| 0 Comments | 117 Views
Ketika “Buat Judul Skripsi” Bukanlah Langkah Pertama
Salah satu hal yang cukup sering saya temui ketika berdiskusi dengan mahasiswa adalah kalimat seperti ini: “Pak, judul saya ditolak.” Biasanya, pertanyaan berikutnya adalah: “Ditolak karena apa?”
Jawabannya bisa beragam. Ada judul yang terlalu luas, objeknya tidak jelas, topiknya kurang relevan dengan bidang keilmuan, data sulit diperoleh, teori yang digunakan tidak tepat, atau yang paling mendasar: belum terlihat apa masalah penelitian dan kebaruannya. Padahal, jika kita melihat proses skripsi secara utuh, judul sebenarnya bukanlah titik awal penelitian.
Judul adalah salah satu output dari proses berpikir yang jauh lebih panjang.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan saya merancang perkuliahan Metode Penelitian tidak sekadar sebagai mata kuliah yang mengajarkan mahasiswa “cara menulis proposal”, tetapi sebagai ruang latihan untuk memahami bagaimana sebuah penelitian dibangun sejak dari menemukan fenomena sampai menghasilkan proposal penelitian.
Tulisan ini sekaligus merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya "Dari Pengajuan Judul sampai Bimbingan Skripsi: Begini Alurnya". Pada tulisan tersebut saya membahas perjalanan administratif dan akademik mahasiswa, mulai dari memenuhi persyaratan, konsultasi dengan DPA, pengajuan judul, proses TPJS, penetapan DPS, bimbingan proposal, seminar proposal, hingga penelitian dan pembimbingan skripsi.
Nah, pertanyaan berikutnya adalah:
Kalau judul merupakan salah satu gerbang awal menuju skripsi, bagaimana mahasiswa mempersiapkan judul dan rancangan penelitian agar tidak sekadar “punya judul”, tetapi benar-benar memiliki penelitian yang layak?
Di sinilah mata kuliah Metode Penelitian mengambil peran.
Skripsi Bukan Dimulai dari Judul
Kalau mengikuti alur skripsi yang telah dibahas pada tulisan sebelumnya, mahasiswa memang akan melewati tahap pengajuan judul sebelum mendapatkan Dosen Pembimbing Skripsi (DPS). Namun secara akademik, prosesnya tidak seharusnya dimulai dengan: “Saya harus punya judul.” Lebih sehat jika dimulai dengan: “Saya menemukan sesuatu yang menarik atau bermasalah. Apa yang sebenarnya ingin saya ketahui?”.
Dari sana proses bergerak menuju: Fenomena → masalah → pertanyaan penelitian → kajian pustaka → gap → teori → data → metode → proposal → judul. Barulah judul dirumuskan dengan lebih matang. Karena itu, saya lebih suka mengatakan kepada mahasiswa:
Jangan mencari judul. Carilah masalah penelitian.
Judul akan mengikuti.
Mengapa Judul Bisa Ditolak?
Dalam panduan penyelenggaraan skripsi yang kita bahas sebelumnya, penilaian judul mempertimbangkan beberapa aspek, antara lain kelayakan akademik, relevansi bidang ilmu, orisinalitas, kontribusi akademik, dan ketersediaan dosen pembimbing. Panduan juga menekankan novelty, ketersediaan data dan referensi, kesesuaian dengan kompetensi pembimbing, serta kelayakan penelitian untuk diselesaikan dalam waktu studi dan kemampuan mahasiswa.
Dengan demikian, judul yang ditolak sebenarnya bisa menjadi tanda bahwa ada bagian dari rancangan penelitian yang perlu diperbaiki. Beberapa persoalan yang sering muncul misalnya:
- Topiknya terlalu umum. Misalnya: "Penggunaan Bahasa Arab di Media Sosial". Media sosial yang mana? Siapa penggunanya? Fenomena bahasa apa? Data apa?
- Objeknya menarik, tetapi masalahnya tidak jelas seperti: "Bahasa Arab dalam TikTok". TikTok hanyalah sumber data. Belum jelas fenomena ilmiah yang akan diteliti.
- Tidak terlihat research gap. Mahasiswa mengetahui bahwa topik tersebut menarik, tetapi tidak tahu apa yang belum diteliti oleh penelitian sebelumnya.
