| 0 Comments | 31 Views
Seri Analisis Linguistik dan Refleksi Filosofis atas Frekuensi Kemunculan Kata Iman dalam al-Qur’an – Bagian Ketiga
Pada bagian kedua dari seri tulisan ini telah diuraikan data tentang frekuensi dan sebaran anggota keluarga kata iman yang secara keseluruhan muncul sebanyak 879 kali dalam al-Qur’an. Pada bagian ini dan bagian berikutnya, saya akan mencoba menyusun peta makna kata iman berdasarkan data tersebut. Penyusunan peta makna yang dimaksud akan dimulai dari anggota keluarga kata iman yang dibentuk dari kata dasar amina dan dilanjutkan dengan kata dasar āmana dan kata dasar i'tamana.
Pada masing-masing bagian akan ditelusuri juga pergeseran peta makna yang terjadi pada kata dasar tersebut beserta kata-kata turunannya. Refleksi filosofis juga akan dilakukan untuk menyingkap bagaimana pergeseran peta makna tersebut berperan penting dalam membentuk konsep iman yang khas dalam pandangan dunia (worldview) Qur’ani, dan sekaligus menegaskan posisi iman sebagai fondasi eksistensial dalam kehidupan manusia.
Makna Asal: Rasa Aman, Bebas dari Ketakutan, dan Percaya
Semua bentuk kata yang menjadi anggota
keluarga kata (word family) iman berasal dari akar trilateral hamzah-mīm-nūn (أ
م ن). Bentuk trilateral murni (ṡulāṡī
al-mujarrad) dari akar trilateral ini adalah kata amina (أَمِنَ). Dalam sistem penomoran angka Romawi model Hans Wehr
Menurut catatan Ibn
Manẓūr dalam karya monumentalnya yang berjudul Lisān al-‘Arab, kata amina
mengandung dua arti. Pertama, kebalikan dari rasa takut
Murtaḍa al-Zabīdī, dalam
karyanya Tāj al-‘Arūs fī Jawāhir al-Qamūs mengaitkan rasa aman dengan
waktu. Menurutnya, rasa aman adalah kondisi terhindar dari hal-hal yang tidak
menyenangkan di masa depan. Kondisi ini berasal dari ketenangan jiwa dan
hilangnya rasa takut
Arti kedua yang
dicatat oleh Ibn Manẓūr adalah percaya
Keluarga Kata Amina dalam al-Qur’an
Secara keseluruhan, anggota keluarga kata iman yang berasal dari akar amina muncul sebanyak 66 kali dalam al-Qur’an. Kemunculan ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yaitu: kata kerja (fi‘il), kata benda abstrak atau verba nomina (maṣdar), dan kata benda (ism). Kita akan mencermati bagaimana dua makna asal, yaitu “rasa aman” dan “percaya” direpresentasikan dalam al-Qur’an melalui tiga kategori tersebut.
Pertama, dalam kategori kata kerja (fi‘il), al-Qur’an merujuk pada masing-masing dari kedua makna asal tersebut ketika menggunakan kata amina. Tiga ayat yang terdapat di dalam surat al-A‘rāf yang dikutip berikut ini memuat kata amina yang merujuk pada arti “rasa aman” atau “kebalikan rasa takut”.
أَفَأَمِنَ أَهْلُ ٱلْقُرَىٰٓ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَٰتًۭا وَهُمْ نَآئِمُونَ (٩٧) أَوَأَمِنَ أَهْلُ ٱلْقُرَىٰٓ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًۭى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٩٨) أَفَأَمِنُوا۟ مَكْرَ ٱللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْخَٰسِرُونَ (٩٩)
Artinya: “Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi” (Q.S. al-A‘rāf [7]: 97-99).
Sementara pada
surat al-Baqarah yang dikutip berikut ini, kata amina merujuk pada arti “percaya”.
فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًۭا فَلْيُؤَدِّ ٱلَّذِى ٱؤْتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ وَلْيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ
Artinya: “Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian
yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan
hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya” (Q.S. al-Baqarah [2]: 283).
Kedua, dalam kategori kata benda abstrak atau verba nomina (maṣdar),
al-Qur’an juga merujuk pada masing-masing dari kedua makna asal tersebut. Ayat
yang terdapat di dalam surat an-Nisā’ berikut ini memuat kata al-amn yang
merupakan kata benda abstrak (maṣdar) dari akar amina yang
merujuk pada arti “keamanan”.
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ
Artinya: “Dan
apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan,
mereka (langsung) menyiarkannya” (Q.S. an-Nisā’ [4]: 83).
Sementara dalam
surat Mu’minūn dan al-Ma‘ārij yang dikutip berikut ini, kata amānāt yang
merupakan kata benda abstrak (maṣdar) dari akar amina memuat arti
“kepercayaan” atau sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang.
وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ
Artinya: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya” (Q.S. al-Mu’minūn [23]: 8) juga (Q.S. al-Ma‘ārij [70]: 32).
Ketiga, dalam kategori
kata benda (ism), anggota keluarga kata ini muncul dalam bentuk partisip
aktif (ism fā‘il), partisip pasif (ism maf‘ūl), nomina tempat (ism
makān), dan adjektiva (ṣifah). Ketika menggunakan bentuk kata dalam
kategori ini, al-Qur’an juga merujuk pada masing-masing dari kedua makna asal amina,
yaitu “rasa aman” dan “percaya”. Ayat yang terdapat di dalam surat Fuṣṣilat
berikut ini memuat kata āminan yang merupakan bentuk partisip aktif (ism
fā‘il) dari akar amina yang merujuk pada arti “aman”.
