| 0 Comments | 22 Views

Card Image

Disusun dan dirangkum oleh: 
M. Zaki Riyanto, Karangkajen Yogyakarta
Dosen Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kyai Haji Raden (K.H.R.) Ahmad Badawi merupakan salah satu Ketua Umum PP Muhammadiyah, beliau mengemban amanah tersebut pada tahun 1962-1968 selama 2 periode. Beliau dikenal sebagai Sang Penyelamat Muhammadiyah, karena berhasil menyelamatkan Muhammadiyah pada masa-masa kritis dan kelam dalam sejarah Indonesia, yaitu pada masa peristiwa 1965. Berdasarkan Buku Riwajat Hidup K.H.A. Badawi yang ditulis oleh H.M. Junus Anis dkk (1971), K.H.R. Ahmad Badawi lahir di Kauman Yogyakarta pada hari Rabu, 5 Februari 1902. Beliau putra dari K.H.R. Muhammad Fakih, tokoh dari Kauman yang menjadi salah satu pengurus Muhammadiyah pertama di awal berdirinya pada 1912. Ibunya adalah Hj. Siti Habibah, adik kandung K.H. Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah. Berdasarkan layang kekancingan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, beliau dan istri ternyata masih trah keturunan dari Panembahan Purubaya bin Panembahan Senopati, Raja Pertama Mataram Islam. Silsilah beliau selengkapnya akan disampaikan pada bagian akhir tulisan ini.

Masa kecil K.H.R. Ahmad Badawi dihabiskan di Kampung Kauman, sebuah kampung tempat tinggal para ulama dan penghulu Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kauman merupakan kampungnya para pengusaha batik, juga kampung tempat lahirnya Muhammadiyah yang didirikan oleh pakdhenya, K.H. Ahmad Dahlan, pada 1912. K.H.R. Ahmad Badawi merupakan salah satu santri pertama sekolah Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada tahun 1911. Beliau nyantri di Pesantren Leran Karanganyar (1908-1913). Setelah itu, beliau nyantri kepada K.H. Dimyati di Pesantren Tremas Pacitan (1913-1915), lalu di Pesantren Besuk Wangkal Pasuruan (1915-1920) dan di Pesantren Kauman dan Pandean Semarang (1920-1921).

K.H.R. Ahmad Badawi tercatat sebagai anggota resmi Muhammadiyah pada 25 September 1927. Sejak 1926, beliau aktif sebagai mubaligh dan pengurus Muhammadiyah bagian tablig. Lalu pada 1927 menjadi guru Madrasah Mu'allimat, dan menjadi guru kepala Mu'allimat pada 1927-1953. Pada 1933 beliau menjadi Ketua Majelis Tablig Muhammadiyah. Dalam kepengurusan di Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, pada Muktamar Muhammadiyah ke-35 di Jakarta, K.H.R. Ahmad Badawi terpilih sabagai Ketua Umum PP Muhammadiyah 1962-1965, menggantikan Ketua Umum sebelumnya yaitu H.M. Junus Anis. Lalu pada Muktamar Muhammadiyah ke-36 di Bandung, beliau terpilih kemebali menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 1965-1968. Setelah itu, pada Muktamar ke-37 di Yogyakarta pada 1968, beliau menjadi Penasehat PP Muhammadiyah, sedangkan Ketua Umum PP Muhammadiyah selanjutnya adalah K.H. AR Fachruddin.

Dalam kepemerintahan, K.H.R. Ahmad Badawi menjadi Penasehat Kementerian Agama (1946-1947) dan pada 1948 menjadi Penghulu yang diperbantukan di Kementerian Agama. Pada 1949 beliau diangkat menjadi Kepala Djawatan Agama (Darurat) sampai 1950, lalu dipindahkan sebagai Kepala Bagian Ibadah Social. Pada 1950-1951, beliau membantu mengajar pada Sekolah Guru dan Hakim. Pada tahun 1963, K.H.R. Ahmad Badawi diangkat sebagai Penasehat Pribadi Presiden Soekarno dalam bidang Agama. Pada 1968, beliau diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI.

Kiprah K.H.R. Ahmad Badawi dalam organisasi kemasyarakatan dan perjuangan, beliau pernah bergabung dalam Angkatan Perang Sabil untuk operasi di wilayah Sanden, Bantul, Tegalayang, Bleberan, Kecebean Kulon Progo. Beliau juga menjadi Pembantu Laskar Rakyat Mataram setelah mendapat instruksi dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Selama Perang Kemerdekaan melawan Belanda, pada 1945-1947 beliau menjadi Ketua Markas Ulama, Laskar Hisbullah Sabilillah Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada 1947-1949, K.H.R. Ahmad Badawi menjadi Imam III Angkatan Perang Sabil bersama-sama dengan K.H. Mahfudz (Imam I), K.H.R. Hadjid (Imam II) untuk wilayah DIY, Kedu dan Banyumas, dengan Prof. K.H. Kahar Muzakkir sebagai sekretarisnya dibantu oleh A. Timur Djelani. Pada 1950, beliau menjadi Wakil Ketua Majelis Syuro Masyumi di Yogyakarta.

