| 0 Comments | 182 Views
Keris ini merupakan Keris yang pertama kali saya miliki secara sempurna, yaitu mulai dari mencari dan membeli material Keris, memesan pembuatan bilah keris dari seorang Empu, sampai memesan warangkanya dari seorang Maranggi.
Tangguh atau era/zaman pembuatan Keris ini termasuk tangguh kamardikan, yaitu dibuat setelah era kemerdekaan Republik Indonesia 1945. Keris ini dibuat oleh Empu Ngadeni, 92 tahun, salah satu Empu 'sepuh' di Yogyakarta, tepatnya di Grogol II, Bejiharjo, Gunungkidul, antara bulan Januari - Maret 2026.
Material Keris ini terdiri dari Wase Langanro (Kapak Besi Manurung) dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan, yang saya peroleh dari salah satu Komunitas Detector Wajo (KDW) di Sulawesi Selatan dan besi-besi kuno berupa pusaka yang berasal dari masa Kabudhan (sekitar abad ke-7 hingga ke-10 Masehi), yang saya dapatkan dari Cimahi, Jawa Barat.
Adapun sarung atau wadah bilah keris ini saya pesan dari Mbah Panggih, salah satu Maranggi (ahli pembuat warangka keris) terkenal yang tinggal di Banyusumurup, Girirejo, Imogiri, Bantul. Saya sengaja memilih gaya warangka keris Gayaman Yogyakarta, karena bentuknya sederhana dan membulat (gandon) dan memiliki kesan praktis. Warangka keris dibuat dari Kayu Stigi tua, jenis kayu yang dipercaya memiliki tuah dan banyak dijumpai di Pulau Karimun Jawa; dan deder (gagang Keris) yang terbuat dari galih Pohon Asem tua; pendok (penutup logam) terbuat dari tembaga, serta dilengkapi dengan selut (cincin penahan yang dipasang pada bagian atas ganja keris atau di bawah deder, sebagai hiasan dan pelengkap struktur) yang terbuat dari Perak.
Dhapur atau bentuk bilah Keris ini termasuk kategori Dhapur Keris Lurus tipe Jalak, dan juga termasuk kategori dhapur Kala, yang syarat makna filosofis-religiusnya, yaitu Sumelang (kekhawatiran) Gandring (cinta kepada Sang Pencipta), sebagai perlambang kekawatiran hilangnya Cinta hamba kepada Tuhannya. Keris dengan dhapur Jalak Sumelang Gandring merupakan salah satu dhapur yang melegenda. Legenda dhapur Keris ini dapat Anda baca melalui link berikut: Legenda dhapur Keris Jalak Sumelang Gandring. Bagi Simbah Empu Ngadeni, dengan dhapur keris ini Beliau memiliki pengharapan dan doa agar pemiliknya: "Gesang ipun wonten ing projo, sedayanipun, rino lan dalu, pinaringan, kuwat waras, selamet, disihsesamine gesang, pinaringan, pepadang, arah leres rahayu sakeng ngarsane, gusti kang moho kuwoso."
Adapun pamor atau pola hiasan berwarna putih keperakan pada bilah keris, disebut sebagai pamor Wahyu Tumurun. Bagi Simbah Empu Ngadeni, pamor ini mengandung makna pengharapan agar pemiliknya itu: "Gesang ipun wonten ing projo, sedayanipun panaringan, ringan ilham, sakeng gusti, rejekini pun lancar, lestari, sedyo panyuwunan kinabulan sakeng gusti."
Keris Jalak Sumelang Gandri ini oleh Sang Empu Ngadeni diberi nama Eko Buwono, dengan maksud agar pemiliknya: "Gesang ipun wonten ing projo, sedoyo pinaringan manunggal guyup rukun ayem tentrem mulyo sakeng ngarsane gusti kang moho kuwoso."
Leave a Comment