| 0 Comments | 36 Views
Seri Analisis Linguistik dan Refleksi Filosofis atas Frekuensi Kemunculan Kata Iman dalam al-Qur’an – Bagian Kedua
Kata Iman dalam Bahasa Indonesia
Kata iman
yang kita kenal dalam bahasa Indonesia merupakan kosakata serapan dari bahasa
Arab (Arabic loan-word). Menurut Russell Jones
Dalam bahasa
Indonesia, kata iman sebagai nomina memiliki dua arti: (1) kepercayaan
yang berkenaan dengan agama, khususnya kepercayaan kepada Tuhan, nabi, kitab,
dan ajaran pokok lainnya, dan (2) keyakinan, ketetapan hati, serta keteguhan
dan keseimbangan batin. Adapun sebagai verba, kata ini memiliki empat arti: (1)
mempunyai iman atau ketetapan hati, (2) mempunyai keyakinan dan
kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, (3) percaya kepada, dan (4) meyakini
serta mempercayai
Gugus arti kata iman yang tercatat dalam KBBI ini menunjukkan dua hal penting. Pertama, KBBI mengkategorikan kata ini sebagai n (nomina) atau kata benda. Artinya, kata ini dikenal pertama kali dalam bahasa Indonesia sebagai kata benda murni. Selanjutnya, kata ini menjadi kata dasar untuk membentuk kata-kata lain, seperti beriman, berimankan, mengimani, dan keimanan. Kedua, dalam bahasa Indonesia, kosakata ini telah mengalami spesifikasi makna. Kata iman tidak digunakan untuk semua bentuk kepercayaan, melainkan terutama untuk kepercayaan religius.
Kata Iman dalam Bahasa Arab
Dalam bahasa asalnya, yakni bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an, kata īmān (إيمان) merupakan kata benda abstrak (maṣdar) yang diturunkan dari kata kerja āmana (آمَنَ ; ia telah percaya/ ia telah membenarkan). Ada tiga hal yang perlu digarisbawahi berkenaan dengan fakta kebahasaan (linguistik) ini.
Pertama, kata īmān (إيمان) bukanlah kata yang diturunkan secara langsung dari kata dasar trilateral murni (ṡulāṡī al-mujarrad), melainkan dari kata dasar trilateral dengan tambahan satu huruf (ṡulāṡī al-mazīd bi ḥarfin wāḥid). Tambahan yang dimaksud berupa huruf hamzah yang ditempatkan di depan, sehingga membentuk pola (wazn; pattern) af‘ala (أَفْعَلَ). Kata āmana (آمَنَ) yang menjadi kata dasar īmān (إيمان) terbentuk melalui pola ini.
Dalam sistem
penomoran angka Romawi model Hans Wehr yang diadopsi secara luas di dunia Barat
Kedua, bentuk kata dasar trilateral murni (ṡulāṡī al-mujarrad; bentuk I) dari kata āmana (آمَنَ), yang kemudian menjadi asal bagi kata īmān (إيمان), adalah kata amina (أَمِنَ). Kata ini mengandung arti percaya, merasa aman, tenteram, serta bebas dari ancaman dan rasa takut. Kata dasar amina (أَمِنَ) inilah yang menjadi titik pijak semantik bagi lahirnya kata-kata dasar derivatif (ṡulāṡī al-mazīd) dalam bentuk II, III, IV, dan seterusnya.
Dari sudut pandang semantik, pengembangan sebuah kata dari bentuk dasar trilateral murni (ṡulāṡī al-mujarrad; bentuk I) menjadi kata dasar derivatif (ṡulāṡī al-mazīd), baik dalam bentuk II, III, IV, dan seterusnya, tidak sekadar menunjukkan variasi bentuk. Setiap kata dasar derivatif membawa nuansa makna yang khas, namun tetap berakar dan terhubung dengan bentuk kata dasar trilateral murninya.
