| 0 Comments | 183 Views
Minggu depan, tepatnya Jumat 21 Agustus 2026 mahasiswa KKN akan ditarik dari lokasi penempatan. Bagi mahasiswa, ini tentu menjadi salah satu momen yang ditunggu-tunggu: kembali ke kampus, menyelesaikan laporan, dan mungkin mulai merapikan dokumentasi selama tinggal di masyarakat.
Bagi saya yang bertugas sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), penarikan bukan sekadar acara seremonial. Ada satu pekerjaan penting yang perlu dilakukan sebelum mahasiswa benar-benar meninggalkan lokasi: evaluasi.
Selama KKN, saya sudah melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala, setidaknya 3 kali ke lokasi KKN. Saya juga menggali informasi dari perangkat kalurahan, dukuh, maupun masyarakat mengenai bagaimana mahasiswa menjalankan programnya. Namun, ada satu perspektif yang selama ini belum terlalu banyak masuk dalam penilaian: perspektif sesama mahasiswa. Karena itu, pada responsi KKN kali ini saya mencoba menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda.
Mengapa mahasiswa perlu menilai mahasiswa lain?
Dalam sebuah tim yang beranggotakan sekitar 10 mahasiswa, saya yakin setiap orang memiliki cerita yang berbeda. Ada mahasiswa yang terlihat sangat aktif karena sering menjadi MC, mengisi kegiatan masyarakat, atau tampil dalam berbagai acara. Ada pula yang tidak terlalu terlihat, tetapi setiap hari mengurus administrasi, dokumentasi, desain, komunikasi, logistik, atau berbagai pekerjaan "di balik layar".
Ada yang menjadi penggerak tim. Ada yang sangat baik ketika diberi tugas. Ada yang baru bergerak ketika diminta. Ada juga yang mungkin memiliki kontribusi besar, tetapi tidak banyak diketahui oleh DPL. Karena itu, penilaian dari DPL saja tentu tidak cukup. Saya ingin mencoba melihat kinerja mahasiswa dari 360 derajat. Artinya, penilaian tidak hanya datang dari satu arah, tetapi dari beberapa perspektif:
DPL + perangkat kalurahan/dukuh + masyarakat + sesama mahasiswa.
Penilaian teman sebaya (peer assessment) menjadi salah satu cara untuk mendapatkan perspektif tersebut. Tentu saja, saya tidak menganggap penilaian teman sebaya sebagai sesuatu yang sepenuhnya objektif. Namanya juga manusia, bisa saja ada faktor kedekatan, konflik, atau preferensi pribadi. Justru karena itu, hasilnya tidak akan berdiri sendiri.
Data dari teman sebaya akan saya gunakan bersama dengan hasil monitoring DPL dan informasi dari pihak lain. Dengan demikian, saya berharap penilaian akhir tidak bergantung pada satu sumber saja.
Sekalian mengevaluasi DPL
Bagian yang menurut saya tidak kalah penting adalah evaluasi terhadap DPL. Kalau mahasiswa diminta mengevaluasi teman-temannya, rasanya kurang adil kalau DPL hanya berdiri sebagai orang yang menilai. DPL juga perlu dinilai. Karena itu, dalam formulir ini mahasiswa juga saya minta memberikan evaluasi terhadap pembimbingan yang saya lakukan.
Data bukan untuk mencari siapa yang paling buruk
Ada satu prinsip yang ingin saya pegang dalam menggunakan hasil responsi ini. Instrumen ini bukan alat untuk mencari siapa yang paling buruk. Tujuan utamanya adalah memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang dinamika tim. Bisa jadi hasil penilaian menunjukkan bahwa seorang mahasiswa sangat kuat dalam aspek tertentu, tetapi kurang dalam aspek lainnya.
Bisa juga muncul perbedaan menarik antara penilaian DPL dan penilaian teman sebaya. Misalnya, DPL menilai seseorang biasa saja, tetapi teman-temannya justru melihat kontribusi besar yang tidak terlalu terlihat oleh DPL. Atau sebaliknya. Perbedaan semacam itu justru menarik untuk dianalisis.
Di situlah konsep 360-degree feedback menjadi berguna. Bukan untuk mencari satu angka yang dianggap paling benar, tetapi untuk melihat seseorang dari berbagai perspektif.
Formulir Responsi KKN
Silakan mengisi formulir di bawah ini, sesuai dengan lokasi KKN. Formulir Responsi akan otomatis tertutup pada Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 23.59 WIB.
Penutup
Saya tidak tahu apakah model responsi seperti ini akan menghasilkan penilaian yang "sempurna". Kemungkinan besar tidak.
Setiap metode memiliki keterbatasan. Penilaian teman sebaya tetap bisa dipengaruhi subjektivitas. Penilaian DPL pun tidak bebas dari keterbatasan karena DPL tidak mungkin melihat semua aktivitas mahasiswa selama 24 jam sehari. Tetapi setidaknya, dengan menggabungkan beberapa sumber informasi, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih kaya.
Bagi mahasiswa, mudah-mudahan responsi ini juga menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat kembali perjalanan mereka selama KKN:
- Apa yang sudah saya kontribusikan?
- Apa yang sudah saya pelajari?
- Apa yang masih perlu saya perbaiki?
Dan bagi saya sebagai DPL, ada pertanyaan yang tidak kalah penting:
Apakah selama ini saya sudah benar-benar membantu mahasiswa, atau hanya merasa sudah membantu?
Karena pada akhirnya, pembimbingan bukan hanya tentang bagaimana DPL menilai mahasiswa. DPL juga perlu bersedia dinilai.
Leave a Comment