| 0 Comments | 134 Views
Jadi ceritanya, mulai hari Senin sampai Jumat dalam minggu ini (10-14 November 2025), Center for Teaching Staff Development (CTSD) menyelenggarakan acara workshop Induksi Dosen yang diperuntukkan bagi dosen baru. Saya, termasuk salah satunya. Acara ini saya yakin bakal seru dan bakal dapet banyak insight baru dalam mengelola kelas. Makanya, saya tulis di sini biar ga lupa dan sewaktu-waktu bisa saya baca ulang.
Apa sih itu Induksi Dosen?
Kalau mendengar kata induksi, memang otomatis terngiang tentang proses persalinan kan ya? 😆 Tapi, kalau kita ingat-ingat lagi, induksi juga pernah kita denger zaman SD tuh. Tentang bagaimana kita bisa membuat magnet baru dengan cara mendekatkan besi ke magnet. Nah, ini mirip-mirip itu. Jadi, dosen-dosen baru itu ceritanya mau diupgrade biar jadi dosen pro dengan cara belajar langsung dari dosen-dosen yang udah level pro pastinya.
Oke, lalu agendanya ngapain aja? Acaranya memang seharian full, dari pagi sampai sore. Kita spill satu-satu ya..
Kampus Berdampak ala Kemdikbudristek
Pagi sampai dhuhur kami dengerin paparan Prof. Anton, Ketua LPPM-nya UAD. Beliau mengupas tentang Kampus Berdampak (programnya Kemdikbudristek nih), SDG's, bedanya dengan Kampus Merdeka (era Nadiem), 3 pilar perguruan tinggi (kolaborasi mahasiswa, alumni, dan dosen), kompetensi transformatif dosen, dan beberapa pengalaman beliau ngerjain proyek riset bareng mahasiswa. Itu sih yang nempel di otak saya.
Prof. Anton juga menawarkan beberapa skema proyek riset yang bisa di-apply, tapi ya itu sayangnya kami beda server, Prof. Kami di bawah Kemenag. Saya sudah cek beberapa panduan program yang ditawarkan, dan itu hanya untuk PT di bawah binaan Kemdikbudristek. PKM sampe Semesta mana kita bisa daftar. 😅
Saya bersaksi bahwa apa yang disampaikan Prof. Anton itu benar terkait:
"beberapa program itu memang modelnya pemerataan"
jadi memang tidak selalu dipilih yang the best. Biar ga timpang, biar ga kandidat dari Jawa aja yang selalu menang. Prof. Anton juga bilang kalau pernah bimbing PKM mahasiswa dengan dana hanya 12 juta bisa bikin produk keren. Saya pernah bimbing mahasiswa ikut Program Hibah Bina Desa, tapi kok agak beda pengalamannya. hehe. Pagu anggaran programnya 50 juta, kami dapet 35-an juta. Tapi dari saya nyimak paparan saat final PHBD, faktanya banyak output program kampus-kampus gajah itu yang (dalam taksiran saya) pendanaannya bisa 3-4 kali lipatnya pagu (dengan sokongan kampus tentunya). Maksud saya, okay dana di RAB maksimal 50 juta, tp di luar RAB ternyata ada dana lain yang bisa mendongkrak program sampai ke level ultimate. wkwkwwk. Saya langsung tanyakan ini ke panitianya, dan mereka ga bisa kasih jawaban yang memuaskan. Dan itu jadi momen yang pas buat bilang dunia itu ga adil. 😂
Prof. Anton juga mengajak kami untuk membangun tim riset yang dimulai dengan kolaborasi dengan mahasiswa. Nah, untuk ajakan yang terakhir ini temen-temen Kemenag memang harus banyak belajar sih menurutku. Saya juga sudah mulai menginisiasi. Mudah-mudahan dalam 3 tahun punya tim riset yang mapan. Bismillah...
Siangnya, kami langsung dibagi ke kelompok (sekitar 30-an orang per kelompok). Kebetulan kelas kami diplot dengan fasilitator Prof. Munthe dan Dr. Adib. Wah.. bakal seru nih (denger nama fasilitator sebelum masuk kelas aja udah bikin ekspektasi keseruan workshop langsung naik).
Teaching Filosofi
Dalem ini pembahasannya. Setelah perkenalan, kita diminta untuk menjawab 10 pertanyaan pada lembar yang telah disediakan. Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang sebenernya wajib kita renungkan sebelum kita menginjakkan kaki kali pertama masuk kelas. Pertanyaan-pertanyaannya seperti:
- apa makna mengajar menurutmu?
- bagaimana cara Anda menyusun materi perkuliahan?
- bagaimana cara Anda menilai mahasiswa dan memastikan prinsip keadilan (fair) tetap terjaga?
Kami cuma dikasih waktu 1 menit untuk masing-masing soal tersebut.
