| 0 Comments | 21 Views

Card Image


Seri Analisis Linguistik dan Refleksi Filosofis atas Frekuensi Kemunculan Kata Iman dalam al-Qur’an – Bagian Keempat


Keluarga kata iman yang paling sering muncul dalam al-Qur’an adalah yang berasal dari kata dasar āmana (آمَنَ). Secara keseluruhan, kemunculannya mencapai 812 kali, yang terdiri dari bentuk kata kerja (fi‘il) 537 kali, kata benda (ism) 230 kali, dan kata benda abstrak (maṣdar) 45 kali. Secara semantik, anggota keluarga dari kata dasar āmana (آمَنَ) inilah yang paling merepresentasikan pengertian iman dalam corak keagamaan, yaitu keyakinan, penerimaan, dan komitmen eksistensial terhadap Allah.


Makna Asal

Kata dasar āmana (آمَنَ) merupakan bentuk trilateral dengan tambahan satu huruf (ṡulāṡī al-mazīd bi ḥarfin wāḥid). Tambahan yang dimaksud berupa huruf hamzah yang ditempatkan di depan, sehingga membentuk pola (wazn; pattern) af‘ala (أَفْعَلَ). Dalam sistem penomoran angka Romawi model Hans Wehr (Cachia et al., 1985), kata ini termasuk dalam bentuk IV. Penambahan hamzah pada kata dasar amina tidak hanya mengubah bentuk kata secara morfologis, tetapi juga memperluas cakupan semantik yang kemudian menjadi dasar bagi konsep iman dalam al-Qur’an.

Berdasarkan uraian Ibn Manẓūr (1414) dalam Lisān al-‘Arab, makna dari kata dasar āmana dan kata-kata turunannya bergerak dalam tiga poros utama. Pertama, “keamanan” (security), yang meliputi makna mengamankan, melindungi, dan memberi rasa aman. Kedua, “kepercayaan” (trust, belief) yang meliputi makna mempercayai, menaruh kepercayaan, dan meyakini. Ketiga, “pembenaran” (faith), yang meliputi makna membenarkan, menerima kebenaran, dan beriman.

Yang menarik dari uraian Ibn Manẓūr adalah bahwa ia tidak memperlakukan tiga poros makna tersebut sebagai poros makna yang terpisah satu sama lain, melainkan sebagai jaringan makna yang saling bertaut. Iman dipahami sebagai bentuk kepercayaan yang melahirkan rasa aman, sementara kata āmana berarti sekaligus mempercayai dan memberi rasa aman. Dalam skema ini, kepercayaan (trust, belief), keyakinan (faith), dan keamanan (security) bukanlah poros makna yang berdiri sendiri, melainkan sisi-sisi dari satu pengalaman iman.

Dari sudut pandang semantik historis, barangkali inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak sarjana modern seperti Toshihiko Izutsu yang tertarik mengkaji makna yang terkandung dalam kata dasar āmana beserta kata-kata turunannya (Izutsu, 1964, 2002). Makna kepercayaan (trust, belief), keyakinan (faith), dan keamanan (security) telah tertanam sejak dalam struktur leksikal keluarga kata āmana ini. Terlebih lagi, masing-masing saling terhubung, baik secara morfologis maupun semantik.


Keluarga Kata Āmana dalam al-Qur’an

Makna yang direpresentasikan oleh keluarga kata āmana yang muncul dalam al-Qur’an dapat dipetakan ke dalam dua kelompok, yaitu makna yang tidak berkonotasi keagamaan dan makna yang berkonotasi keagamaan. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana kata dasar āmana ini beserta kata-kata turunannya dapat bergerak dari kandungan makna yang berkenaan dengan ranah sosial sehari-hari menuju makna yang memiliki muatan religius dan teologis, sehingga membentuk pengertian iman yang khas dalam al-Qur’an.

Berikut ini kita akan menelusuri bagaimana kedua makna tersebut direpresentasikan oleh kata dasar āmana beserta kata-kata turunannya yang muncul dalam al-Qur’an. Penelusuran akan dilakukan melalui tiga kelompok kata yang muncul, yakni kelompok kata kerja (fi‘il), kata benda (ism), dan kata benda abstrak (maṣdar).

Pertama, al-Qur’an menggunakan bentuk kata kerja (fi‘il) dari kata dasar āmana untuk merepresentasikan masing-masing makna yang berkonotasi keagamaan dan yang tidak berkonotasi keagamaan. Pada ayat yang dikutip berikut ini, kata kerja āmana mengandung arti keagamaan karena merujuk pada kepercayaan kepada Allah, malaikat, Kitab Suci, dan rasul.

كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

Artinya: “Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (Q.S. al-Baqarah [2]: 283).


Adapun pada ayat berikut ini, kata kerja āmana tidak berkonotasi keagamaan. Subyek kata kerja āmana dalam ayat tersebut adalah Allah, sehingga kata kerjanya tidak bisa dimaknai sebagai “percaya” atau “beriman”, tetapi mesti dimaknai sebagai “mengamankan dari rasa takut”.

الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Artinya: “(Allah) yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan” (Q.S. Quraisy [106]: 4).


