| 0 Comments | 156 Views
Penelitian bahasa, sastra, dan terjemah tidak selalu hanya berurusan dengan teks. Dalam banyak penelitian, kita juga berinteraksi dengan manusia, mengumpulkan data pribadi, merekam percakapan, melakukan wawancara, mengamati perilaku, atau melibatkan partisipan dalam eksperimen.
Karena itu, memahami aspek etik menjadi bagian penting dalam merancang penelitian sejak awal.
Pada perkuliahan Metode Penelitian (BSA115024) pertemuan ketiga dengan pokok bahasan "Siklus Riset & Etika Akademik", akan diselenggarakan kuliah tamu dengan menghadirkan Dora Dayu Rahma Turista, S.Si., M.Pd.
Mengapa topik ini penting?
Klirens etik memang sering kali lebih dikenal dalam penelitian kedokteran atau kesehatan. Padahal, penelitian di bidang bahasa, sastra, dan terjemah juga dapat menghadapi persoalan etik, terutama ketika penelitian melibatkan partisipan manusia, data pribadi, kelompok rentan, interaksi langsung, atau materi sensitif.
Bayangkan beberapa penelitian berikut.
Penelitian Linguistik
“Praktik Alih Kode Bahasa Arab–Indonesia dalam Interaksi Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab: Kajian Sosiolinguistik”
Peneliti mungkin perlu merekam percakapan, melakukan wawancara, serta mengumpulkan informasi mengenai latar belakang sosial partisipan.
Pertanyaannya:
Apakah partisipan sudah memberikan persetujuan? Bagaimana jika mereka tidak ingin direkam? Bagaimana nama dan identitas mereka dilindungi? Di mana rekaman disimpan?
Penelitian yang tampaknya sederhana seperti merekam percakapan ternyata dapat memiliki sejumlah persoalan etik.
Penelitian Sastra
“Representasi Trauma dan Kekerasan terhadap Perempuan dalam Novel Arab Kontemporer: Perspektif Sastra dan Gender”
Jika penelitian hanya menganalisis novel yang telah diterbitkan dan tersedia untuk publik, persoalan etiknya tentu berbeda dengan penelitian yang melibatkan penyintas, pembaca, penulis, atau kelompok tertentu melalui wawancara maupun focus group discussion.
Artinya, yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apa objek penelitiannya, tetapi juga bagaimana data diperoleh dan siapa yang dilibatkan.
Penelitian Terjemah
“Strategi Penerjemahan Istilah Budaya Arab ke dalam Bahasa Indonesia: Studi Eksperimental terhadap Penerjemah Pemula”
Dalam penelitian semacam ini, mahasiswa dapat menjadi partisipan penelitian. Peneliti mungkin mengumpulkan hasil terjemahan, wawancara, kuesioner, atau rekaman.
Di sini muncul pertanyaan lain: apakah peserta memahami tujuan penelitian? Apakah identitas dan hasil pekerjaan mereka dirahasiakan? Bagaimana jika penelitian dilakukan oleh dosen terhadap mahasiswa yang diajarnya?
Jadi, apakah penelitian saya membutuhkan klirens etik?
Itulah salah satu pertanyaan yang akan dibahas dalam kuliah tamu ini.
Mahasiswa tidak cukup hanya memahami bahwa penelitian tertentu “perlu” atau “tidak perlu” klirens etik. Yang lebih penting adalah mampu mengidentifikasi potensi risiko etik berdasarkan desain penelitian, sumber data, cara memperoleh data, dan karakteristik partisipan.
Melalui sesi ini, kita akan belajar melihat penelitian bahasa, sastra, dan terjemah dari sudut pandang yang mungkin selama ini belum banyak dibahas dalam mata kuliah metode penelitian:
Sebelum mengumpulkan data, sudahkah kita memastikan bahwa cara kita memperoleh, menggunakan, menyimpan, dan melaporkan data tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara etik?
Informasi Kegiatan
- Tema: Klirens Etik dalam Penelitian Bahasa dan Sastra: Prinsip, Prosedur, Praktik
- Narasumber: Dora Dayu Rahma Turista, S.Si., M.Pd. (Universitas Mulawarman)
- Hari/Tanggal: Senin, 21 September 2026
- Waktu: 08.30–10.30 WIB
- Tempat: Zoom Meeting
Tautan Penting
- 📝 [Formulir Pendaftaran]
- 🔗 [Link Zoom Meeting]
- ✅ [Daftar Hadir]
- 📚 [Unduh Materi]
- 🏆 [Unduh Sertifikat]
Semua informasi dan tautan terkait kegiatan akan dikumpulkan di laman ini. Silakan simpan atau bookmark laman ini agar mudah kembali mengakses seluruh informasi yang diperlukan, termasuk materi dan sertifikat.
Jangan lupa!
Materi dan sertifikat dapat diunduh H+3 setelah kegiatan.
Semoga kuliah tamu ini tidak hanya membantu mahasiswa memahami apa itu klirens etik, tetapi juga membangun kebiasaan untuk mempertimbangkan aspek etik sejak tahap perencanaan penelitian.
Sampai jumpa di kelas!
Leave a Comment