Beberapa buku karya K.H.R. Ahmad Badawi:
1. Buku Pengadilan Rakjat
2. Kitab Nukilan Sju'abul-Iman (Bahasa Jawa)
3. Kitab Nikah (Aksara Pegon, Bahasa Jawa)
4. Kitab Parail (Aksara Latin, Bahasa Jawa)
5. KItab Manasik Hadji (Bahasa Jawa)
6. Miah Hadits (100 hadist) (Bahasa Arab)
7. Mudzakkirat fi Tasjri'il Islam.
8. Qawaidul-Chams
9. Karangan Menghadapi Orla (Bahasa Indonesia)
10. Djadwal Waktu Shalat Selama-lamanja.

K.H.R. Ahmad Badawi menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah pada 1962-1968, melewati masa-masa suram dalam sejarah Indonesia, terutama karena peristiwa 1965 dan pembubaran Masyumi. Beliau berhasil menjaga dan menyelamatkan Muhammadiyah dari pengaruh Nasakom masuk ke dalam Muhammadiyah. Selain di Muhammadiyah, beliau juga berperan penting dalam menghalau pengaruh komunis yang mencoba masuk ke dalam GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia).

Dalam kehidupan pribadinya, K.H.R. Ahmad Badawi menikah dengan Hj. Siti Zajinah, adik kandung H.M. Junus Anis, Ketua Umum PP Muhammadiyah 1959-1962. Hj. Siti Zajinah lahir pada 28 Agustus 1908, anak dari KH Muhammad Anis dan Siti Saudah. KH Muhammad Anis merupakan abdi dalem Karaton Ngayogyakarta 

Dari perkawinan K.H.R. Ahmad Badawi dan Hj. Siti Zajinah, keduanya dikaruniai 9 putra-putri, yaitu:
1. Siti Djamimah
2. Muhammad Djaldan
3. Siti Danijah
4. Muhammad Uswar
5. Muhammad Busjron
6. Siti Djafroh
7. Muhammad Djamam
8. Muhammad Basil
9. Muhammad Ibban

K.H.R. Ahmad Badawi menunaikan ibadah haji yang pertama pada saat masih anak-anak bersama kedua orang tuanya, kemudian beliau haji untuk yang kedua kalinya pada 1954 bersama istrinya, Hj. Siti Zajinah Badawi.

Pada hari Jum'at Pon, 25 April 1969 Pukul 09.25, K.H.R. Ahmad Badawi wafat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Sebelumnya, beliau telah menderita sakit sekitar dua bulan dan dirawat selama 2 hari di rumah sakit. Jenazah beliau dibawa ke Masjid Gedhe Kauman, setelah selesai Salat Jum'at, warga berduyun-duyun datang silih berganti ikut mensalatkan jenazah beliau hingga waktu Salat Ashar. Seusai jamaah Salat Ashar, Ketua Umum PP Muhammadiyah pada saat itu, K.H. AR Fachruddin, memberikan sambutan dalam upacara pelepasan jenazah K.H.R. Ahmad Badawi. Setelah itu, jenazah almarhum K.H.R. Ahmad Badawi dibawa dari Masjid Gedhe Kauman menuju ke Makam Karangkajen untuk dimakamkan. Ribuan orang ikut mengiringi kepergian almarhum menuju pemakaman. Beliau dimakamkan di sebelah barat makam K.H. Ahmad Dahlan. Ada 3 orang yang menurunkan jenazah K.H.R. Ahmad Badawi ke dalam liang kubur, yaitu kedua putra beliau, Muhammad Uswar Badawi dan Muhammad Busjron Badawi, serta KH Ahmad Azhar Basyir yang kelak menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 1990-1994.

Wasiat K.H.R. Ahmad Badawi:
1. Dari harta miliknya, 10% diwasiatkan untuk Muhammadiyah.
2. Dari seluruh kitab-kitabnya, diwasiatkan untuk diwakafkan kepada PP Muhammadiyah, kecuali yang dipergunakan oleh anak-anaknya.

