Lantai Rumah Mu ke-1

Lantai Rumah Mu ke-1  "al-Muttaqin" 

Oleh Moh. Wakhid Hidayat


Cinta pertamaku dan sujud pertamaku dilantai Rumah Mu, Masyarakat Mangunranan menamainya dengan al-Muttaqin.

Kubuka lembaran Qur'an onlineku, tak seberapa lama sudah kutemukan kalimat indah Nya yang ada kata al-Muttaqin....

Aku Jatuh cinta pada kata " إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ ", tertera at-Taubah ayat 7. "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa",

ucapku lirih meresapi makna terdalamnya.... Ku pejamkan mataku...ku ulangi ayat cinta Nya ini dalam fasih lafal arabnya....

ku Ulangi lagi dan terus ku ulangi lagi. Tentu ini adalah harapan tertinggi hamba...

siapakah yang tidak ingin dicintai oleh Khaliknya...mampukah manusia hidup tanpa cinta-Nya!.


Dalam heningan dan detakan cinta Nya, pundak ku terasa ada yang menyentuhnya... aku tidak merasa kaget,

karena aku telah mendengar suara batuknya, suara batuk yang khas orang yang kukenal dekat dan aku sangat hormati, beliau Imam Masjid pertamanya.

Masyarakat sangat faham dan menghormati sosok Imam ini, tidak hanya menghoramati...

bahkan masyarakat sangat mengenal sosok ini, bahkan ada yang menyampaikan "suara batuknya saja..kadang sudah bisa menyelesaikan persoalan ketika ada masyarakat yang berselisih"....


"Nak pulang lah...,

usia belia mu..jangan engkau habiskan di sini...

jemput ilmumu di utara, kayuh sepedamu agar kakimu lebih kuat...

hangatkan kepalamu dengan hangatnya matahari pagi ini,

kamu disini terlalu teduh...jangan takut terik matahari siang ini...,

Setelah matahari tak lagi bersinar... bolehlah kamu kesini lagi berleterakan bulan"

Suara batuk mbah kyai ini dan sentuhan dipundakku, menjadikan ragaku bangkit dari sujudku..., saat ku buka mataku... ruangan telah kosong... ramai jamaah shubuh pagi ini sudah berpencar entah kemana sesuai tujuannya.... ku tatap jam putih...aku lompat..jam sudah menunjukkan jam 06.30, jam 07.00 aku harus bertugas upacara... "ngibritlah aku", jika ada spedometer, mungkin sepedaku sudah diangka 100...., aku harus mengayuh sepeda di atas jalan tanah, sesekai berkelok menghindari kubangan air dan lumpur...., sesekali harus terpaksa aku ceburkan sepeda itu dalam kubangan air agar air yang tenang bisa beriak-riak. Batu batu kerikil kadang harus terseret oleh rem mendadakku, 

Hijau sawah oleh embun pagi kadang terasa olehku menyapa dengan ceria..., sesekali embun harus membaahi baju putihku...karena pepohonan tergoda oleh sepoi udara pagi... ahh rasanya dingin bercampur dengan keringat pagiku yang sudah mulai menetes..ditambah lagi sedikit rasa takut kalau sampai terlambat upacara "matilah aku!" harus berhadapan dengan Pak Guru Slamet yang siap menjewer atas ketidak displinanku....

"Tetttttttt" Teeeettt...Teeetttttt", Bel sekolah telah berbunyi keras tepat aku sudah sampai parkiran sepeda...., aku berlari meletakkan tas berisi buku..." Ahh...ya Allah tertinggal bekal bungkusan nasi Ibuku..." , "ahh ya Allah .. uang saku Bapak juga entah kemana ini... tak ku temukan di tas.  "Upacara bendera hari Senin MTsN Triwarno Prembun segera di mulai. 

*** * *** 

Aduh Rasanya kok hidup sendiri begini, aku mulai menyapa ke teman teman..., ku salami guru guruku... "Yes duduk sebangku lagi dengan Asykurukum, anaknya asyik... dan tulisannya bagus..." 

