Benang Merah Kairo-Bandung-Yogyakarta: Catatan Perjalanan Akademik Dr. Aḥmad Syalabī di PTAIN Yogyakarta (1955-1961) (Bagian I)

Tulisan singkat ini sebagian besar disadur dari sebuah memoar yang ditulis oleh Dr. Ahmad Syalabī (1914-2000) dengan judul Riḥlah Ḥayāh: Tajribah, Ta’arruḍ, Majmū’ah min Qaḍāya al-Ḥadārah al-Islāmiyyah, cetakan kedua, yang diterbitkan pada 1982. Di dalamnya, terdapat satu bagian bertajuk “fī Indūnīsiyyā” yang menceritakan perjalanan sang penulis di Indonesia, khususnya ketika menjadi dosen tamu di PTAIN Yogyakarta. Motivasi yang melahirkan tulisan ringan ini adalah dalam rangka mensyukuri kelahiran UIN Sunan Kalijaga (Dies Natalis) yang ke-75 yang diawali dengan pameran arsip di Gedung Rektorat UIN Sunan Kalijaga yang bertajuk “Rintisan: Jejak Yang Tak Terhapus Lintas Waktu (1951-1961)”. Dalam semangat “jas merah”, memoar Dr. Ahmad Syalabī ini adalah salah satu dokumen penting untuk menengok kembali perjalanan UIN Sunan Kalijaga di satu dekade pertamanya.          

Misi Diplomatik Prof. Soenarjo (1908-1996) di Kairo untuk Pengembangan PTAIN Yogyakarta

Dalam catatan Dr. Ahmad Syalabī (berikutnya disebut Dr. Syalabī), pada bulan-bulan terakhir di tahun 1953, Prof. Soenarjo – salah satu tim formatur dan staf pengajar pada Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta – bertolak ke Kairo untuk sebuah urusan diplomatik mewakili Pemerintah Indonesia. Ia sendiri merupakan salah satu tokoh pionir yang mengurus Departemen Agama bersama Prof. M. Rasjidi dan menjadi Sekretaris Jendral di departemen baru ini sejak tahun 1946. Pada tahun 1951, ia juga ditunjuk sebagai sekretaris PTAIN Yogyakarta oleh KH. Wahid Hasjim, menteri Agama ketika itu (Machasin: 2000, 75-6). PTAIN Yogyakarta ketika itu baru saja berdiri pada 26 September 1951. Kemungkinan besar, kunjungan Prof. Soenarjo ke Kairo terjadi ketika ia menduduki jabatan tersebut dalam rangka pengembangan keilmuan kampus Islam pertama yang baru saja didirikan.

Dalam kunjungan diplomatik ini, Prof. Soenarjo datang ke Universitas Kairo (Jāmi’ah al-Qāhirah). Pilihan ini bukan tanpa konteks. Banyak tokoh yang terlibat dalam proses pendirian PTAIN Yogyakarta, termasuk Abdul Kahar Muzakkir (1907-1973), Mukhtar Yahya (1907-1996), hingga Mohammad Rasjidi (1915-2001), adalah alumni Fakultas (kulliyyah) Dārul ‘Ulūm di kampus tersebut. Kemungkinan besar, pilihan ini adalah rekomendasi dari tokoh-tokoh tersebut.     

Di Universitas Kairo, Prof. Soenarjo meminta seorang ustādz di kampus tersebut untuk mengajar sejarah dan peradaban Islam di lembaga pendidikan tinggi Islam pertama di Indonesia yang ketika itu baru saja berumur dua tahun. Dr. Syalabī sendiri adalah salah satu staf pengajar di Fakultas Darul ‘Ulum, Universitas Kairo. Ia merupakan pakar sejarah Islam yang menempuh pendidikan di al-Azhar dan Universitas Kairo Mesir, London University, hingga Cambridge University, Inggris. Dalam kesaksiannya, pihak Universitas Kairo bersama dengan Fakultas Dārul ‘Ulūm ketika itu telah memberikan persetujuan terhadap permintaan Prof. Soenarjo dan mengeluarkan surat keputusan sebelum ia pulang untuk mengkomunikasikannya kepada pemerintah Indonesia.

