| 0 Comments | 31 Views

Card Image

 

Seri Analisis Linguistik dan Refleksi Filosofis atas Frekuensi Kemunculan Kata Iman dalam al-Qur’an – Bagian Ketiga

Pada bagian kedua dari seri tulisan ini telah diuraikan data tentang frekuensi dan sebaran anggota keluarga kata iman yang secara keseluruhan muncul sebanyak 879 kali dalam al-Qur’an. Pada bagian ini dan bagian berikutnya, saya akan mencoba menyusun peta makna kata iman berdasarkan data tersebut. Penyusunan peta makna yang dimaksud akan dimulai dari anggota keluarga kata iman yang dibentuk dari kata dasar amina dan dilanjutkan dengan kata dasar āmana dan kata dasar i'tamana.

Pada masing-masing bagian akan ditelusuri juga pergeseran peta makna yang terjadi pada kata dasar tersebut beserta kata-kata turunannya. Refleksi filosofis juga akan dilakukan untuk menyingkap bagaimana pergeseran peta makna tersebut berperan penting dalam membentuk konsep iman yang khas dalam pandangan dunia (worldview) Qur’ani, dan sekaligus menegaskan posisi iman sebagai fondasi eksistensial dalam kehidupan manusia.


Makna Asal: Rasa Aman, Bebas dari Ketakutan, dan Percaya

Semua bentuk kata yang menjadi anggota keluarga kata (word family) iman berasal dari akar trilateral hamzah-mīm-nūn (أ م ن). Bentuk trilateral murni (ṡulāṡī al-mujarrad) dari akar trilateral ini adalah kata amina (أَمِنَ). Dalam sistem penomoran angka Romawi model Hans Wehr (Cachia et al., 1985), kata ini termasuk dalam kategori kata dasar bentuk I. Secara semantik, kata inilah yang menjadi pusat makna yang memayungi seluruh derivasi keluarga kata iman. Seluruh bentuk turunannya bergerak dalam medan semantik besar yang berpusat pada makna dasar kata amina ini.

Menurut catatan Ibn Manẓūr dalam karya monumentalnya yang berjudul Lisān al-‘Arab, kata amina mengandung dua arti. Pertama, kebalikan dari rasa takut (Ibn Manẓūr, 1414). Yang dimaksud adalah rasa aman. Arti ini perlu dibedakan dari “berani” yang dalam bahasa Indonesia merupakan antonim dari “takut”.

Murtaḍa al-Zabīdī, dalam karyanya Tāj al-‘Arūs fī Jawāhir al-Qamūs mengaitkan rasa aman dengan waktu. Menurutnya, rasa aman adalah kondisi terhindar dari hal-hal yang tidak menyenangkan di masa depan. Kondisi ini berasal dari ketenangan jiwa dan hilangnya rasa takut (Al-Zabīdī, 1900).

Arti kedua yang dicatat oleh Ibn Manẓūr adalah percaya (Ibn Manẓūr, 1414). Ibn Fāris (1979) dalam Maqāyīs al-Lughah menyebutkan bahwa kedua arti dari kata amina ini saling berkaitan. Sikap percaya melahirkan rasa aman, dan rasa aman meneguhkan kepercayaan. Bila mengikuti kaidah Ibn Fāris, kedua arti inilah yang menjadi makna asal (al-aṣl; al-ma‘nā al-uṣūlī) dari seluruh anggota keluarga kata iman.


Keluarga Kata Amina dalam al-Qur’an

Secara keseluruhan, anggota keluarga kata iman yang berasal dari akar amina muncul sebanyak 66 kali dalam al-Qur’an. Kemunculan ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yaitu: kata kerja (fi‘il), kata benda abstrak atau verba nomina (maṣdar), dan kata benda (ism). Kita akan mencermati bagaimana dua makna asal, yaitu “rasa aman” dan “percaya” direpresentasikan dalam al-Qur’an melalui tiga kategori tersebut.

Pertama, dalam kategori kata kerja (fi‘il), al-Qur’an merujuk pada masing-masing dari kedua makna asal tersebut ketika menggunakan kata amina. Tiga ayat yang terdapat di dalam surat al-A‘rāf yang dikutip berikut ini memuat kata amina yang merujuk pada arti “rasa aman” atau “kebalikan rasa takut”.