"Hai apa kabar kawan?, bekal tertinggal dan uang sakuku entah kemana, aku miskin hari ini" 

"Aman nanti kita makan bersama di tempat biasa, bekalku hari ini nasi bongkel" katanya denan senang, memang dia itu tipe suka berbagi..., dia akan maah kalau apa yang hendak dikasihnya ditolak..."saya ndak modus lho ini, karena ndak bawa bekal terus dekat-dekat kamu". Saya berkata dengan serius...

"Modus atau tidak modus, itu urusanmu dengan Allah, bagiku...setiap sebutir nasi bongkelku yang nanti akan dilahap olehmu...adalah pembuka otak ku untuk memahami pelajaran Bahasa Inggris hari ini bersama Bu Wastiyah..., rasanya kadang ndak habis pikir jelas tertulis 'One' kenapa bacannya 'wan'... 

"Ndak seperti Bahasa Arab Pak Suhud ya..., tulisanya ' واحد' tetap bacannya wahid ya..!, timpalku sambil bergurai dengan Asykurukum. 

Diskusi kami panjang di kelas dan asyik, bagiku kata kata nasi bongkel sudah terngiang dan menganggu konsentrasi belajarku... , beberapa kali aku merasa guru yang didepan tidak terdengar dia menjelaskan apa hanya terlihat bibir bergerak gerak saja...sama huruf huruf di papan tulis hitam yang sesekali ku rasakan hanya sekedar goresan kapur. ...

*** 

"Kenapa jarum jam terasa lambat sekali, tidak sedikitpun bergerak gerak...", mataku sesekali melirik ke bungkusan nasi bongkel... hidungku juga kadang tergoda aroma makanan yang terbungkus daun pisang itu"

Tiba tiba aku terlelap..., entah bagaimana ceritanya aku tidak bisa melihat apa apa... hanya suara suara sesekali suara bu guru, sesekali suara ramai teman-teman... hingga akhirnya aku tersentak karena ada suara klutak dan tiba tiba kepala sakit..., 

"Mashiday, bawa kesini kapurnya...!, spontan mataku terbelalak...otak ku...kembali sadar... kakiku gemetar maju kedepan..., ternyata kapur itu entah dilemparkan atau terlempar ke arah saya oleh guruku ini. aku menyerahkan kapur ini dengan hormat, tak ada komentar apapun dari guruku ini. aku kembali ke bangku... entah bagaimana tiba tiba...aku bisa memahami apa yang tertulis di dalam papan tulis..., dan "teet teet teet" , Bel panjang berbunyi tanda istirahat siang ...saatnya makan nasi bongkel. "Asykurukum!, pelajaran sedari pagi hanya sepapan tulis itu!, kecil beres pelajaran hari ini akau sudah faham...santai.."

"Asykurukum mengajakku berlari cepat cepat karena istirahat waktunya tidak lama..., segera dibuka bungkusan daun nasi bongkel, ku lahap makanannya... dengan cepat kita habiskan nasi bongkelnya"

"Mashiday.., saya tadi dapat pesan dari Pak Suhud, kamu hari ini tidak boleh pulang dahulu..., papan tulis yang kamu baca tadi itu adalah satu dari tujuh ilmu yang sudah dihapus oleh pak Guru..., kamu belum boleh pulang kecuali kamu menyalin di bukumu, sampai faham. Beliau sore ini mengajar kelas dua siang dan sampai sore, silahkan nanti kamu menghadap beliau. 

"Setelah dhuhuran, saya pulang dulu!, selamat belajar sendirian.....!

*** * *** 

"Kubuka lembaran lembaran kertas bukuku,...ku salin tujuh papan dikelas sesiang ini yang sudah tertulis rapi di Buku Asykurukum"

 

Poster digenerate dan divisualkan oleh ChatGPT dari cerita Lantai Rumah Mu ke-1  "al-Muttaqin" 

*** 


Semoga Allah mengizinkan untuk meneruskan cerita ini pada lantai kedua....

Share this Post

Share

Leave a comment