- Tidak cukup relevan dengan bidang keilmuan. Penelitian mahasiswa harus berakar pada bidang keilmuan utama Program Studi, seperti linguistik Arab, sastra Arab, terjemah, dan budaya Arab. Untuk penelitian interdisipliner pun tetap harus memiliki basis keilmuan Arab yang kuat.
- Data tidak tersedia atau sulit diperoleh. Judul terlihat bagus, tetapi ketika ditanya “datanya dari mana?”, mahasiswa belum memiliki jawaban.
- Terlalu besar untuk skripsi S1. Misalnya: "Analisis Sosiolinguistik Bahasa Arab di Media Sosial". Hampir tidak ada batasannya.
Karena Itu, Mata Kuliah Metode Penelitian Saya Mulai dari Fondasi
Dalam RPS yang saya gunakan, mahasiswa tidak langsung diajak menulis proposal. Perkuliahan dimulai dari kontrak dan orientasi, kemudian dilanjutkan ke:
- fondasi riset;
- siklus riset dan etika akademik;
- perumusan masalah;
- kajian pustaka;
- kerangka teoretis dan research gap;
- paradigma penelitian;
- desain penelitian kualitatif;
- pengumpulan data;
- keabsahan data;
- analisis data;
- penyusunan proposal;
- presentasi dan peer review.
Urutan ini sengaja dibuat demikian karena mahasiswa perlu memahami bahwa proposal penelitian merupakan hasil dari serangkaian keputusan metodologis, bukan sekadar kumpulan Bab I, II, dan III.
Pertemuan 1: Memahami “Aturan Main” Penelitian
Pada pertemuan pertama, mahasiswa diperkenalkan dengan:
- silabus dan kontrak perkuliahan;
- CPMK dan indikator pencapaian;
- metode pembelajaran;
- sistem penilaian;
- aturan kehadiran;
- tugas;
- etika perkuliahan;
- proyek akhir berbasis OBE.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya penting: mahasiswa juga perlu mengetahui ke mana perjalanan mata kuliah ini akan membawa mereka. Proyek akhirnya bukan sekadar: mengumpulkan proposal. Mahasiswa akan bekerja dalam tim kecil untuk menyusun proposal penelitian dan mempresentasikannya.
Mengapa tim kecil? Karena sebelum mahasiswa nantinya mengerjakan skripsi secara individual, mereka perlu berlatih terlebih dahulu bagaimana:
- menemukan masalah;
- membaca penelitian terdahulu;
- berdiskusi tentang teori;
- menentukan metode;
- mengkritisi rancangan penelitian;
- menerima masukan;
- memberikan feedback kepada peneliti lain.
Dengan demikian, proses belajar penelitian tidak berhenti pada kemampuan menulis.
Pertemuan 2: Apa Sebenarnya Penelitian Itu?
Mahasiswa kemudian diajak kembali ke pertanyaan yang tampaknya sederhana: Apa itu penelitian? Materinya mencakup:
- defining research;
- metode ilmiah;
- peran teori;
- pendekatan terhadap kebenaran;
- fungsi dan ragam penelitian;
- unsur-unsur penelitian.
Bagian ini penting karena mahasiswa sering langsung menggunakan istilah: “Saya mau melakukan penelitian.” Tetapi belum tentu memahami apa yang membedakan penelitian dengan sekadar:
- mencari informasi;
- membuat opini;
- mendeskripsikan fenomena;
- mengumpulkan data;
- atau menulis esai.
Penelitian membutuhkan pertanyaan yang jelas, prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan, landasan teori, data, analisis, dan kontribusi.
Pertemuan 3: Memahami Research Life Cycle
Penelitian juga tidak berhenti ketika skripsi selesai. Dalam perkuliahan, mahasiswa diperkenalkan dengan The Research Life Cycle, mulai dari Search and Discover hingga berujung di Publish Report:
Selain itu, dibahas pula etika dan integritas riset; dan research misconduct. Bagian ini sengaja ditempatkan cukup awal karena mahasiswa perlu memahami bahwa penelitian bukan hanya tentang mendapatkan nilai. Ada tanggung jawab akademik di dalamnya. Mulai dari cara mencari sumber, mengutip, mengelola data, menggunakan bantuan teknologi, menganalisis data, hingga mempublikasikan hasil penelitian.