Kedua, al-Qur’an juga menggunakan bentuk kata benda (ism) dari kata dasar āmana untuk merepresentasikan masing-masing makna yang berkonotasi keagamaan dan yang tidak berkonotasi keagamaan. Pada ayat yang dikutip berikut ini, kata benda al-mu’minīn mengandung arti keagamaan karena menunjuk pada orang-orang yang beriman. Kandungan ayat tersebut juga membahas tentang perintah bertakwa kepada Allah dan pemberitahuan bahwa manusia akan bertemu dengan Allah pada hari akhir nanti.

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: “Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman” (Q.S. al-Baqarah [2]: 223).


Sedangkan pada ayat yang dikutip berikut ini, kata benda mu’min digunakan tanpa konotasi keagamaan. Ayat tersebut mengisahkan tentang perbincangan saudara-saudara Yusuf dengan ayah mereka (Nabi Ya’qūb). Makna yang bernuansa religius tidak hadir dalam penggunaan kata mu’min dalam ayat tersebut. Kata ini hanya berarti “percaya” dalam pengertian biasa, karena kepercayaan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukan berkenaan dengan Allah, melainkan dengan Nabi Ya’qūb.

وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ

Artinya: “Dan engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.” (Q.S. Yūsuf [12]: 17).


Ketiga, yang paling menarik adalah bahwa al-Qur’an menggunakan bentuk kata benda abstrak (maṣdar) dari kata dasar āmana hanya untuk merujuk pada makna yang berkonotasi keagamaan. Seluruh kemunculan kata īmān (إِيمَان) sebagai bentuk kata benda abstrak (maṣdar) yang berjumlah 45 kali, secara konsisten menegaskan dimensi teologis iman.

Sebagai contoh, berikut ini akan dikutip beberapa ayat yang menunjukkan makna yang berkonotasi keagamaan dalam kata īmān (إِيمَان) itu. Ayat yang dikutip berikut ini dengan jelas menunjukkan keimanan kepada Allah.

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kami pun beriman” (Q.S. Āli ‘Imrān [3]: 193).

Adapun ayat berikut ini juga menunjukkan bentuk keimanan kepada Allah.

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ

Artinya: “Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu” (Q.S. al-Ḥujurāt [49]: 7).

Sementara ayat yang dikutip berikut ini juga menjelaskan tentang keimanan kepada Allah. Ayat tersebut bahkan membedakan antara īmān dan islām secara substansial. Orang-orang Arab Badui baru layak disebut telah tunduk (islām), namun belum beriman. Substansi iman belum menetap dalam hati mereka. Ayat ini menjadi alasan para ulama untuk menempatkan īmān di tingkat lebih tinggi daripada islām (ketundukan, kepatuhan, penyerahan diri) secara substansial.

قَالَتِ ٱلْأَعْرَابُ ءَامَنَّا ۖ قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا۟ وَلَٰكِن قُولُوٓا۟ أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ ٱلْإِيمَٰنُ فِى قُلُوبِكُمْ

Artinya: “Orang-orang Arab Badui berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, Kami telah tunduk (Islam),” karena iman belum masuk ke dalam hatimu” (Q.S. al-Ḥujurāt [49]: 14).


Pergeseran dan Arah Peta Makna

Sebaran anggota keluarga kata yang berasal dari kata dasar āmana di atas menunjukkan bahwa al-Qur’an secara konsisten mengarahkan makna kata ini ke dalam peta makna yang bercorak teologis-keagamaan. Meskipun muncul dalam bentuk kata yang beragam, baik dalam bentuk kata kerja (fi‘il), kata benda (ism), maupun kata benda abstrak (maṣdar), seluruhnya mengandung nuansa teologis-keagamaan. Seluruhnya juga menegaskan iman sebagai keyakinan, penerimaan, dan komitmen eksistensial terhadap Allah.

Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa al-Qur’an sama sekali tidak menghapus makna asal (al-aṣl; al-ma‘nā al-uṣūlī) kata ini, yakni “percaya” dan “memberi rasa aman”, tetapi tetap mempertahankannya. Hanya saja, ketika menggunakan berbagai kata dari kata dasar āmana ini, al-Qur’an mentransformasikannya ke arah konsep iman yang khas Qur’ani. Dalam proses ini, yang baru bukanlah bentuk katanya, melainkan objek dan cakupan maknanya. Dalam perspektif Qur’ani, kata iman yang berasal dari kata dasar āmana ini merujuk pada makna yang utuh dari keterkaitan antara kepercayaan (trust, belief), keyakinan (faith), dan keamanan (security) yang ditempatkan dalam kerangka relasi teologis antara manusia dan Allah. Wallahu a‘lam.


REFERENCES:

Cachia, P., Wehr, H., & Cowan, J. M. (1985). A Dictionary of Modern Written Arabic. Journal of the American Oriental Society, 105(4).

Ibn Manẓūr, M. bin M. (1414). Lisān al-‘Arab. In Sustainability (Switzerland).

Izutsu, T. (1964). Izutsu, God and Man in the Qur’an.

Izutsu, T. (2002). Ethico-Religious Concepts in the Qur’ān.


Leave a Comment