| 0 Comments | 17 Views
Pohon Pepaya Yang Sedang Menangis
Oleh Erlinda Oktaviani
Pohon
pepaya di sekitar rumahku sedang menangis
karena
daunnya dimakan oleh belalang yang sangatlah rakus.
Tetapi
pohon cengkih di sampingnya tampaklah senang
karena
dirinya tidak pernah diganggu oleh hewan pemakan tumbuhan atau hama itu.
Pohon
pepaya pun merasa iri dengan hal tersebut.
Pohon
cengkih yang sedang senang dengan keadannya,
bertanya
kepada pohon pepaya, "Hai! Pohon pepaya. Mengapa engkau bersedih?".
Pohon Pepaya dengan sedih menjawab: "Hmm, aku sedih. Setiap hari daun-daunku
dimakan oleh belalang yang sangat rakus.
Hidupku
sangatlah tidak beruntung sepertimu, Cengkih.
Aku juga
sangat iri karena engkau tidak pernah diganggu oleh serangga yang rakus dan
hama."
Pohon
Cengkih pun kemudian prihatin dan berkata: "Ya, aku
memang sangat beruntung,
tetapi
ada satu hal yang membuatku sedih. Di mana, saat waktunya panen,
pemilikku
sering mengabaikan waktu tersebut sehingga cengkih-cengkihku menjadi kering
dan
sudah tidak segar seperti sedia kala."
Pada
akhirnya mereka merasakan kesedihan bersama.
Clapar
2, 26 Juli 2026
*Penulis
adalah Siswi SMP 3 Pengasih, Kelas VII
Peserta
Workshop Remaja Putri dari Padukuhan Clapar II, Kalurahan Hargowilis, Kokap,
Kulon Progo DIY
1. Cerita Erlinda Oktaviani digenerate oleh ChatGPT menjadi Quotes Konservasi Alam yang Indah dan menarik sebagai berikut.
2. Cerita Erlinda
Oktaviani digenerate oleh Story Gemini menjadi cerita menarik
berjudul Kidung Hijau dari Bukit Menoreh Selamat menyimak
**Karya cerpen (Cerita Sangat Pendek/Qiṣṣah Qaṣīrah Jiddan) ini adalah Karya Sastra Digital sebagai luaran Wokshop kepenulisan dalam Hilirisasi Riset Melalui Pengabdian Kepada Masyarakat Topik Ekoteologi “Konservasi Alam Melalui Penulisan Sastra Digital Workshop Kepenulisan Sastra Berbasis Alam Clapar 1 & 2”, 26 7 2026.
#Terima kasih KKN 120
UIN Sunan Kalijaga, #Terima kasih LPPM UIN Sunan Kalijaga , #Terima kasih
Masyarakat Clapar I & II Kalurahan Hargowilis
Leave a Comment