Pertemuan 4: Baru Kita Membicarakan Topik dan Masalah
Nah, di sinilah salah satu titik penting dalam proses pembelajaran. Materinya: Memilih topik dan merumuskan pertanyaan penelitian. Saya ingin mahasiswa membedakan tiga hal:
- Topik, misalnya "Sosiolinguistik bahasa Arab di media sosial".
- Masalah dikerucutnya menjadi: Belum diketahui bagaimana pilihan bahasa tertentu digunakan dalam konteks interaksi tertentu.
- Pertanyaan penelitian: "Bagaimana pola pilihan bahasa tersebut digunakan dalam interaksi X?"
Ketiganya tidak sama.
- Topik masih luas.
- Masalah sudah menunjukkan sesuatu yang perlu diketahui.
- Pertanyaan penelitian menentukan apa yang secara konkret akan dicari jawabannya.
Dari “Saya Tertarik” Menjadi “Ini Masalah Penelitian”
Misalnya mahasiswa mengatakan: “Saya tertarik dengan nama-nama usaha berbahasa Arab.” Bagus. Tetapi itu belum cukup. Kita bisa mengembangkan pertanyaannya: Apa yang menarik dari nama-nama tersebut? Misalnya:
- mengapa pemilik usaha memilih bahasa Arab?
- apa makna leksikal yang digunakan?
- apakah bahasa Arab digunakan sebagai identitas?
- apakah ada pola tertentu dalam penamaan?
- bagaimana konsumen memaknai nama tersebut?
- apakah penggunaan bahasa Arab memiliki fungsi simbolik?
Sekarang mahasiswa mulai bergerak dari: ketertarikan → fenomena → masalah → pertanyaan penelitian.
Pertemuan 5: Jangan Asal Mengumpulkan Referensi
Setelah mahasiswa memiliki masalah awal, tahap berikutnya adalah kajian pustaka. Tetapi kajian pustaka bukan: “Cari 20 jurnal, lalu dirangkum satu per satu.” Dalam perkuliahan, mahasiswa dilatih untuk:
- mengevaluasi sumber;
- membaca literatur akademik secara kritis;
- mengapresiasi literatur;
- menyusun annotated bibliography.
Ini penting karena mahasiswa harus mulai belajar bertanya: “Apa kontribusi penelitian ini terhadap pemahaman saya tentang masalah yang sedang saya teliti?”. Bukan hanya: “Apa isi artikel ini?”
Dari Literature Review Menuju Research Gap
Inilah bagian yang sangat terkait dengan persoalan judul ditolak. Bagi peneliti, mengidentifikasi dan menemukan research gap adalah bagian penting untuk dapat menjelaskan dan menempatkan penelitian yang akan dilakukan. Tinjauan pustaka harus digunakan untuk memetakan posisi penelitian dan menunjukkan perbedaan atau nilai tambah penelitian dibandingkan studi sebelumnya. Jadi mahasiswa perlu belajar membuat pergeseran: “Penelitian tentang X sudah banyak.” menjadi: “Penelitian tentang X sudah banyak, tetapi...”. Kata “tetapi” ini sangat penting. Misalnya:
Penelitian tentang kesantunan bahasa Arab sudah banyak, tetapi penelitian mengenai strategi kesantunan dalam komentar pengguna pada konten dakwah digital tertentu masih terbatas.
Di situlah kemungkinan gap mulai terlihat.
Pertemuan 6: Matrix Gap
Untuk membantu mahasiswa melakukan ini, mereka dilatih menyusun matrix gap. Sederhananya:
| Penelitian | Objek | Teori | Metode | Temuan | Keterbatasan |
| A | Data A | Teori A | Kualitatif | ..... | ..... |
| B | Data B | Teori B | Kualitatif | ..... | ..... |
| C | Data C | Teori C | Kualitatif | ..... | ..... |
| Penelitian kita | Data D | Teori D | Kualitatif | ??? | Mengisi gap |
Matrix seperti ini membantu mahasiswa melihat bahwa novelty tidak perlu selalu berarti menemukan teori baru. Kebaruan dapat berasal dari:
- data;
- objek;
- konteks;
- pendekatan;
- teori;
- metode;
- atau kombinasi beberapa unsur.
