Foto oleh Galih Pusantoro

Hari Ini Menjadi Lektor: Mengucap Sumpah dan "Sentilan" Hangat dari Rektor

Hari ini, Selasa 29 September 2026, menjadi salah satu tonggak penting yang mungkin tidak akan saya lupakan. Tepat hari ini, saya mengikuti pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan pertama untuk Jabatan Akademik Lektor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Mengingat kembali momen saat mengucapkan sumpah tadi, rasanya campur aduk. Ada rasa syukur, bangga, tapi di saat yang bersamaan, ada beban tanggung jawab yang rasanya langsung nangkring di pundak.

Setelah prosesi pengambilan sumpah selesai, Bapak Rektor, Prof. Dr. Noorhaidi, memberikan pengarahan. Dan jujur saja, arahan beliau hari ini benar-benar menjadi "tamparan" sekaligus suntikan energi yang luar biasa buat kami.

Beliau mengawali dengan ucapan selamat dan doa agar jabatan ini membawa berkah. Namun, kalimat-kalimat berikutnya langsung bikin kita semua standby. Beliau mengingatkan bahwa sumpah jabatan yang baru saja kami ucapkan itu mengandung konsekuensi yang tidak main-main. Kami diminta untuk benar-benar mempelajari peraturan perundang-undangan dalam bekerja, mematuhi etika jabatan, dan yang paling ditekankan: tidak menyalahgunakan wewenang sebagai dosen sampai akhir masa tugas nanti.

Bukan Sekadar Dosen Status

Satu hal yang paling menancap di ingatan saya adalah ketika Prof. Noorhaidi menegaskan, "Jadi dosen jangan hanya status." Beliau meminta kami untuk menjalani hidup sebagai akademisi sejati, sebagai peneliti yang mengajar. Kami dituntut untuk bekerja sungguh-sungguh sebagai produsen pengetahuan, bukan malah terjebak pada hal-hal administratif.

Sebagai dosen, kita tidak hanya dituntut untuk taat aturan, tapi juga harus bisa menunjukkan kinerja yang optimal dan maksimal. Jangan sampai kita ini cuma jadi dosen by administrative and bureaucratic semata. Dan percayalah, beliau bilang begini: "Bagaimana Anda mencapai karir sebagai dosen? Rektor akan menyaksikannya." Mendengar kalimat ini, rasanya pengen langsung buka laptop dan nulis paper saat itu juga. 😅

Realita Dunia Akademik Global

Di momen pengarahan ini pula, Pak Rektor memberikan reality check yang bikin merinding. Beliau bilang kalau lulusan S2 itu ibaratnya baru "setengah matang". Di luar negeri, lulusan S2 bahkan sudah tidak diperkenankan mengajar. Scholar yang sesungguhnya itu ya mereka yang sudah lulus S3. (Alhamdulillah... aman ini udah  S3, Prof. Hehe).

Beliau juga membandingkan iklim akademik kita dengan kampus-kampus top dunia. Di NUS (National University of Singapore), misalnya, untuk survive seorang akademisi itu idealnya harus punya 5 buku dan 100 paper. Belum lagi cerita soal di Jerman, di mana hanya ada 1 profesor di masing-masing bidang. Kalau sang profesor pensiun, posisi itu akan dibuka lewat lelang terbuka untuk seluruh dunia. Persaingannya tingkat dewa!

Oh ya, ada satu sentilan menarik juga dari beliau soal riset. Beliau mengingatkan bahwa dana riset yang tinggi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan dampak riset yang dihasilkan. Ini jadi semacam alarm buat saya pribadi, bahwa esensi dari meneliti itu adalah dampak nyata dan kontribusinya, bukan sekadar kebanggaan mendapat nominal hibah yang besar.

Misi Ke Depan

Pengarahan hari ini benar-benar meruntuhkan rasa cepat puas. Rasanya baru kemarin saya nulis cerita soal masa-masa awal jadi umbies CPNS yang polos dan ngerepotin teman-teman tendik dan WD, eh sekarang sudah dilantik jadi Lektor. Tapi arahan Pak Rektor hari ini menyadarkan saya bahwa jalan masih sangat panjang.

Saya jadi ingat prinsip yang selalu saya pegang semenjak masuk ke kampus ini. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu punya nama besar. Kita—saya dan teman-teman kolega dosen lainnya—nggak bisa hanya diam mengambil privilese untuk berada di bawah nama besarnya. Kita harus punya andil dan turut membesarkan nama UIN.

Misi saya ke depan sebenarnya tetap nggak muluk-muluk, tapi targetnya jelas makin harus ditingkatkan. Saya ingin, ketika orang-orang di luar sana (terutama kolega dosen dan scholar lain) membaca tulisan atau melihat riset dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mereka bisa melihat kontribusi nyata dari nama-nama kita di dalamnya. Ya, semoga saya bisa terus berproses, tidak hanya sekadar dosen by status, tapi benar-benar scholar yang memproduksi pengetahuan.

Selamat merayakan tanggung jawab baru. Tetap solid dan semangat berkarir ya, man-teman Kalijaga Muda! 💪😄

Share this Post

Share

Leave a comment