| 0 Comments | 201 Views
Keris dengan Dhapur Brojol merupakan salah satu dari 10 dhapur keris yang wajib dikoleksi, menurut Galeri Pusaka Indonesia, termasuk bagi pemula seperti saya (hehehe). Keris Dhapur Brojol adalah keris ke-2 yang saya miliki secara lengkap, karena saya memulai sendiri dari mencari dan membeli material, memesan pembuatan bilah Keris kepada Empu, dan memesan warangka keris kepada maranggi.
Jelas dilihat dari tangguhnya adalah tangguh kamardikan, karena keris ini dibuat antara bulan Januari-Maret 2026 atau 81 Tahun setelah Indonesia merdeka. Benar-benar Keris kemarin sore! Meski demikian, saya tetap senang dan bangga dengan Keris ini. Mengapa? Karena kalau dilihat dari materialnya, keris ini terbuat dari Wase Langanro (Kapak Besi Manurung) dari daerah Luwu, Sulawesi Selatan, satu wilayah yang sejak zaman dulu dikenal sebagai daerah penghasil besi terbaik di Indonesia. Selain itu, material keris ini juga terdiri dari besi-besi kuno berupa pusaka yang berasal dari masa Kabudhan (sekitar abad ke-7 hingga ke-10 Masehi). Bayangkan besi-besi dari puluhan abad yang lalu.
Besi-besi kuno ini kemudian ditempa oleh seorang empu yang dikenal paling sepuh saat ini, karena umurnya sudah lebih dari 90 Tahun, yaitu Empu Ngadeni. Tentu pengalamannya sudah tidak diragukan lagi. Menurut penuturan beliau, sudah ribuan keris yang dihasilkan hingga saat ini. Empu Ngadeni juga memiliki legitimasi kuat sebagai seorang empu. Selain mengalami masa-masa perjuangan sebelum kemerdekaan, beliau juga pernah diundang dan diberi pesan khusus oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk terus membuat dan melestarikan keris.
Selain itu, banyak dari pecinta keris yang mengakui kualitas garap Empu Ngadeni. Mas Rachmad Resmiyanto misalnya, yang seorang dosen-akademisi sekaligus gandrung dengan Dunia perkerisan, mengatakan: "Keunggulan pusaka karya Empu Ngadeni itu terletak pada keotentikannya." Empu Ngadeni tidak bisa 'disetir' oleh pemesan Keris! Beliau memiliki gayanya sendiri. Otantik! Termasuk dalam hal pamor, Beliau penganut madzhab 'pamor tiban'. Bahwa munculnya pamor keris itu tidak by design atau 'pamor rekan', melainkan anugerah dari laku-laku spiritual seorang empu. Mas Rachmad dan Mbah Panggih (seorang Maranggi yang saya ceritakan pada postingan sebelumnya) juga mengakui kedalaman Keris karya Empu Ngadeni. "Adhem, nanting keris karyanya Mbah Ngadeni itu", tutur Mas Rachmad suatu waktu.
Setelah Keris jadi, kemudian saya memesan warangka keris. Maranggi Idola saya jatuh pada sosok Mbah Panggih, yang memiliki koleksi kayu-kayu langka, seperi Kayu Nogosari dari Pajimatan (sekitar makam Raja-Raja Mataram di Imogiri), Kayu Cendana Timur-Timur, Kayu Kembang Kanthil, Kayu Tengsek Gunung Merapi, Kayu Stigi, dan tentu saja Kayu Timoho. Selain itu, beliau juga dikenal dengan garapnya yang halus, dan ternyata kolektor Keris-keris langka!. Nah, warangka dan deder Keris saya yang berdhapur Brojol ini terbuat dari galih Kayu Asem (lihatlah mirip dengan Kayu Timoho). Selain itu juga dilengkapi dengan pendhok yang berbahan tembaga dan selut bermateri Perak Asli!.
Dhapur Brojol memiliki ciri khas bilah yang lurus dengan gandhik yang polos. Kesederhanaan bentuknya mencerminkan sifat yang lugas—sebuah simbol kejujuran dan kemurnian niat dalam menetapkan cita-cita serta harapan yang bermanfaat. Sesuai namanya, "Brojol" berarti lahir. Dalam konteks kehidupan, menurut Galeri Pusaka Indonesia, ini merefleksikan lahirnya sebuah tindakan nyata. Filosofi ini mengajarkan bahwa: "A journey must start with the first step." Tidak akan pernah ada hasil tanpa langkah pertama. Keris Dhapur Brojol hadir sebagai penguat keyakinan untuk mengikis keraguan dan menghilangkan rasa gentar. Sehingga memahami filosofi Brojol berarti memahami pentingnya langkah pertama sebagai awal perjuangan. Ia adalah simbol mentalitas yang mandiri dan berani memulai, memastikan bahwa cita-cita tidak hanya berhenti di kepala, tetapi mewujud melalui tindakan yang nyata.
Menurut Simbah Empu Ngadeni, keris dengan dhapur Brojol ini memiliki maksud agar pemiliknya itu: "Gesang ipun, wonten ing projo, tansah pinaringan teguh rahayu, sedayanipun, pinaringan, keyatan rohani lan jasmani, disih sesamine gesang, pinaringan pepadang sakeng gusti moho, kuwoso."
Adapun pamor tiban yang muncul pada bilah Keris ini, oleh Empu Ngadeni diidentifikasi sebagai pamor 'padaringan kebak'. Beliau memberi makna pamor ini agar pemilik Keris ini: "Gesang ipun, wonten ing projo, pinaringan rejeki, ageng, komplet, tan kuciwo, sakeng ngarsane gusti."
Untuk yang kedua kalinya, Simbah Empu Ngadeni memberi nama 'Eko Buwono' untuk Keris saya ini. Beliau memiliki maksud agar: "Gesang ipun, wonten ing projo, sedayanipun, pina- ringan, manunggal, rukun, ayem tentrem, bejo, mulyo sedyo, panyuwunan, lestari, lancar, selamet, sa- keng ngarsane, gusti ing kang, moho, kuwoso."
Sekian.
Leave a Comment