besar negaranya merupakan angkatan kerja, seolah-olah Arab mengulangi pengalaman yang sama dalam membangun Eropa Barat, setelah negara-negara Arab memperoleh kemerdekaan politiknya, memanfaatkan situasi ekonomi, politik, dan sosial serta menjadikan pekerja sebagai pekerja, seperti yang terjadi. Dengan kolonialisme Perancis. Untuk Maroko, Aljazair dan Tunisia.

Apakah dunia Arab ditakdirkan dengan setiap transformasi global pada intelektual, industri, kognitif, ideologis, informasional, dan teknis, kita terus menjalani modernitas melalui teori dan upaya untuk mencapai pemahaman? Apakah kita ditakdirkan untuk terus menjalani konsekuensi dari kehidupan dan transformasi konseptual yang dialami oleh negara-negara yang mengambil inisiatif untuk terlibat dalam transformasi peradaban, dengan sikap positif dari institusi, masyarakat, dan pemangku kepentingannya?

Namun, kondisi sejarah zaman teknologi saat ini telah berbeda dengan kondisi historis realitas Arab pada masa Renaisans, mengingat bahwa berkat pesatnya perkembangan teknologi, dunia menjadi terbuka terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, dan terhadap kemenangan atas isolasionisme dan lokalisme. Negara tidak lagi mempunyai kewenangan untuk memutuskan izin dengan mengedepankan satu ilmu pengetahuan dibandingkan yang lain, karena hanya dengan gerakan sederhana di komputer dan memasuki portal Internet, individu dapat mengakses informasi terkini, dan dalam berbagai cara dan di semua itu, dan bahkan institusi dengan segala fungsinya. Telah menjadi di luar kewenangan individu, yang kini mampu mengelola informasinya sendiri, dan menyebarkan gagasannya dengan caranya sendiri, serta memasarkan kepribadian dan cara berpikirnya dalam bahasa. Asalkan dia punya minat pada budaya teknologi, dan bisa Bergerak di Internet.

 Sumber :           كتاب "الأدب الرقمي : أسئلة الثقافية و تأملات مفاهيمية" لدكتور زهور كرام   (halaman 12-20)

 

*** 



 


Leave a Comment