| 0 Comments | 46 Views

Card Image

Etika Kecerdasan Buatan dan Peran Perpustakaan: Catatan dari Seminar Nasional di UII

Saya berkesempatan terlibat dalam Seminar Nasional “Etika Kecerdasan Buatan di Perguruan Tinggi: Peran Strategis Perpustakaan dalam Membangun Budaya Akademik yang Berintegritas” yang diselenggarakan oleh Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia (UII) bekerja sama dengan FPPTI-DIY pada 2 September 2025 di Sleman. Kegiatan ini dihadiri lebih dari seratus peserta yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan institusi dari berbagai daerah di Indonesia.


Seminar ini menjadi ruang diskusi penting untuk membicarakan posisi kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik, khususnya bagaimana perpustakaan dapat mengambil peran strategis dalam memastikan pemanfaatan AI yang etis dan bertanggung jawab. Dalam sambutan pembukaan, Direktur Perpustakaan UII menegaskan bahwa AI menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan serius, sehingga diperlukan kesadaran kolektif untuk mengelolanya secara bijak.

Selain seminar, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan pengumuman pemenang Indonesian Academic Librarian Award (IALA) dan Academic Library Innovation Award (ALIA) 2025 tingkat DIY. Saya mendapat amanah untuk mewakili dewan juri dalam membacakan hasil penilaian. Para finalis sebelumnya telah mempresentasikan karya terbaik mereka, dan para pemenang nantinya akan menjadi wakil FPPTI-DIY di tingkat nasional. Momen ini kembali menegaskan bahwa inovasi dan profesionalisme pustakawan terus berkembang seiring tantangan zaman.

Pada sesi utama, Prof. Dr. Jaka Nugraha, Wakil Rektor Bidang Pengembangan Akademik dan Riset UII, menyampaikan keynote speech yang menekankan pentingnya integritas sebagai fondasi pendidikan tinggi. Menurut beliau, kemajuan IPTEK, termasuk AI, harus tetap berpijak pada nilai etika dan moral, dan pustakawan memiliki posisi strategis dalam menjaga integritas akademik di lingkungan perguruan tinggi.

Seminar ini juga menghadirkan Ismail Fahmi, Ph.D., yang menyoroti pergeseran peran pustakawan dari sekadar penjaga koleksi menjadi guardian of values. Ia menekankan bahwa etika harus menjadi kompas utama dalam pemanfaatan AI, dan mendorong adanya pedoman penggunaan AI di tingkat institusi agar tidak berhenti pada kesadaran individual semata.

Dalam sesi saya, saya mengajak peserta untuk melihat sisi lain dari penggunaan AI, terutama risiko ketika AI terlalu diposisikan sebagai first brain. Ketergantungan berlebihan berpotensi menurunkan sensitivitas berpikir kritis dan reflektif. Karena itu, saya menekankan pentingnya digital well-being, dengan tetap menempatkan akal manusia sebagai alat kerja utama. AI seharusnya diperlakukan sebagai tools yang membantu, bukan menggantikan proses berpikir manusia.

Diskusi ditutup dengan penegasan bahwa AI perlu dimanfaatkan secara bertanggung jawab, beretika, dan selaras dengan nilai-nilai akademik. Bagi saya, seminar ini bukan sekadar forum berbagi gagasan, tetapi juga pengingat bahwa perpustakaan dan pustakawan memiliki peran sentral dalam membentuk budaya akademik yang berintegritas di tengah akselerasi teknologi.


Disclaimer:
Tulisan ini bersumber salah satu artikel website Direktorat Perpustakaan UII yang disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan telah disunting serta disesuaikan oleh penulis untuk keperluan refleksi dan publikasi di blog pribadi.


Leave a Comment