| 0 Comments | 13 Views

Card Image

Dosen UIN Sunan Kalijaga Edukasi Komunitas Pejuang VBAC tentang Pentingnya Evidence-Based Birth

Yogyakarta – Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Maylisa Oktavira, M.Pd.I, mengisi kegiatan Sharing Session yang diselenggarakan oleh Komunitas Pejuang VBAC secara daring melalui WhatsApp Group pada Kamis (9/7/2026). Mengangkat tema "Menjadi Pejuang VBAC yang Terinformasi: Membangun Kepercayaan Diri melalui Evidence-Based Birth", kegiatan ini menjadi ruang edukasi bagi para ibu dengan riwayat operasi caesar yang tengah mempersiapkan persalinan berikutnya. Acara dipandu oleh moderator Mutiah dan diikuti oleh anggota komunitas dari berbagai daerah di Indonesia.

Dalam sesi tersebut, Maylisa mengajak peserta untuk memahami bahwa menjadi pejuang Vaginal Birth After Cesarean (VBAC) tidak hanya berkaitan dengan keinginan melahirkan normal setelah operasi caesar, tetapi juga tentang kesiapan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang benar (evidence-based information). Menurutnya, di era digital saat ini para ibu dihadapkan pada banjir informasi yang tidak semuanya memiliki dasar ilmiah sehingga kemampuan memilah informasi menjadi bagian penting dalam proses persiapan persalinan.

"Kepercayaan diri seorang pejuang VBAC tidak dibangun oleh mitos ataupun sekadar pengalaman orang lain, tetapi oleh ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan," ungkap Maylisa dalam sesi diskusi. Ia menambahkan bahwa informasi yang benar bukanlah informasi yang hanya memberikan rasa nyaman atau sesuai dengan keinginan seseorang, melainkan informasi yang memiliki dasar penelitian, berasal dari sumber yang kredibel, serta mempertimbangkan kondisi unik setiap ibu.

Untuk membantu peserta menjadi pembelajar yang kritis, Maylisa memperkenalkan tiga pertanyaan sederhana yang dapat digunakan sebelum mempercayai suatu informasi, yaitu: siapa yang menyampaikan informasi, apa dasar ilmiahnya, dan apakah informasi tersebut sesuai dengan kondisi diri sendiri. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis merupakan bekal penting agar setiap ibu mampu mengambil keputusan persalinan secara sadar dan bertanggung jawab.

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Peserta menyampaikan berbagai pertanyaan mengenai peluang keberhasilan VBAC, persiapan kehamilan, pengelolaan berat badan selama kehamilan, hingga peluang menjalani Vaginal Birth After Two Cesareans (VBA2C). Seluruh pertanyaan dijawab dengan mengacu pada hasil penelitian terkini sekaligus mempertimbangkan kondisi individual setiap peserta.

Salah satu pertanyaan yang menarik perhatian peserta datang dari seorang ibu dengan riwayat dua kali operasi caesar yang menanyakan peluang untuk menjalani Vaginal Birth After Two Cesareans (VBA2C). Menanggapi pertanyaan tersebut, Maylisa menjelaskan bahwa peluang menjalani VBA2C tetap terbuka bagi ibu dengan kondisi yang memenuhi syarat dan telah melalui evaluasi medis yang komprehensif. Ia merujuk pada hasil penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Obstetrics, Gynecology and Cancer Research (JOGCR) yang melaporkan bahwa tingkat keberhasilan VBA2C berkisar antara 71–72 persen pada kandidat yang sesuai. Meski demikian, ia menegaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil penelitian pada populasi tertentu sehingga tidak dapat dijadikan jaminan bagi setiap individu. Oleh karena itu, setiap keputusan persalinan tetap perlu mempertimbangkan kondisi ibu dan janin serta didiskusikan bersama tenaga kesehatan yang kompeten. 

Melalui kegiatan ini, Komunitas Pejuang VBAC tidak hanya menjadi wadah berbagi pengalaman antarsesama ibu, tetapi juga berkembang sebagai ruang belajar yang mengedepankan edukasi berbasis bukti ilmiah (evidence-based birth). Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu para ibu memahami pilihan persalinan secara lebih komprehensif serta membangun kepercayaan diri dalam menjalani kehamilan dan persalinan.

Bagi Maylisa, kegiatan edukasi seperti ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Sebagai dosen, ia meyakini bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang di ruang kelas atau melalui publikasi ilmiah, tetapi juga perlu dihadirkan secara langsung kepada masyarakat melalui edukasi yang mudah dipahami, relevan dengan kebutuhan, dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup.

Sejalan dengan komitmen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai perguruan tinggi yang mengintegrasikan keilmuan, kemanusiaan, dan pengabdian kepada masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat literasi kesehatan ibu sekaligus mendorong lahirnya keputusan-keputusan persalinan yang lebih terinformasi, aman, dan berorientasi pada keselamatan ibu serta bayi.


Leave a Comment