SNPT, KKNI, dan PMPT
Trikonsep utama nih yang perlu kita pahami sebelum bahas tentang perkuliahan dan lain-lain. Karena kami dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok diminta eksplorasi ketiga konsep tersebut. Apa definisinya, bagaimana ketiganya berhubungan, dan apa keterkaitannya dengan perkuliahan. Ya karena memang workshop induksi dosen ini akan banyak berbicara tentang pembelajaran.
SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi)
KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia)
PMPT (Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi)
- KKNI: Kerangka penjenjangan kualifikasi SDM nasional.
- SNPT: Standar minimal yang harus dipenuhi perguruan tinggi.
- PMPT: Proses untuk memastikan standar tersebut terpenuhi dan mutu terus meningkat.
Setelah ngobrolin tentang tiga konsep di atas kemudian kami membahas tentang peta konsep. Pernah denger kan ya? Ilustrasi, diagram mirip mind map yang biasanya muncul di bagian awal buku-buku teks pelajaran.
Peta Konsep dalam Pembelajaran
Peta konsep atau concept map itu representasi visual yang gambarin hubungan antar konsep penting dalam suatu domain pengetahuan. Istilah ini dikenalkan (menurut literatur) oleh Joseph Novak tahun 1970-an yang sebenarnya dirancang untuk membantu mahasiswa atau peserta didik mengorganisasi pengetahuan mereka secara bermakna. Nah, kalau dalam konteks, perkuliahan peta konsep ini bisa membantu kita untuk:
- mengidentifikasi konsep-konsep kunci dalam sebuah topik
- menunjukkan hierarki dan juga keterkaitan antar konsep
- memvisualkan struktur pengetetahuan dengan cara yang sistematis
- memfasilitasi pembelajaran bermakna (meaningful learning)
Kalau dilihat sekilas, secara visual mirip-mirip dengan mind map. Serupa tapi tak sama gitu lah. Perbedaan fundamental di antara keduanya bisa dicermati pada ilustrasi berikut.
Cara membuat peta konsep ala Prof. Munthe
Berikut langkah-langkah yang diajarkan Prof. Munthe untuk membuat peta konsep pada materi perkuliahan kita.
- Brainstorming, bisa dimulai dari riset (cek RPS, buku teks babon, beckmarking RPS kampus sebelah) tentang konsep-konsep kunci apa aja sih yang perlu kita sajikan pada mata kuliah tersebut. Untuk urusan ini, kita sebaiknya juga berdiskusi dengan dosen senior terutama dosen koordinator mata kuliah untuk mendapatkan input yang berkualitas.
- Tentukan 6-8 konsep besar/utama, jangan terlalu banyak kalau bisa. Konsep kunci seringkali mengandung subkonsep. Seleksi item jika memang terlalu banyak konsep yang ditemukan.
- Buat gambar, biasanya berupa kotak yang berisi teks konsep utama. Konsep map ga semeriah mind map dalam hal visual karena memang fokus untuk membuat gambaran besar yang komprehensif dari antar konsep.
- Hubungkan konsep-konsep (panah) istilahnya cross-link untuk menunjukkan relasi antarkonsep.
- Tambahkan label di antara kata kunci untuk menjustifikasi hubungan di antara keduanya. Usahakan gunakan maksimal 2 kata, bisa berupa kata kerja maupun kata benda. Untuk mudahkan dapat menggunakan rumus SPO, S > konsep pertama; P > label (kata kerja); O > konsep kedua.
The Best Part
Jadi di sesi refleksi, Prof. Munthe mengajak kami untuk me-recall apa-apa yang telah dibahas mulai dari teaching filosofi sampai peta konsep. Setelah itu, beliau menyampaikan hasil pembacaannya terkait hasil dari jawaban teaching filosofi kami. Beliau menyampaikan kurang lebih seperti ini:
Pertanyaan nomor 7 yang dimaksud Prof. Munthe adalah terkait bagaimana kita bisa menilai mahasiswa dengan adil. Ya tentunya sebagai pengajar kita perlu menyiapkan instrumen asesmen sesuai dengan tujuan pembelajarannya. Bisa berupa portofolio, ceklis, tes tulis, observasi, rubrik penilaian, dlsb. Agar penilaiannya objektif, kita dapat menggunakan rubrik penilaian. Untuk rubrik penilaian, Anda bisa membacanya di artikel ini.Ya, saya sudah membaca jawaban dari kesepuluh teaching filosofi bapak/ibu. Tetapi, saya tertarik untuk membaca pada jawaban pertanyaan nomor 7. Dari jawaban itu, kalau saat ini dinilai kompetensi bapak/ibu; yang lulus hanya dua orang karena hanya 2 yang menjawab menggunakan rubrik penilaian.
Leave a Comment