Cara Gampang Menemukan ‘Novelty’ dalam Riset Studi Islam
Ketika saya cerita ke pembimbing tentang seorang mahasiswa di Indonesia yang tertarik meneliti tesisnya tentang bahasa al-Quran, dia cuma senyum tipis. Mungkin dia merasa terhormat, tapi mungkin pula dia merasa itu hal yang kurang tepat. Apapun itu, dia cepat-cepat menimpali,
"Kalau mau neliti, carilah manuskrip. Semua kebaruan ada di manuskrip"
Bagi saya, sabda beliau ini perlu diperhatikan baik-baik. Utamanya bagi peneliti Islam di Indonesia. Sebab di tanah air beta, klaim-klaim besar tentang apa yang terjadi dalam sejarah intelektual Islam sering kali muncul. Orang senang sekali dengan 'narasi besar' yang bisa menjelaskan semua hal. Untuk menjadi pemikir atau akademisi masyhur, cukup dengan membuat sebuah "theory of everything" yang bisa menjelaskan apa yang dulu terjadi dalam pemikiran Islam. Dan jika mau lebih masyhur lagi, tariklah teori itu hingga dia juga bisa menjelaskan apa yang saat ini terjadi. Itulah mengapa "the decline theory" dan "blaming al-Ghazali" populer sekali. Begitu juga teori sapu jagat yang ingin menyanggah kedua teori itu. Pasti akan terkenal juga.
Pahadal, data sejarah intelektual Islam itu baru seujung uprit yang bisa diakses. Supaya tidak berlama-lama, berikut saya kutipkan sabda Josef van Ess, begawan yang setelah mengubek-ubek sekian manuskrip untuk menulis magnum opusnya "Theology and Society" masih mengeluhkan ini,
"Kita memiliki sekitar dua juta manuskrip Arab atau Persia di dunia. Hanya di Istanbul saja terdapat lebih dari 500.000 manuskrip. Hanya sebagian kecil dari teks-teks tersebut — mungkin enam atau tujuh persen — yang sudah dikenal dan dicetak. Dari sisanya, Anda mungkin hanya mengetahui beberapa judul jika cukup sabar untuk membaca katalog-katalog. Namun banyak judul karya yang bahkan tidak diketahui, apalagi isinya."
Van Ess menyebutkan itu di sebuah kolokium sekian dekade lalu. Tapi saya yakin estimasinya ini masih berlaku. Apalagi jika sabda ini disandingkan dengan testimoni JJ. Witkam, kuncennya perpustakaan Leiden, yang pernah bilang kalau produk budaya tulis berbahasa Arab tradisional (artinya dari zaman pra modern), adalah kumpulan tulisan terbesar di dunia. Dengan kata lain, jumlah buku yang pernah ditulis dalam bahasa Arab sebelum masa cetak, dan masih tersisa hingga kini melebihi jumlah dokumen dalam bahasa apapun sejagad bumi ini. Padahal itu baru bahasa Arab dan Persia, lho. Apalagi jika bahasa Islamicate yang lain juga dihitung, yang juga memiliki tradisi manuskripnya sendiri. Sebuah buku tentang tradisi manuskrip Asia Tenggara (dengan kata lain, Islam Nuswantoro) baru saja memenangkan penghargaan tahun lalu atau mungkin dua tahun lalu.
Sebagai studi kasus, mungkin apa yang terjadi dalam studi Tafsir mungkin bisa jadi gambaran. Samuel Ross beberapa waktu lalu, bersama timnya di Universitas Kristen Texas melakukan survei bio-bibliografi besar-besaran untuk melihat tafsir yang paling banyak muncul dalam jejak manuskrip. Hasilnya adalah Tafsir al-Baidhawi dan tradisi syarahnya. Tapi yang ingin saya garis bawahi bukan itu, tapi keterangannya bahwa dari kira-kira 2700 judul tafsir yang diketahui pernah ada, dan selamat dalam bentuk manuskrip, hanya 300 judul yang sudah dicetak. Itupun, proses percetakannya melalui seleksi ideologis dan mungkin pertimbangan ekonomi institusi-institusi di Timur Tengah. Dan itu baru tafsirnya, belum hasyiah, mukhtasar, dan turunan-turunan lain dari sebuah judul.
Nah, bayangkan dengan kenyataan seperti itu, apakah kita bisa membuat sebuah klaim besar tentang sejarah tafsir semisal "tafsir pra-modern bersifat atomistik bla bla bla .... sehingga butuh tafsir baru ... sehingga hermeneutika dst dslb." Padahal yang 300 itu saja belum tentu sudah disurvey dengan serius.
Maka, untuk menjawab pertanyaan di judul tulisan ini, saya kutipkan lanjutan dari sabda Van Ess, “Karena itu, Arabic studies itu gampang-gampang susah. Susah, karena bahasa Arab memang menuntut ketekunan dan harus dipelajari dengan benar. Namun pada saat yang sama, ia menjadi mudah: setelah Anda menguasainya, Anda cukup pergi ke Istanbul, mengambil manuskrip apa pun, mencoba membacanya, lalu menulis sebuah artikel berjudul ‘Ini saya bacakan kepada anda isi manuskrip A…’ Done!”
Mungkin kita bisa jawab balik, "Lha sampean enak, mbah Van Ess, hidup di Eropa duitnya Euro kalo nggak dollar. Bisa plesiran kemana-mana nyari manuskrip di perpus-perpus di Istanbul sampai Padang. Lha.. saya yang cuma dosen dengan gaji rupiah? Untuk itu, mungkin pelipur lara dan motivasi kita adalah ini: sejumlah manuskrip-manuskrip itu kini sudah didigitalisasi, pintar-pintar saja cari jalannya. Ada banyak yang sudah bisa diakses dengan modal kuota atau wifi gratis saja. Ataupun jika ingin modal dikit, perpustakaan yang menyimpannya pun sudah banyak yang mau mengirimkan fotonya asalkan harganya cocok.
Leave a comment