| 0 Comments | 27 Views
Kegiatan Sosialisasi Pembelajaran Mahasiswa (SOSSPEM) merupakan agenda penting dalam proses awal mahasiswa baru mengenal lingkungan kampus, baik dari segi akademik, sosial, maupun nilai-nilai yang dijunjung tinggi di UIN Sunan Kalijaga.
Materi yang diangkat dalam SOSPEM yg dilaksankan pd tanggal 25-26 Agustus 2025, salah satunya adalah tentang Relasi Sosial. Materi ini menekankan pentingnya soft skills, terutama dua sikap pokok yaitu empati dan komunikasi. Kedua sikap ini seharusnya menjadi bekal dasar setiap individu, tanpa memandang profesi maupun jabatannya.
Nilai empati dan komunikasi yang dibahas dalam materi ini sesungguhnya juga sangat relevan dengan persoalan manajemen kegiatan kampus, khususnya dalam penggunaan fasilitas bersama seperti gedung dan ruangan. Dengan kata lain, praktik pengelolaan ruang antar fakultas dapat menjadi cerminan sejauh mana Civitas akademika UIN benar-benar menghidupkan nilai soft skills yang disampaikan dalam SOSPEM
Agenda Keprodian
Tahun ini, Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) mendapatkan ruangan di samping Gedung Multi Purpose (MP), yang terletak di depan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Lokasi tersebut mengharuskan mahasiswa baru dan fasilitator menyeberang jalan umum untuk menuju ruang kelas.
Selain itu, akses menuju ruang kelas di samping MP juga ‘kurang’ mendukung. Peserta harus melewati tumpukan sampah yang menimbulkan bau tidak sedap. Kondisi ini jelas mengganggu kenyamanan dan mencederai nilai-nilai yang ingin ditanamkan, khususnya ketika saya menyampaikan materi tentang Ekoteologi. Ada kesan kontradiktif antara teori yang disampaikan dengan realita lingkungan di sekitar lokasi kegiatan.
Agenda keprodian yang melibatkan seluruh mahasiswa baru PBA yg berjumlah 133 orang membutuhkan ruang yang lebih luas. Namun, fasilitas yang disediakan ‘kurang’ memadai sehingga penyampaian informasi kurang efektif, PBA hanya mendapat empat kelas kecil di samping MP, padahal kegiatan penyampaian keprodian ini seharusnya dilakukan dalam satu ruang besar agar lebih tertib dan kondusif.
Ironisnya, Gedung MP yang berada tepat di sebelah lokasi kegiatan sebenarnya kosong hingga pukul 13.00, karena baru akan dipakai oleh FEBI pada waktu tersebut. Namun, mahasiswa PBA justru diarahkan untuk menggunakan selasar. Hal ini menimbulkan kesan bahwa hak mahasiswa untuk memperoleh fasilitas kampus yang layak kurang dihargai. Gedung MP merupakan fasilitas milik UIN yang seharusnya dapat dimanfaatkan bersama secara adil, selama tidak ada benturan jadwal dengan fakultas lain.Situasi ini menjadi refleksi penting, praktik empati seharusnya membuat setiap pihak memahami kebutuhan prodi lain, sementara komunikasi yang baik akan membantu mencari solusi yang adil tanpa merugikan siapa pun.
DengaN demikian, mahasiswa merasa dihargai, kegiatan lebih kondusif, dan nilai-nilai kebersamaan di lingkungan UIN dapat diwujudkan.
Kegiatan Sospem 2025 telah berjalan dengan baik, namun masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu diperbaiki. Refleksi ini menunjukkan bahwa keberhasilan SOSPEM tidak hanya diukur dari lancarnya acara, tetapi juga dari konsistensi dalam menerapkan nilai empati dan komunikasi dalam pengelolaannya. Catatan ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk SOSPEM tahun berikutnya, agar lebih tertib, adil, serta benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan kepada mahasiswa baru.
By. Salah Seorang Fasilitator SOSPEM
Leave a Comment