 

 أَفَأَمِنَ أَهْلُ ٱلْقُرَىٰٓ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا بَيَٰتًۭا وَهُمْ نَآئِمُونَ (٩٧) أَوَأَمِنَ أَهْلُ ٱلْقُرَىٰٓ أَن يَأْتِيَهُم بَأْسُنَا ضُحًۭى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٩٨) أَفَأَمِنُوا۟ مَكْرَ ٱللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْخَٰسِرُونَ (٩٩)

 

Artinya: “Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi” (Q.S. al-A‘rāf [7]: 97-99).

 

Sementara pada surat al-Baqarah yang dikutip berikut ini, kata amina merujuk pada arti “percaya”.

 

فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًۭا فَلْيُؤَدِّ ٱلَّذِى ٱؤْتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ وَلْيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ


Artinya: “Tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya” (Q.S. al-Baqarah [2]: 283).

 

Kedua, dalam kategori kata benda abstrak atau verba nomina (maṣdar), al-Qur’an juga merujuk pada masing-masing dari kedua makna asal tersebut. Ayat yang terdapat di dalam surat an-Nisā’ berikut ini memuat kata al-amn yang merupakan kata benda abstrak (maṣdar) dari akar amina yang merujuk pada arti “keamanan”.

 

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ

Artinya: “Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya” (Q.S. an-Nisā’ [4]: 83).

 

Sementara dalam surat Mu’minūn dan al-Ma‘ārij yang dikutip berikut ini, kata amānāt yang merupakan kata benda abstrak (maṣdar) dari akar amina memuat arti “kepercayaan” atau sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang.

 

وَٱلَّذِينَ هُمْ لِأَمَٰنَٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَٰعُونَ


Artinya: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya” (Q.S. al-Mu’minūn [23]: 8) juga (Q.S. al-Ma‘ārij [70]: 32).

 

Ketiga, dalam kategori kata benda (ism), anggota keluarga kata ini muncul dalam bentuk partisip aktif (ism fā‘il), partisip pasif (ism maf‘ūl), nomina tempat (ism makān), dan adjektiva (ṣifah). Ketika menggunakan bentuk kata dalam kategori ini, al-Qur’an juga merujuk pada masing-masing dari kedua makna asal amina, yaitu “rasa aman” dan “percaya”. Ayat yang terdapat di dalam surat Fuṣṣilat berikut ini memuat kata āminan yang merupakan bentuk partisip aktif (ism fā‘il) dari akar amina yang merujuk pada arti “aman”.

 

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِىٓ ءَايَٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَآ ۗ أَفَمَن يُلْقَىٰ فِى ٱلنَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِىٓ ءَامِنًۭا يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ


Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka yang lebih baik ataukah mereka yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat?” (Q.S. Fuṣṣilat [41]: 40).

 

Sementara dalam surat ad-Dukhān yang dikutip berikut ini, kata amīn yang merupakan adjektiva (ṣifah) dari akar amina memuat arti “dapat dipercaya”.

 

أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ

Artinya: “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dapat kamu percaya” (Q.S. ad-Dukhān [44]: 18).


Sebaran anggota keluarga kata yang berasal dari akar amina di atas menunjukkan bahwa al-Qur’an tetap mempertahankan makna asal (al-aṣl; al-ma‘nā al-uṣūlī) kata ini, meskipun masing-masing bentuk menempati kelas kata yang berbeda. Hal ini memperlihatkan bahwa variasi morfologis tidak mengaburkan makna asal, melainkan menegaskan konsistensi semantik yang menjadi ciri khas bahasa Arab.


Konsistensi semantik ini juga tampak ketika al-Qur’an menggunakan masing-masing dari anggota keluarga kata tersebut. Baik dalam bentuk kata kerja, kata benda abstrak, maupun kata benda, makna yang terkandung dalam masing-masing anggota keluarga kata ini tetap berakar pada pengertian “rasa aman” dan “percaya” yang saling menopang.