Hal tersebut sejalan dengan panduan yang menyebut bahwa novelty dapat menunjukkan celah dalam teori, data, pendekatan analitis, atau objek kajian.
Kerangka Teori: Jangan Menempelkan Teori pada Judul
Kesalahan lain yang cukup sering terjadi adalah: “Saya sudah punya teori, sekarang cari objeknya.” Padahal seharusnya teori muncul karena ada masalah penelitian yang membutuhkan perangkat konseptual tertentu. Pada pertemuan keenam mahasiswa belajar:
- menghubungkan studi dengan konsep terdahulu;
- mengidentifikasi gap;
- mengenali variabel;
- memahami hipotesis/proposisi kerja;
- menyusun matrix gap.
Jadi mahasiswa tidak hanya belajar “teori apa yang saya pakai?”, tetapi: “Mengapa teori ini tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian saya?”
Pertemuan 7: Tidak Semua Penelitian Harus Kuantitatif
Pada tahap berikutnya mahasiswa diperkenalkan dengan:
- penelitian kualitatif;
- penelitian kuantitatif;
- R&D;
- populasi dan sampel;
- teknik sampling;
- purposive sampling;
- snowball sampling.
Khusus untuk penelitian kualitatif, mahasiswa perlu memahami bahwa istilah populasi dan sampel tidak selalu bekerja dengan cara yang sama seperti penelitian kuantitatif. Dalam penelitian kualitatif, misalnya, pemilihan informan dapat dilakukan secara purposif atau snowball, sesuai kebutuhan penelitian. Ini akan menjadi dasar sebelum mahasiswa masuk ke berbagai desain penelitian kualitatif.
Pertemuan 8: Memilih Desain Penelitian
Mahasiswa kemudian diperkenalkan dengan empat desain penelitian kualitatif:
- Studi kasus
- Etnografi
- Fenomenologi
- Analisis wacana
Bagian pentingnya bukan menghafalkan definisi. Mahasiswa perlu belajar: Kapan desain tersebut digunakan? Misalnya:
- Studi kasus, kika mahasiswa ingin memahami suatu kasus secara mendalam dalam konteks tertentu.
- Etnografi, jika fokusnya pada kehidupan, praktik, nilai, atau budaya suatu kelompok.
- Fenomenologi, jika fokusnya pada pengalaman hidup atau pengalaman yang dialami subjek.
- Analisis wacana, jika fokusnya pada bagaimana bahasa digunakan untuk membentuk makna, representasi, relasi, identitas, kekuasaan, dan sebagainya.
Dengan demikian, mahasiswa mulai bisa menghubungkan: pertanyaan penelitian → desain penelitian.
Pertemuan 9: Dari Pertanyaan ke Data
Penelitian yang baik harus memiliki data yang jelas. Karena itu mahasiswa belajar teknik pengumpulan data kualitatif:
- wawancara;
- observasi;
- dokumentasi;
- focus group discussion.
Ini juga membantu menjawab salah satu pertanyaan yang sering muncul ketika judul diajukan: “Datanya nanti dari mana?”. Sebelum judul diajukan, mahasiswa seharusnya sudah memiliki gambaran jawabannya.
Pertemuan 10: Data Ada, tetapi Apakah Valid?
Memiliki data tidak otomatis membuat penelitian kuat. Mahasiswa kemudian belajar tentang keabsahan data, termasuk:
- kredibilitas;
- triangulasi;
- member checking;
- dependabilitas.
Ini merupakan bagian penting karena penelitian kualitatif bukan berarti: “Yang penting ada wawancara.” Ada pertanyaan lanjutan:
- Apakah data tersebut dapat dipercaya?
- Bagaimana peneliti memastikan interpretasinya dapat dipertanggungjawabkan?
Pertemuan 11: Data Tidak Berbicara Sendiri
Ini juga salah satu prinsip penting yang perlu ditanamkan kepada mahasiswa: Data tidak otomatis menjadi temuan penelitian. Data harus dianalisis. Dalam perkuliahan mahasiswa belajar:
- prinsip analisis data;
- tahapan analisis;
- coding tematik;
- transliterasi Arab–Latin;
- transkripsi fonetik.
