| 0 Comments | 49 Views
Oleh: Mangun Budiyanto
Penulis buku "Biografi dan Pemikiran K.H. As'ad Humam: Pembaruan Metode Pembelajaran Membaca Al-Qur'an"
Saya, Mangun Budiyanto, sangat bersyukur dalam perjalanan hidup saya bisa bergabung dengan gerakan dakwah KH As'ad Humam. Diawali pada tahun 1977, saat itu saya sebagai mahasiswa tingkat 2 IAIN Sunan Kalijaga, menempati (sebagai marbot) satu musholla (Nur-Sidik) di kampung Sidikan, yang dikemudian hari saya tahu bahwa musholla tersebut semula rumah penduduk yang dibeli oleh Pak As'ad Humam dkk, yang kemudian disulap jadi musholla.
Di waktu-waktu kosong dari kuliah, saya diperbolehkan untuk bergabung sebagai karyawan "Padi Mas", suatu perusahaan kerajinan imitasi milik Pak As'ad Humam. Jadilah saya sebagai karyawan dengan sistem hitungan jam (bukan harian) di "Padi Mas" itu. Lumayan, tiap Kamis sore dapat upah dari kerja dalam satu minggu itu.
Di tahun 1978, saya diminta ngajar ngaji di masjid-masjid sekitar Kotagede dalam wadah GPAKT (Gabungan Pengajian Anak-Anak Kotagede Tenggara) tiap malam. Jadilah saya sebagai mahasiswa, karyawan Padi Mas, dan guru ngaji yang dikasih "sekedar" honor oleh Pak As'ad tiap bulan. Lumayan, bisa untuk hidup sehari-hari. He he he.
Ternyata, anak muda yang ditugaskan Pak As'ad untuk jadi guru ngaji itu bukan hanya saya, tetapi beberapa anak muda, yang semuanya dikasih "sekedar" honor oleh Pak As'ad, disamping Pak As'ad sendiri juga ikut terjun langsung sebagai guru ngaji.
Di tahun 1983, anak-anak muda guru ngaji ini, diwadahi dalam Team Tadarus AMM (Angkatan Muda Masjid dan Musholla), yang jangkauan ngajar ngajinya mencakup Kotagede dan Sekitarnya. Melalui wadah Team Tadarus AMM ini, banyak aktivis dakwah yang bergabung, ada saya, ada Pak Yusa' (1986), ada Pak Ridwan (1983) ada Pak Jazir (1987), ada Pak Musthofa Kamal, ada Pak Abdul Kholik, ada Pak Joko Prayitno, dll.
Saat tahun 1990 tercatat ada 17 orang anggota inti, yang kesemuanya bergerak atas sokongan dana dari Pak As'ad. Tiap malam Kamis para aktivis ini kumpul di rumah Pak As'ad, ngaji bareng, ngobrol ngalor ngidul, sambil laporan dan merencanakan kegiatannya.
Dari obrolan ini saya tahu bahwa ternyata Pak As'ad memendam keprihatinan sejak lama dalam hal metode pembelajaran membaca Al-Qur'an. Kenapa anak-anak kalau ngaji Al-Qur'an memerlukan waktu yang lama. Mereka baru bisa lancar baca Al-Qur'an setelah ngaji antara 3 - 5 tahun.
Pak As'ad diam-diam, sejak tahun 1955-an, sudah ngotak-atik cara belajar membaca Al-Qur'an biar cepat, efektif dan efisien. Berbagai metode dicobanya. Sejak metode Baghdadiyah, Qiro'ati, dll diamati dan dicobanya. Cara mengajarkannya pun di tekuni dengan berbagai variasi. Sejak di kanan-kirinya ada barisan anak-anak muda yang tergabung dalam Team Tadarus AMM sangat membantu Pak As'ad mewujudkan cita-citanya.
Kebetulan dari 17 anak muda tersebut, punya latar belakang keahlian yang saling melengkapi. Ada yang ahli teori-teori pengajaran, ada yang ahli menejemen, ada yang orator, dsb. Jadilah Pak As'ad sejak tahun 1985 secara intensif mulai menulis.
Pohon jambu yang ada disamping rumahnya (sayang sekarang sudah ditebang), menjadi saksi bisu betapa sangat tekun dan sabarnya Pak As'ad mencari-cari kata-kata sistematis dalam mengajar membaca Al-Qur'an. Hasil pencariannya kemudian didiskusikan dengan kawan-kawan Team dan diuji cobakannya pada anak-anak musholla Baiturrahman, musholla yang letaknya menyatu dengan rumah kediaman Pak As'ad.
Hasil uji cobanya itu kemudian dievaluasi, diperbaiki, didiskusikan lagi, dan demikian seterusnya. Rupanya usaha yang dilandasi oleh ketekunan dan keikhlasan ini, tidak sia-sia. Dari lembaran-lembaran yang penuh corat-coret itu tersusunlah rangkaian konsep buku kecil 6 jilid yang diberi nama "IQRO".
Di tengah masyarakat buku Iqro' ini dikenal sebagai "Metode Iqro'". Nama "Iqro'" itu disematkan dalam lembaran-lembaran karya tersebut sekitar tahun 1988, setelah melalui diskusi panjang di kalangan Team Tadarus AMM, yang semula sempat muncul berbagai nama lain. Kebetulan, saat itu Team telah menerbitkan satu bulletin, yang diberi nama "Iqro'", dengan Pak Jazir sebagai Pimpinan redaksinya.
Akhirnya, buku Iqro' ini, walaupun sambil masih terus dilakukan perbaikan-perbaikan, selesai disusun pada pertengahan 1989. Berkat ditemukannya metode Iqro' ini yang sekaligus dibarengi dengan gerakan TK Al-Qur'an, akhirnya di seluruh tanah air telah terjadi suasana dan gairah baru dalam mempelajari membaca Al-Qur'an.
Personil Team Tadarus AMM dibikin sibuk melayani permintaan penataran/pelatihan metode Iqro' ke seluruh Indonesia, bahkan ke manca negara. Semoga hal ini menjadi amal jariyah bagi mereka.
Yogyakarta, 26 Desember 2025
Mangun Budiyanto
Leave a Comment