 

Pergeseran Peta Makna


Hal yang menarik dari kemunculan keluarga kata dari akar amina ini dalam al-Qur’an adalah pergeseran peta makna yang terjadi padanya. Dalam konteks masyarakat Arab pra-Islam, beragam bentuk kata yang berasal dari akar amina merujuk pada arti “rasa aman” dan “sikap percaya” yang bersifat individual atau antarindividu. Maknanya lebih pragmatis dan lebih terikat pada konteks sosial dan material. Kita juga telah menyaksikan bagaimana al-Qur’an menggunakan beragam bentuk kata tersebut dan mempertahankan makna asalnya.


Namun tampaknya ketika kata-kata dari akar amina ini muncul dalam al-Qur’an, makna asalnya tidak sekadar dipertahankan, tetapi diperdalam dan diperluas. Al-Qur’an menggunakannya, namun memperluas cakrawala dan menggeser peta maknanya sehingga mengandung nuansa dan konteks teologis dan eksistensial yang khas.


Untuk melihat pergeseran peta makna yang dimaksud, marilah kita cermati kembali tiga ayat dalam surat al-A‘rāf [7]: 97-99 yang telah saya kutip di atas. Pada tiga ayat tersebut, kata amina muncul dalam bentuk kata kerja lampau (fi‘il māḍī; past tense) atau kata kerja sekarang (fi‘il muḍāri‘; present tense). Yang menarik adalah bahwa pada setiap kemunculannya, kata tersebut selalu berada dalam relasi dengan kata “Allah” atau kata ganti-Nya. Pada ketiga ayat itu, rasa aman berkenaan dengan siksaan Allah.


Relasi ini menunjukkan bahwa makna “rasa aman” yang terkandung dalam ketiga ayat tersebut tidak lagi sekadar bersifat psikologis dan duniawi, melainkan juga berkenaan dengan dimensi ketuhanan. Penggunaan kata amina yang dihubungkan dengan siksaan Allah dalam ketiga ayat itu menunjukkan perspektif Qur’ani yang khas, yaitu bahwa rasa aman yang sejati hanya mungkin dalam kerangka relasi manusia dengan Allah.


Kenyataan yang mengejutkan adalah bahwa ketiga ayat dalam surat al-A‘rāf di atas tidak hanya berfungsi sekadar sebagai ilustrasi. Pada kenyataannya, dari 66 kali kemunculan keluarga kata dari akar amina dalam al-Qur’an, 65 kalinya muncul dalam keterhubungan dengan dimensi ketuhanan. Pada 65 kali kemunculan itu, kata Allah atau kata ganti-Nya selalu hadir dalam ayat yang sama atau dalam pokok yang sama yang sedang dibicarakan dalam ayat yang bersangkutan. Hal ini menegaskan perspektif Qur’ani tentang rasa aman. Rasa aman tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu dipahami dalam kerangka relasi manusia dengan Allah.


Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peta makna anggota keluarga kata dari akar amina mengalami pergeseran yang signifikan ketika muncul dalam al-Qur’an. Dari makna asal (al-aṣl; al-ma‘nā al-uṣūlī) yang merujuk pada “rasa aman”, “kebalikan dari rasa takut”, dan “percaya” dalam konteks individu dan sosial sehari-hari, makna tersebut ditransformasikan ke dalam peta makna yang mengandung dimensi ketuhanan. Al-Qur’an tidak hanya mempertahankan akar semantik kata ini, tetapi juga memperluasnya sehingga “aman” dan “percaya” menjadi fondasi iman sebagai inti relasi manusia dengan Allah. Wallahu a‘lam.

 

REFERENCES:

 Al-Zabīdī, M. (1900). Tāj al-‘Arūs fī Jawāhir al-Qamūs. Dār Maktabah al-Ḥayāh.

Cachia, P., Wehr, H., & Cowan, J. M. (1985). A Dictionary of Modern Written Arabic. Journal of the American Oriental Society, 105 (4).

Ibn Fāris, A. al-Ḥusain A. (1979). Mu‘jam Maqāyīs al-Lughah. Dār al-Fikr.

Ibn Manẓūr, M. bin M. (1414). Lisān al-‘Arab. In Sustainability (Switzerland).


Leave a Comment