Ketiga, kata amina (أَمِنَ) terhubung dengan kata āmana (آمَنَ) sebagai bagian dari sebuah keluarga kata (word family). Kedua kata dasar ini merupakan anggota keluarga kata yang berakar pada trilateral hamzah-mīm-nūn (أ م ن). Anggota lainnya dari keluarga kata ini adalah kata dasar ammana, (أَمَّنَ; mengamankan, memberi rasa aman; bentuk II), ta’ammana (تَأَمَّنَ; merasa aman, mencari keamanan; bentuk V), i’tamana (اِئْتَمَنَ; mempercayakan sesuatu kepada seseorang; bentuk VIII), dan ista’mana (اسْتَأْمَنَ; meminta perlindungan atau meminta kepercayaan; bentuk X).
Perlu dicatat bahwa hubungan antara masing-masing anggota keluarga kata (word family) ini tidak hanya sekadar hubungan morfologis, tetapi juga semantik. Artinya, relasi antar anggota keluarga kata ini tidak hanya berkenaan dengan perubahan bentuk kata, tetapi juga berkenaan dengan arti, makna, dan keterkaitan antar kata.
Hubungan morfologis menunjukkan bagaimana setiap kata dasar derivatif dan kata-kata yang diturunkan darinya dibentuk dari akar yang sama melalui pola tertentu, sehingga masing-masing kata menjadi bagian dari sebuah struktur yang sistematis. Sementara hubungan semantik menegaskan bahwa setiap kata turunan tetap membawa inti makna yang berakar pada kata dasar, meskipun nuansa dan penggunaannya bisa saja berbeda. Dengan pola hubungan semacam ini, keluarga kata (word family) dapat dipahami sebagai jaringan kosakata yang saling menopang, baik dari sisi bentuk maupun makna.
Keluarga Kata Iman dalam al-Qur’an
Berdasarkan
konsep keluarga kata (word family) di atas, kita akan menemukan fakta
yang mencengangkan tentang frekuensi kemunculan anggota keluarga kata iman
dalam al-Qur’an. Secara keseluruhan, anggota keluarga kata ini muncul sebanyak
879 kali. Bila dibandingkan dengan jumlah keseluruhan kata yang ada dalam
al-Qur’an, yakni sebanyak 77.439 kata
Anggota keluarga kata iman dalam al-Qur’an muncul dalam 17 bentuk. Secara morfologis, bentuk-bentuk tersebut dapat dikelompokkan berdasarkan tiga kata dasar utama, yaitu: pertama, kata dasar amina (أَمِنَ); kedua, kata dasar āmana (آمَنَ); dan ketiga, kata dasar i’tamana (اِئْتَمَنَ). Kemunculan masing-masing berdasarkan kelompoknya akan ditampilkan dalam tabel berikut:
Kelompok 1.
Kata Dasar amina (أَمِنَ); Bentuk I | ||||
|
Bentuk |
Anggota
Kata |
Lafal |
Frekuensi |
Padanan
Indonesia |
|
Fi'il Māḍī |
أَمِنَ |
amina |
20 kali |
Kata kerja lampau |
|
Fi ‘il Muḍāri‘ |
يَأْمَنُ |
ya’manu |
Kata kerja kini/akan datang | |
|
Maṣdar |
أَمْنٌ |
amn |
5 kali |
Nomina / kata benda |
|
Maṣdar |
أَمَنَة |
amanah |
2 kali |
Nomina / kata benda |
|
Maṣdar |
أَمَانَة |
amānah |
2 kali |
Nomina / kata benda |
|
Maṣdar |
أَمَٰنَٰت |
amānāt |
4 kali |
Nomina / kata benda |
|
Ism Fā‘il |
آمِنٌ |
āmin |
6 kali |
Pelaku / partisipel aktif |
|
Ism Fā‘il |
ءَامِنَة |
āminah |
1 kali |
Pelaku / partisipel aktif |
|
Ism Fā‘il |
ءَامِنِين |
āminīn |
10 kali |
Pelaku / partisipel aktif |
|
Ism Fā‘il |
أَمِين |
amīn |
14 kali |
Pelaku / partisipel aktif |
|
Ism Maf‘ūl |
مَأْمُونٌ |
ma’mūn |
1 kali |
Objek / partisipel pasif |
|
Ism Zamān/Makān |
مَأْمَنٌ |
ma’man |
1 kali |
Nomina waktu/tempat |
|
JUMLAH |
66 kali |
|
||
|
Kelompok 2.