Hanya saja, sebuah gejolak politik di Mesir pada tahun 1954 membuat Dr. Syalabī diberhentikan dari Universitas Kairo. Hal ini terkait dengan pembentukan rezim politik baru di Mesir di bawah Jamāl ‘Abd al-Nāṣir yang kemudian mengintervensi universitas. Pada September 1954, sebuah keputusan dikeluarkan oleh rezim tersebut untuk memecat para profesor di universitas yang menyuarakan wacana-wacana yang dianggap kontra-revolusi. Pemecatan Ahmad Syalabī sendiri, menurut Antoon de Baets, terjadi pada September 1954 sehubungan dengan sikapnya yang dianggap simpatik terhadap Ikhwān al-Muslimīn dan bersikap kritis terhadap militerisasi rezim di Mesir (Baets: 2002, 193). Di akhir tahun yang sama, surat keputusan resmi dari pemerintah Indonesia baru saja terkirim ke Kairo. Akan tetapi, perubahan kepengurusan Universitas Kairo menyebabkan rencana kerjasama tersebut menjadi terbengkalai untuk beberapa waktu.

Sekeping Cerita di Sela-Sela Konferensi Asia-Afrika

Di tahun berikutnya, Konferensi Asia-Afrika (KAA) digelar di Bandung, Jawa Barat, pada 18-24 April 1955. Di sela-sela konferensi, datanglah sekelompok delegasi dari ulama Indonesia yang ingin bertemu dengan Jamāl ‘Abd al-Nāṣir, presiden Mesir ketika itu yang juga hadir di acara monumental tersebut. Delegasi yang menemui presiden Mesir tersebut tidak secara detail dijelaskan oleh Dr. Syalabī. Kemungkinan besar, mereka adalah tim dari Departemen Agama yang juga terkait dengan aktivitas di PTAIN Yogyakarta yang mengeksekusi misi diplomatik yang telah dibuka oleh Prof. Soenarjo beberapa bulan sebelumnya. Dalam pertemuan tersebut, perwakilan delegasi mengkonfirmasi ulang persetujuan untuk mengutus Dr. Syalabī ke Indonesia dalam rangka membantu pengembangan universitas Islam yang baru saja berdiri, dalam hal ini PTAIN Yogyakarta. Sang presiden sedikit heran dan menyayangkan hal tersebut. Ia  kemudian memanggil menterinya dan mengintruksikan secara langsung untuk membawa Dr. Syalabī ke Indonesia sesegera mungkin. 

Ketika itu, aparat kepolisian segera menghubungi Dr. Syalabī untuk secepatnya pergi ke Indonesia sebagai perintah presiden yang tak dapat dibantah (amr al-ra’īs alladzī lā yunāqasyu). Pada Juli 1955, ia pun menempuh perjalanan ke Indonesia. Uniknya, Jamāl ‘Abd al-Nāṣir tidak segera menyadari bahwa orang yang ia perintahkan untuk segera datang ke Indonesia justru merupakan salah satu tokoh yang dipecat oleh rezimnya sendiri. Dalam catatan Dr. Syalabī, sang presiden marah besar ketika ia menyadari fakta tersebut, meskipun semua sudah terlambat. Dalam posisinya ketika itu, ia mendeskripsikan perjalanan tersebut sebagai “jalan keluar dari pengekangan dan kecemasan” (khurūjan min al-‘iqāl wa al-qalaq).

KAA Bandung, dalam hal ini, menjadi salah satu titik temu penting antara sejarah PTAIN Yogyakarta dan perjuangan dekolonisasi Asia-Afrika pada pertengahan 1950-an. Pertemuan antara delegasi Indonesia dan Jamāl ʿAbd al-Nāṣir di sela-sela konferensi menunjukkan bahwa proyek pengembangan PTAIN tidak berdiri sendiri sebagai agenda pendidikan domestik, melainkan terhubung dengan jaringan diplomasi, solidaritas sekaligus ketegangan politik, dan pertukaran intelektual Indonesia-Mesir yang sedang menguat dalam dunia pasca-kolonial. Dari momentum inilah misi yang sebelumnya dirintis Prof. Soenarjo dieksekusi secara nyata. Hal ini membawa Dr. Syalabī ke Indonesia pada Juli 1955 untuk turut membangun kampus Islam yang baru saja berdiri.

Bertolak ke Indonesia 

Selama perjalanan dari Mesir ke Indonesia, Dr. Syalabī sendiri tidak mengetahui detail penugasannya dengan jelas. Hanya saja, ia tetap bertekad melakukannya sebagai jalan terbaik di tengah gelombang kecemasan, penangkapan, dan cerita siksaan para tahanan di negaranya. Di pesawat, ia mulai membaca brosur yang memuat informasi terkait Indonesia. Tak lupa, ia juga menuliskan daftar nama-nama orang Indonesia yang pernah belajar di al-Azhar dan Fakultas Darul ‘Ulum Universitas Kairo, serta nama tokoh Indonesia lain yang terkenal, sebagai persiapan untuk bekerjasama dengan pihak Indonesia.

