| 0 Comments | 2 Views

Card Image

Founder Pejuang VBAC Ajak Ibu Hamil Menyusun Birth Plan sebagai Bekal Persalinan yang Terinformasi

Yogyakarta – Persiapan persalinan sering kali identik dengan menyiapkan perlengkapan bayi, memilih rumah sakit, atau menentukan dokter yang akan mendampingi. Namun, tidak banyak ibu yang menyadari pentingnya mempersiapkan diri untuk proses pengambilan keputusan selama persalinan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Founder Komunitas Pejuang VBAC sekaligus dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Maylisa Oktavira, M.Pd.I., mengajak para ibu hamil memahami pentingnya birth plan sebagai bagian dari persiapan menuju persalinan yang aman, terinformasi, dan berpusat pada ibu.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui WhatsApp Group Komunitas Pejuang VBAC ini diikuti oleh para ibu dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pejuang VBAC, ibu hamil pertama, hingga perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pengalaman peserta mengenai proses menyusun birth plan.

Dalam pemaparannya, Maylisa menegaskan bahwa birth plan bukanlah daftar tuntutan kepada tenaga kesehatan ataupun jaminan bahwa seluruh proses persalinan akan berjalan persis sesuai rencana. Sebaliknya, birth plan merupakan alat komunikasi yang membantu ibu, keluarga, dan tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang sama mengenai harapan, preferensi, dan nilai-nilai yang ingin dijaga selama proses persalinan.

"Birth plan bukan dibuat untuk mengikat keadaan agar semua berjalan sesuai keinginan kita. Birth plan membantu kita datang ke ruang bersalin dengan lebih siap, lebih tenang, dan lebih memahami pilihan-pilihan yang kita miliki ketika rencana harus berubah," jelasnya.

Melalui analogi perjalanan menggunakan peta digital, peserta diajak memahami bahwa sebagaimana aplikasi navigasi membantu seseorang tetap menemukan arah ketika menghadapi jalan macet atau penutupan jalan, birth plan juga berfungsi sebagai "peta perjalanan" selama proses persalinan. Tujuannya bukan menghilangkan kemungkinan perubahan, melainkan membantu ibu tetap mampu mengambil keputusan secara tenang ketika kondisi berkembang di luar rencana awal.

Diskusi juga menyoroti pentingnya menyusun birth plan secara kolaboratif. Menurut Maylisa, dokumen tersebut idealnya tidak hanya diketahui oleh ibu, tetapi juga didiskusikan bersama suami, provider, serta pendamping persalinan lainnya. Dengan demikian, seluruh pihak memiliki tujuan yang sama dalam mendukung proses persalinan.

"Persalinan bukan perjuangan ibu seorang diri. Persalinan adalah kerja sama antara ibu, keluarga, dan tenaga kesehatan. Karena itu, birth plan menjadi jembatan komunikasi agar semua pihak memahami apa yang penting bagi ibu dan dapat mengambil keputusan bersama sesuai kondisi yang dihadapi," ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, peserta juga mengangkat kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan rencana, seperti provider yang tidak dapat mendampingi saat persalinan berlangsung. Menanggapi hal tersebut, Maylisa mendorong para ibu untuk tidak hanya bergantung pada satu pilihan provider, melainkan menyiapkan alternatif sebagai bagian dari antisipasi. Menurutnya, yang paling penting bukanlah memastikan semua rencana terlaksana, tetapi memastikan ibu tetap memahami kondisi yang dihadapi serta dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan.

Di penghujung sesi, peserta diajak memandang persiapan persalinan secara lebih utuh. Selain menyiapkan perlengkapan bayi, ibu juga perlu mempersiapkan diri melalui pengetahuan, komunikasi, dan perencanaan yang matang.

"Jangan hanya sibuk menyiapkan perlengkapan bayi. Siapkan juga diri kita untuk proses persalinan dengan matang. Karena persalinan bukan hanya tentang bagaimana bayi lahir, tetapi juga tentang bagaimana seorang ibu merasa didengar, dihargai, dan dilibatkan dalam setiap keputusan."

Melalui kegiatan edukasi ini, Komunitas Pejuang VBAC berharap semakin banyak ibu yang memahami bahwa birth plan merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk menghadirkan pengalaman persalinan yang lebih positif, penuh penghormatan, dan berpusat pada kebutuhan ibu dan bayi. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kontribusi sivitas akademika UIN Sunan Kalijaga dalam pengabdian kepada masyarakat melalui penyebarluasan literasi kesehatan maternal berbasis edukasi dan pemberdayaan perempuan.


Leave a Comment