Kata Dasar āmana (آمَنَ); Bentuk IV | ||||
|
Bentuk |
Anggota
Kata |
Lafal |
Frekuensi |
Padanan
Indonesia |
|
Fi'il Māḍī |
آمَنَ |
āmana |
537 kali |
Kata kerja lampau |
|
Fi ‘il Muḍāri‘ |
يُؤْمِنُ |
yu’minu |
Kata kerja kini/akan datang | |
|
Maṣdar |
إِيمَان |
īmān |
45 kali |
Nomina / kata benda |
|
Ism Fā‘il |
مُؤْمِنٌ |
mu’min |
202 kali |
Pelaku / partisipel aktif |
|
Ism Fā‘il |
مُّؤْمِنَٰت |
mu’mināt |
22 kali |
Pelaku / partisipel aktif |
|
Ism Fā‘il |
مُّؤْمِنَة |
mu’minah |
6 kali |
Pelaku / partisipel aktif |
|
JUMLAH |
812 kali |
|
||
|
Kelompok 3.
Kata Dasar i’tamana (اِئْتَمَنَ); Bentuk VIII | ||||
|
Bentuk |
Anggota
Kata |
Lafal |
Frekuensi |
Padanan
Indonesia |
|
Fi'il Māḍī |
اِئْتَمَنَ |
i’tamana |
1 kali |
Kata kerja lampau |
Refleksi
Data pada tabel di atas menunjukkan bahwa secara keseluruhan, anggota keluarga kata iman dalam kelompok pertama muncul sebanyak 66 kali dalam al-Qur’an. Frekuensi kemunculan ini setidaknya mengindikasikan bahwa akar kata amina memiliki peran penting dalam membentuk kosakata iman dalam al-Qur’an. Bentuk kata-kata turunan dalam kelompok ini lebih banyak muncul dalam al-Qur’an daripada bentuk kata-kata turunan dari dua kelompok lainnya.
Sementara anggota keluarga kata iman dari kelompok kedua ini muncul sebanyak 812 kali. Jumlah kemunculan yang tidak sedikit ini menegaskan dominasi kata turunan dari kata dasar āmana dalam konstruksi iman di dalam al-Qur’an.
Adapun kelompok ketiga muncul sebanyak 1 kali dalam al-Qur’an. Meskipun frekuensinya sangat terbatas, kehadiran bentuk ini tetap signifikan. Keberadaan anggota keluarga kata iman dalam kelompok yang ketiga ini menunjukkan keluasan jaringan morfologis akar kata hamzah–mīm–nūn. Jaringan morfologis itu tidak hanya melahirkan bentuk dasar dan derivatif utama, tetapi juga variasi yang lebih jarang digunakan.
Secara keseluruhan, jumlah kemunculan anggota keluarga kata iman dalam al-Qur’an mencapai 879 kali, atau sekitar 1,14 persen dari seluruh kata dalam al-Qur’an. Dalam teks yang panjangnya “hanya” 77.439 kata, frekuensi yang tinggi ini menandakan betapa pentingnya kedudukan topik ini dalam al-Qur’an. Iman menjadi salah satu poros utama dalam keutuhan struktur makna al-Qur’an.
Data di atas sekaligus
menjadi dasar yang kuat untuk melakukan refleksi filosofis mengenai bagaimana
akar kata Arab membentuk jaringan makna iman, serta bagaimana jaringan makna
tersebut mengalami transformasi semantik hingga menjadi konsep Qur’ani yang khas.
Pada gilirannya, data ini menjadi fundamen untuk merefleksikan secara filosofis
bahwa iman adalah persoalan yang paling mendasar tentang apa artinya menjadi
manusia dalam pandangan dunia (worldview) al-Qur’an. Wallahu a‘lam.☺
REFERENCES:
Cachia, P., Wehr, H., & Cowan, J. M. (1985). A Dictionary of Modern Written Arabic. Journal of the American Oriental Society, 105(4).
Jones, R. (1978). Arabic Loan-Words in Indonesian a Check-List of Words of Arabic and Persian Origin in Bahasa Indonesia and Traditional Malay, in the Reformed Spelling. School of Oriental and African Studies.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Shihab, M. Q. (1998). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu‘i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
Leave a Comment