Untuk mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, aspek teknis seperti transliterasi dan transkripsi menjadi penting karena data penelitian dapat berupa tuturan, teks Arab, atau data kebahasaan lainnya. Dengan demikian: Data → pengolahan → coding → kategori → tema/pola → interpretasi → temuan.
Pertemuan 12: Baru Kita Menyusun Proposal
Setelah melewati seluruh proses tersebut, barulah mahasiswa masuk ke: Penyusunan Proposal Penelitian. Materinya mencakup:
- judul;
- latar belakang;
- rumusan masalah;
- pertanyaan penelitian;
- tujuan penelitian;
- kajian pustaka;
- kerangka teori;
- metode;
- populasi-sampel.
Perhatikan urutannya. Proposal datang setelah mahasiswa belajar bagaimana penelitian dibangun. Bukan sebaliknya.
Lalu, Kapan Judul Dibuat?
Nah, di sinilah saya ingin mengubah sedikit cara pandang kita terhadap judul. Mahasiswa sering berpikir: “Saya harus membuat judul dulu, baru penelitian.” Dalam proses pembelajaran saya, logikanya lebih seperti ini:
Artinya, judul merupakan representasi singkat dari desain penelitian yang sudah mulai terbentuk.
Proposal Dikerjakan dalam Tim Kecil
Ada satu karakteristik khusus dari mata kuliah yang saya ampu. Proposal penelitian disusun secara berkelompok dalam tim kecil. Mengapa? Karena saya ingin mahasiswa memperoleh pengalaman bahwa penelitian adalah proses yang membutuhkan dialog. Dalam satu tim, mahasiswa dapat berbagi peran:
- mencari literatur;
- membaca dan mengevaluasi artikel;
- memetakan research gap;
- mendiskusikan teori;
- memikirkan metode;
- menguji kelayakan data;
- menyusun proposal;
- mempresentasikan rancangan;
- menerima peer review.
Namun kerja kelompok bukan berarti setiap anggota hanya mengerjakan bagian masing-masing. Targetnya adalah: Semua anggota memahami keseluruhan desain penelitian.
Mengapa Proposal Kelompok, Padahal Skripsi Individual?
Pertanyaan ini sangat wajar. Jawabannya justru berkaitan dengan struktur kurikulum. Mata kuliah Metode Penelitian yang saya ampu berfungsi sebagai fondasi umum penelitian. Setelahnya, mahasiswa masih akan berhadapan dengan mata kuliah yang lebih spesifik:
- Metode Penelitian Bahasa;
- Metode Penelitian Sastra;
- Metode Penelitian Terjemah.
Artinya, pada mata kuliah ini mahasiswa belum perlu dipaksa menjadi spesialis dalam seluruh metodologi bahasa, sastra, atau terjemah. Yang dibangun terlebih dahulu adalah research foundation:
bagaimana menemukan masalah, membaca literatur, menemukan gap, memilih teori, menentukan desain, mengumpulkan data, menjaga keabsahan data, menganalisis data, dan menyusun proposal.
Setelah fondasi tersebut kuat, mahasiswa dapat memperdalam metodologi sesuai bidang penelitian masing-masing.
Empat Pertemuan Terakhir: Proposal Diuji, Bukan Hanya Dipresentasikan
Pada pertemuan 13–16, mahasiswa melakukan presentasi proposal kelompok + peer review. Jadi presentasi bukan sekadar: “Kelompok kami akan meneliti X. Sekian, terima kasih.” Ada proses feedback. Mahasiswa lain diposisikan sebagai pembaca dan calon peneliti yang memberikan pertanyaan:
- Apa masalah penelitian Anda?
- Apa gap-nya?
- Mengapa objek tersebut dipilih?
- Mengapa menggunakan teori tersebut?
- Bagaimana data diperoleh?
- Mengapa desain tersebut tepat?
- Apakah penelitian ini realistis?
- Apa kontribusinya?
Dengan cara ini, proposal mengalami stress test sebelum menjadi rancangan penelitian yang lebih serius.
