| 0 Comments | 13 Views
Fakta Artifisial
Penggunaan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin masif. AI merupakan teknologi yang memungkinkan komputer untuk membantu menyelesaikan tugas, seperti menjawab pertanyaan, memecahkan masalah, dan mencetuskan ide, dan berbagai fitur unik lainnya, seperti halnya manusia. Penggunaannya di berbagai lini, mulai dari hiburan, pendidikan, seni, bahkan telah hadir di bagian paling dekat dengan aktivitas keseharian kita, yakni muncul di perangkat pengirim pesan (messenger).
Berbagai perusahaan teknologi telah berbondong-bondong mengembangkan AI dengan berbagai fitur mutakhir. Beberapa teknologi AI bahkan mampu memproduksi gambar, suara, bahkan video yang sangat menyerupai produk buatan manusia. Dengan teknologi konvensional produk serupa mungkin dibuat dalam waktu yang tidak sebentar, namun kehadiran AI mengakselerasi segalanya, mulai dari waktu sekaligus hasilnya.
Singkatnya, seseorang yang menggunakan AI akan bekerja lebih efektif dan efisien ketimbang orang yang menggunakan teknologi konvensional, apalagi orang yang tidak menggunakan teknologi sama sekali. Penggunaan AI memang bukan keterampilan dasar sebagaimana keterampilan berbahasa, berpikir kritis, dan sebagainya. Namun di masa era yang serba memerlukan percepatan ini, penggunaannya akan mempermudah segalanya. Era di mana hampir semua orang menggunakan AI, maka pengguna dengan keterampilan terbaiklah yang akan memenangi permainan.
Teknologi Deepfake
Mengagumkannya, pertanyaan atau masalah yang dikirimkan mampu direspons secara akurat atau paling tidak mendekati akurat. Hal ini membuat teknologi AI semacam ChatGPT menjadi sangat popular untuk semua kalangan. Namun segala kemudahan ini tentu menyisakan beberapa pertanyaan, apakah AI sesempurna itu, dan bagaimana efeknya ke depan bagi tatanan sosial?
Deepfake, teknologi berbasis AI yang mampu membuat gambar, suara, atau video palsu dengan tingkat akurasi yang tinggi. Sebagai contoh, kita dapat menduplikat ekspresi wajah, suara, perilaku, dan pola bicara seseorang sesuai dengan yang kita kehendaki. Salah satu contoh penggunaan teknologi Deepfake yang sudah banyak beredar di medsos antara lain ialah ‘menghidupkan kembali’ sosok yang sudah tiada, yakni dengan membuat video dari gambar orang atau tokoh tertentu dengan hasil yang nyaris sempurna.
Bayangkan apabila teknologi semacam ini digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Mereka dapat memanfaatkannya untuk membuat video palsu untuk keperluan tertentu, semisal fitnah untuk menjatuhkan kompetitor, atau bahkan kampanye hitam (black campaign) pada kontestasi politik. Membayangkannya saja sudah cukup membuat ngeri. Faktanya, hal ini bukan lagi teknologi masa depan, namun sudah terjadi saat ini.
Untuk orang dengan kemampuan berpikir kritis yang rendah, membedakan berita bohong yang berupa teks saja, mungkin sudah terlalu susah, apalagi dalam bentuk visual seperti video yang sangat realis. Kehadiran teknologi AI semacam Deepfake, akan menjadi tantangan yang lebih berat pada ekosistem dunia maya. Perebutan ruang publik virtual tengah berada pada babak yang baru. Pertarungan ide dan gagasan untuk meraih atensi dan mendulang engagement tidak akan semudah era sebelumnya.
Berpikir Kritis
Saking mudahnya AI digunakan, penggunanya seakan menjelma menjadi ‘pencipta’ segalanya. Kendati AI tampak sempurna karena mampu menyelesaikan pelbagai persoalan serta mampu membuat apapun, namun hal tersebut merupakan produk dari kecerdasan yang artifisial. Artinya, ketika ia digunakan untuk merekonstruksi skenario cerita dan membuatnya tampak seperti fakta, maka fakta tersebut juga bersifat artifisial, tampak nyata, namun sebenarnya palsu.
Di internet telah banyak tersebar kiat untuk membedakan karya produksi AI dan manusia, yakni dengan mengamati detail dan kualitas gambar, suara, atau video misalnya. Cara lainnya yakni dengan memperhatikan konteks video. Teknologi Deepfake banyak digunakan untuk membuat skenario yang tidak masuk akal, seperti pidato politik dengan pernyataan yang terlalu bombastis. Melihat konteks video dapat menjadi cara lain untuk mengidentifikasi keaslian video. Jika terlalu berlebihan maka menaruh kecurigaan sangat disarankan.
AI memang memudahkan dalam banyak hal, namun di sisi lain memiliki potensi ancaman yang sangat serius. Di masa penggunaannya yang tidak terhindarkan, meningkatkan critical thinking akan menghindarkan kita dari banyak kesesatan dalam mengambil keputusan. Dalam konteks untuk mengevaluasi fakta artifisial produk AI, semacam gambar atau video hasil dari teknologi Deepfake, kemampuan berpikir kritis sangatlah dibutuhkan. AI masih belum sesempurna itu, produknya masih perlu dievaluasi dengan kecerdasan alami.
Penulis: Thoriq Tri Prabowo, M.IP., Ph.D. (Dosen Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Leave a Comment