Silsilah K.H.R. Ahmad Badawi (Jalur Bapak) berdasarkan Layang Kekancingan Asal-Usul dari Parentah Kawedanan Darah Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat No.3447 Tanggal 2 Dulkangidah Alip 1859 atau 13 April 1929, adalah sebagai berikut:

Panembahan Senopati, berputra:
Panembahan Purubaya I, berputra:
Pangeran Purubaya I, berputra:
R.A. Suboniti, berputra:
R. Sutotaruno, berputra:
R. Sutobongso, berputra:
R. Bongsojudo, berputra:
Kyai Sutoniti, berputra:
Nyai Muhammad Fakih (Kyai Resosetiko), berputra:
R.H. Habibul-Rahman (R.H. Muhammad Fakih), berputra:
K.H.R. Ahmad Badawi

Silsilah K.H.R. Ahmad Badawi (Jalur Ibu), berdasarkan Buku Silsilah Keluarga Besar KH Ahmad Dahlan: 150 Tahun K.H. Ahmad Dahlan (2018), adalah sebagai berikut:

Kyai Ageng Gribig Jatinom, berputra:
Ki Demang Jurang Juru Kapisan, berputra:
Ki Demang Jurang Juru Kapindo, berputra:
Kyai Ilyas, berputra:
K.H. Murtadha, berputra:
K.H. M. Sulaiman, berputra:
K.H. Abubakar, berputra:
Hj. Siti Habibah, berputra:
K.H.R. Ahmad Badawi

Silsilah Hj. Siti Zajinah, berdasarkan Layang Kekancingan Sri Wandawa Tepas Dwarapura Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun 1961 yang termuat dalam Buku Silsilah K.H. Ahmad Ma'lum yang disusun oleh H.M. Junus Anis.

Panembahan Senopati, berputra:
Panembahan Purubaya, berputra:
R.A. Wirasaba, berputra:
R.M. Pamulangan, berputra:
R.M. Suradiguna, berputra:
R. Sumataruna, berputra:
Kyai Trajem, berputra:
Kyai Muhammad Sufi, berputra:
Kyai Penghulu Muhammad Maklum, berputra:
K.H. Muhammad Maklum Kamaludiningrat, berputra:
K.H. Muhammad Anis, berputra:
Hj. Siti Zajinah

Hj. Siti Zajinah juga masih keturunan trah Kyai Penghulu Ahmad Kategan era Mataram Islam Sultan Agung, berikut silsilahnya:

Kyai Penghulu Ahmad Kategan, berputra:
Kyai Penghulu Kamal Laweyan, berputra:
Kyai Sulaiman Tafsir Anom, berputra:
Kyai Ketib Lor Kapisan Kategan, berputra:
Nyai Trajem, berputra:
Kyai Muhammad Sufi, berputra:
Kyai Penghulu Muhammad Maklum, berputra:
K.H. Muhammad Maklum Kamaludiningrat, berputra:
K.H. Muhammad Anis, berputra:
Hj. Siti Zajinah

Tentu masih banyak lagi kiprah beliau yang belum disampaikan pada tulisan ini. Kiranya kita semua dapat mengambil hikmah, pelajaran dan menjadikan beliau sebagai suri tauladan. Akhirnya, kita doakan kepada almarhum K.H.R. Ahmad Badawi dan istrinya, dan juga seluruh leluhurnya, semoga senantiasa dirahmati dan diampuni Allah SWT, dilapangkan kuburnya, disyafaati Kanjeng Nabi Muhammad SAW, dan diberikan tempat terbaik dan mulia di surga-Nya. Serta kepada semua keturunan beliau, semoga diberikan ketetapan iman dan Islam sampai di hari akhir. Amin ya robbal 'alamin. 

Wallahu a'lam bishawab.

Referensi:
1. Ridup (Riwajat Hidup) K.H.A. Badawi, disusun oleh HM Junus Anis (dengan bantuan kawan-kawan), Penerbit RS PKU Muhamadijah Jogjakarta (1971). Buku ini diterbitkan atas sponsor GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia).
2. Makin Lama Makn Tjinta: Muhammadijah Setengah Abad 1912-1962, Penerbit Departemen Penerangan RI (1962).
3. K.H. Ahmad Badawi (Ketua 1962-1965), https://muhammadiyah.or.id/2021/03/kh-ahmad-badawi-ketua-1962-1965/
4. K.H. Ahmad Badawi dan Dakwah Kekuasaaan, Suara Muhammadiyah (2021), https://web.suaramuhammadiyah.id/2021/05/14/ahmad-badawi-dan-dakwah-kekuasaan/.
5. Silsilah K.H. Ahmad Ma'lum, disusun oleh H.M. Junus Anis (1963).
6. Buku Silsilah Keluarga Besar KH Ahmad Dahlan: 150 Tahun KH Ahmad Dahlan (2018).

Disusun oleh M. Zaki Riyanto
Karangkajen Yogyakarta, Ahad Pahing 6 Ruwah Dal 1959/25 Januari 2026

Leave a Comment