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَآ ۗ أَفَمَن يُلْقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِىٓ ءَامِنًۭا يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang
mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami.
Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka yang lebih baik ataukah
mereka yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat?” (Q.S. Fuṣṣilat [41]:
40).
Sementara dalam
surat ad-Dukhān yang dikutip berikut ini, kata amīn yang merupakan
adjektiva (ṣifah) dari akar amina memuat arti “dapat dipercaya”.
أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
Artinya: “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya” (Q.S. ad-Dukhān [44]: 18).
Sebaran anggota keluarga kata yang
berasal dari akar amina di atas menunjukkan bahwa al-Qur’an tetap
mempertahankan makna asal (al-aṣl; al-ma‘nā al-uṣūlī) kata ini,
meskipun masing-masing bentuk menempati kelas kata yang berbeda. Hal ini
memperlihatkan bahwa variasi morfologis tidak mengaburkan makna asal, melainkan
menegaskan konsistensi semantik yang menjadi ciri khas bahasa Arab.
Konsistensi semantik ini juga tampak
ketika al-Qur’an menggunakan masing-masing dari anggota keluarga kata tersebut.
Baik dalam bentuk kata kerja, kata benda abstrak, maupun kata benda, makna yang
terkandung dalam masing-masing anggota keluarga kata ini tetap berakar pada
pengertian “rasa aman” dan “percaya” yang saling menopang.
Pergeseran Peta Makna
Hal yang menarik dari kemunculan keluarga kata dari akar amina ini dalam al-Qur’an adalah pergeseran peta makna yang terjadi padanya. Dalam konteks masyarakat Arab pra-Islam, beragam bentuk kata yang berasal dari akar amina merujuk pada arti “rasa aman” dan “sikap percaya” yang bersifat individual atau antarindividu. Maknanya lebih pragmatis dan lebih terikat pada konteks sosial dan material. Kita juga telah menyaksikan bagaimana al-Qur’an menggunakan beragam bentuk kata tersebut dan mempertahankan makna asalnya.
Namun
tampaknya ketika kata-kata dari akar amina ini muncul dalam al-Qur’an,
makna asalnya tidak sekadar dipertahankan, tetapi diperdalam dan diperluas.
Al-Qur’an menggunakannya, namun memperluas cakrawala dan menggeser peta maknanya
sehingga mengandung nuansa dan konteks teologis dan eksistensial yang khas.
Untuk melihat pergeseran peta makna yang dimaksud, marilah
kita cermati kembali tiga ayat dalam surat al-A‘rāf [7]: 97-99 yang telah saya
kutip di atas. Pada tiga ayat tersebut, kata amina muncul
dalam bentuk kata kerja lampau (fi‘il māḍī; past tense) atau kata
kerja sekarang (fi‘il muḍāri‘; present tense). Yang menarik adalah bahwa pada setiap kemunculannya, kata tersebut selalu berada dalam
relasi dengan kata “Allah” atau kata ganti-Nya. Pada ketiga ayat itu, rasa aman
berkenaan dengan siksaan Allah.
Relasi
ini menunjukkan bahwa makna “rasa aman” yang terkandung dalam ketiga ayat
tersebut tidak lagi sekadar bersifat psikologis dan duniawi, melainkan juga berkenaan
dengan dimensi ketuhanan. Penggunaan kata amina yang dihubungkan dengan siksaan
Allah dalam ketiga ayat itu menunjukkan perspektif Qur’ani yang khas, yaitu
bahwa rasa aman yang sejati hanya mungkin dalam kerangka relasi manusia dengan
Allah.
Kenyataan yang mengejutkan adalah bahwa
ketiga ayat
dalam surat al-A‘rāf di atas tidak hanya berfungsi sekadar sebagai ilustrasi.
Pada kenyataannya, dari 66 kali kemunculan keluarga kata dari akar amina
dalam al-Qur’an, 65 kalinya muncul dalam keterhubungan dengan dimensi ketuhanan.
Pada 65 kali kemunculan itu, kata Allah atau kata ganti-Nya selalu hadir dalam
ayat yang sama atau dalam pokok yang sama yang sedang dibicarakan dalam ayat yang
bersangkutan. Hal ini menegaskan perspektif Qur’ani tentang rasa aman. Rasa
aman tidak pernah berdiri sendiri, melainkan
selalu dipahami dalam kerangka relasi manusia dengan Allah.
Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa peta makna anggota keluarga kata dari akar amina
mengalami pergeseran yang signifikan ketika muncul dalam al-Qur’an. Dari makna
asal (al-aṣl; al-ma‘nā al-uṣūlī) yang
merujuk pada “rasa aman”, “kebalikan dari rasa takut”, dan “percaya” dalam
konteks individu dan sosial sehari-hari, makna tersebut ditransformasikan ke
dalam peta makna yang mengandung dimensi ketuhanan. Al-Qur’an tidak hanya
mempertahankan akar semantik kata ini, tetapi juga memperluasnya sehingga
“aman” dan “percaya” menjadi fondasi iman sebagai inti relasi manusia dengan
Allah. Wallahu a‘lam.☺
REFERENCES:
Al-Zabīdī, M. (1900). Tāj al-‘Arūs fī Jawāhir al-Qamūs. Dār Maktabah al-Ḥayāh.
Cachia, P., Wehr,
H., & Cowan, J. M. (1985). A Dictionary of Modern Written Arabic. Journal
of the American Oriental Society, 105 (4).
Ibn Fāris, A.
al-Ḥusain A. (1979). Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah. Dār al-Fikr.
Ibn Manẓūr, M.
bin M. (1414). Lisān al-‘Arab. In Sustainability (Switzerland).
Leave a Comment