Di antara nama-nama yang ia catat adalah sebagai berikut:

1. Muhammad Adnan

2. Abdul Kahar Muzakkir

3. Muhammad Salim Fakhri

4. Tahir Abdul Majid

5. Kahrudin Yunus

6. Abdul Mu’ti ‘Ali

7. Mukhtar Yahya

8. Muhammad Rasyidi

9. Farid Ma’ruf

10. Mahmud Yunus

11.   Bustami ‘Abdul Ghani

12.   Hamka

13.   Muhammad Hasbi al-Shiddiq

14.   Muhammad Nur ‘Asyiq   

Sebagian dari nama-nama ini terlibat dalam proses pendirian dan pengembangan PTAIN Yogyakarta, termasuk Abdul Kahar Muzakkir, Muhammad Adnan, Mukhtar Yahya, dan Muhammad Hasbi al-Siddiqi. Muhammad Rasyidi dan Abdul Mu’ti Ali juga merupakan staf pengajar di kampus Islam negeri yang baru saja berumur empat tahun itu.

Selain itu, ia juga membawa serta kamus Arab-Indonesia dan buku pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai modal awalnya untuk berinteraksi dengan orang-orang yang akan ia temui di sana. Ia mendarat di Jakarta dan langsung disambut dengan hangat oleh para penjemput. Ia menghabiskan waktu selama satu minggu di Jakarta, kota yang ia sebut sebagai “ibu kota politik” (al-‘āṣimah al-siyāsiyyah) di Indonesia. Selama di sana ia merasakan keramahan yang luar biasa dan beberapa pemikir Muslim dari berbagai daerah datang menemuinya di hotel tempat ia menginap. Dengan fasilitas dari Kementerian Agama, ia juga berkeliling ke kota-kota sekitar Jakarta termasuk Bandung dan Bogor dengan ditemani oleh Muhammad Nur ‘Asyiq. Dalam perjalanan inilah Ahmad Syalabī merasa seolah ia berada di dunia yang berbeda dari apa yang pernah ia kenal. Dalam hal ini, ia mengekspresikan kesannya terkait Indonesia sebagai “surga hijau, musim semi abadi, keindahan yang meliputi segalanya, pemandangan yang memikat” (jannah khaḍrā’, rabī’uhā dā’im wa jamāluhā syāmil wa manāziruhā fātinah).

Setelah seminggu di Jakarta, Dr. Syalabī berangkat ke Yogyakarta, kota yang ia sebut sebagai “ibukota pemikiran” (al-‘āṣimah al-fikriyyah) dan “kota universitas” (al-madīnah al-jāmi’iyyah). Selama sepuluh jam perjalanan dengan kereta api, ia menyaksikan pemandangan yang hijau sepanjang jalan. Sesampainya di Yogyakarta, ia langsung disambut oleh sekelompok dosen dan mahasiswa yang bersuka cita atas kedatangannya di kota tersebut. Ia diantar menuju hotel terbesar di kota itu untuk tinggal di sana hingga rumah khusus yang disiapkan untuknya siap ditempati. Dalam catatannya, Dr. Syalabī melukiskan bagaimana ia merasakan antusiasme yang tinggi dan tumpuan harapan yang ditumpahkan kepadanya untuk pengembangan kajian Islam di kampus Islam yang baru saja berdiri. Ia pun semakin termotivasi untuk mendedikasikan diri dalam pengembangan keilmuan PTAIN Yogyakarta. Selama di Yogyakarta, ia tinggal di sebuah rumah yang berlokasi di Jl. Sagan No. 20. Di rumah inilah ia  memulai sebuah perjalanan akademik baru selama enam tahun ke depan di Yogyakarta.   

…. bersambung         

Referensi

Baets, Antoon de. Censorship of Historical Thought: A World Guide, 1945-2000. London: Greenwood Press, 2002.

Syalabī, Ahmad. Riḥlah Ḥayāh: Tajribah, Ta’arruḍ, Majmū’ah min Qaḍāya al-Ḥadārah al-Islāmiyyah. Kairo: Maktabah al-Nahḍah al-Misriyyah, 1982.

Machasin, "Prof. Mr. R.H.A. Soenarjo", dalam IAIN Sunan Kalijaga. Lima Tokoh IAIN Sunan Kalijaga. Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga, 2000. 

Share this Post

Share

Leave a comment