Dari Proposal Mata Kuliah ke Proposal Skripsi
Di sinilah saya ingin menghubungkan kembali tulisan ini dengan tulisan sebelumnya tentang alur skripsi. Proposal yang dibuat dalam mata kuliah Metode Penelitian bukan otomatis proposal skripsi. Mahasiswa masih perlu:
- mematangkan topik;
- mengecek kembali penelitian terdahulu;
- memastikan research gap;
- memastikan data;
- menyesuaikan dengan bidang metodologi yang dipilih;
- berkonsultasi dengan DPA;
- mengikuti prosedur pengajuan judul;
- memperoleh persetujuan sesuai mekanisme Prodi;
- mendapatkan DPS;
- melakukan bimbingan proposal.
Dengan kata lain: Proposal mata kuliah adalah laboratorium latihan. Sedangkan proposal skripsi merupakan rancangan penelitian yang masuk ke dalam proses akademik resmi skripsi.
Jadi, Apa Hubungan Mata Kuliah Metode Penelitian dengan TPJS?
Hubungannya sangat erat. Pada tulisan sebelumnya kita sudah melihat: Mahasiswa → DPA → TPJS/Kaprodi → Penetapan DPS → Bimbingan Proposal → Seminar Proposal → Skripsi.
Sekarang kita dapat melihat bahwa mata kuliah Metode Penelitian berada di sisi hulu proses tersebut. Ia membantu mahasiswa mempersiapkan kemampuan untuk melewati proses pengajuan judul dengan lebih matang. Jadi, mata kuliah Metode Penelitian bukan sekadar mata kuliah sebelum skripsi. Ia merupakan salah satu fondasi yang membantu mahasiswa memahami mengapa sebuah penelitian layak dilakukan.
Prinsip yang Saya Harap Mahasiswa Bawa
Kalau seluruh mata kuliah ini harus diringkas menjadi beberapa prinsip, saya akan memilih tujuh:
- Jangan mulai dari judul. Mulailah dari fenomena dan masalah.
- Jangan hanya bertanya “apa yang menarik?” Tanyakan juga: “Apa yang belum diketahui?”
- Jangan hanya mencari referensi. Bacalah secara kritis untuk menemukan posisi penelitian.
- Jangan menggunakan teori karena terlihat keren. Gunakan teori karena memang membantu menjawab pertanyaan penelitian.
- Jangan memilih data sebelum memikirkan masalah. Data harus relevan dengan pertanyaan penelitian.
- Jangan membuat penelitian terlalu besar. Skripsi bukan disertasi.
- Jangan takut menerima kritik. Peer review, revisi, dan diskusi merupakan bagian dari proses penelitian.
Judul yang Baik Lahir dari Proses yang Baik
Kembali ke persoalan awal: mengapa judul mahasiswa sering ditolak? Mungkin jawabannya bukan karena mahasiswa tidak pandai membuat judul. Bisa jadi mahasiswa terlalu cepat membuat judul. Mereka langsung berpikir: “Saya tertarik dengan X. Judulnya apa?” Padahal penelitian yang baik membutuhkan proses: Fenomena → masalah → pertanyaan → literatur → gap → teori → data → metode → kontribusi → judul.
Dalam panduan skripsi, judul memang harus mempertimbangkan relevansi, novelty, data, kompetensi pembimbing, dan kelayakan penelitian. Karena itu, salah satu tujuan mata kuliah Metode Penelitian yang saya ampu adalah membantu mahasiswa memahami proses alur penelitian dengan baik agar dalam memilih topik, merumuskan masalah, hingga merumuskan judul penelitian di kemudian hari dapat kokoh disertasi dengan argumentasi yang kuat.
Mahasiswa tidak hanya diharapkan pulang dengan satu judul. Mereka diharapkan pulang dengan kemampuan menjelaskan: Mengapa topik ini penting? Apa masalahnya? Apa yang sudah diteliti orang lain? Apa yang belum diteliti? Data saya dari mana? Teori apa yang saya gunakan dan mengapa? Bagaimana saya akan menelitinya? Apa kontribusi penelitian saya?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan baik, judul biasanya akan menjadi jauh lebih mudah dirumuskan. Dan ketika nanti mahasiswa memasuki tahap pengajuan judul, mereka tidak lagi datang hanya dengan membawa selembar judul, tetapi membawa sebuah rancangan penelitian yang memiliki alasan akademik. Itulah yang ingin saya bangun melalui mata kuliah Metode Penelitian.
Leave a Comment