Tindakan Manusia dibentuk oleh Karakter (Quetion atas Al-Tafkīr al-Falsafī Laday Fakhruddin Al-Rāzī)
Tindakan
Manusia dibentuk oleh Karakter
(Quetion
atas Al-Tafkīr al-Falsafī Laday Fakhruddin Al-Rāzī)
Oleh. Asrul
Kitab ini mengkaji pemikiran filsafat Al-Razi. Terkait
dengan akhlak, penulis menjabarkan pandangan Al-Razi tentang satu diantara lima
penyebab lahirnya tindakan manusia. Menurut Al-Razi, karakter menjadi poin
pertama yang mempengaruhi tidakan manusia.
Al-Razi membagi martabatul maujudaat menjadi empat
kelompok; [1] Malaikat; memiliki akal dan hikmah, namun tidak memiliki syahwat
dan tabi’at. [2] Hewan; tidak memiliki akal dan hikmah, sebaliknya memiliki
syahwat dan tabi’at. [3] Benda mati dan tumbuh-tumbuhan; tidak memiliki
keempat potensi tersebut (akal, hikmah,
syahwat, dan tabiat). [4] Manusia; memiliki keempat potensi tersebut
(akal, hikmah, syahwat, dan tabiat).
Dilihat dari potensi bawaannya, manusia memiliki peluang
besar berakhlak baik, sekaligus berakhlak buruk.[1]
Hal tersebut telah diisyaratkan dalam Qs. Al-Baqarah [2]: 30. Manusia
berpotensi melakukan kerusakan (al-fasad; syahwat) dan membunuh (yasfiq
al-dima’; al-ghadab). Sedang akal diisyaratkan oleh “maa laa ta’lamuun”.
Akal berfungsi untuk mendorong lahirnya perbuatan baik (al-khair). Perpaduan
antara syahwat, ghadab, dan akal pada diri manusia membuatnya berada pada garis
yang fluktual, sekali waktu berakhlak baik, sekali waktu jahat. Manusia yang
memaksimalkan potensi akal lebih banyak berbuat baik dibanding berbuat jahat.[2]
Menurut Al-Razi, akhlak merupakan hasil dari analisa akal
(fi’l al-aql). Berbeda dengan Ibn Arabi –meski sama-sama Asy’ari – yang
menganggap akhlak bersifat teologi (al-ilahiy). Bagi Al-Razi, ada empat
kategori akhlak berdasarkan analisa akal, yaitu; [1] perilaku yang disukai akal
namun dibenci oleh syahwat, [2] perilaku yang disukai syahwat namun dibenci
oleh akal, [3] perilaku yang tidak disenangi akal dan syahwat, dan [4] perilaku
yang disenangi oleh akal dan syahwat.[3]
Menurutnya, akal yang merupakan bagian dari jiwa
(al-nufus), dinilai berdasarkan perilaku yang menjadi kebiasannya. Al-Razi
membagi akal manusia menjadi tiga kategori; akal yang dipenuhi dengan akhlak
mahmudah, akal yang jauh dari akhlak mahmudah, dan akal dipenuhi dengan
kejahilan. Menurut Al-Razi, cinta berlebih-lebihan pada harta merupakan
penyebab akal dipenuhi perilaku jahil.[4]
Terkait potensi jiwa, Al-Razi menyebut bahwa akhlak
manusia dipengaruhi oleh potensi jiwa; potensi berpikir (quwwah nuthqiyah),
potensi ghirah (quwwah ghadhabiyah), dan potensi menyukai (syahwaaniyah).
Ketiga potensi inilah yang menentukan posisi (martabatul insan) diantara
makhluk lainnya.[5]
Adapun syahwat, menurut Al-Razi, akhlak manusia juga dipengaruhi oleh cara merespon makanannya. Menurutnya, dari aspek makanan, al-maujuudaat terbagi menjadi tiga; [1] Malaikat, menyenangi sesuatu yang baik dan lezat, meski mereka tidak butuh pada yang kelezatan. [2] Hewan, memakan makanan yang kasar dan tidak merasa tersakiti dengan keadaan tersebut. [3] Manusia, sekali waktu memakan makanan yang lezat dan sekali waktu memakan makanan yang kasar, tidak bergizi.[6] Jika dorongan syahwat manusia terlampau berlebihan terhadap makanan, manusia cenderung melakukan perbuatan jahat demi memperoleh makanan yang diinginkannya (Asr).
[1] H. 491 merujuk
pada Kitab nafs wa ruh, hlm.3-4
[2] H. 491 merujuk
pada kitab nafs wa ruh hlm.4-5
[3] H. 489 merujuk
pada tafsir Al-Kabir, Juz 2, h. 185
[4] H. 490 merujuk pada
Ma’alim Ushuluddin, hlm. 114 dan Lubab al-Isyarat hlm. 180
[5] H. 491 merujuk
pada mathalib al-Aliyah, Juz.7 hlm. 150
[6] H. 492 merujuk
pada kitab nafs wa ruh hlm. 9-12
Leave a comment