| 0 Comments | 54 Views

Card Image

Literasi sebagai Keterampilan: Catatan dari Workshop Kreatif Membuat Konten Edukatif

Literasi, bagi saya, tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai kemampuan membaca dan menulis. Di tengah perubahan lanskap digital, literasi juga berarti kemampuan mengolah pengetahuan menjadi keterampilan yang relevan, bermakna, dan berdampak bagi masyarakat. Berangkat dari pemikiran itulah, saya merasa bersyukur dapat terlibat sebagai narasumber dalam “Workshop Kreatif Membuat Konten Edukatif” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung dalam rangkaian Festival Literasi 2025.

Workshop ini ditujukan bagi guru dan tenaga pendidik, dan dilaksanakan pada 12 Oktober 2025 di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung. Kegiatan ini menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya menekankan pemahaman konseptual, tetapi juga praktik langsung dalam merancang dan menghasilkan konten edukatif yang kreatif dan kontekstual.

Dalam workshop ini, saya berbagi sesi bersama Yuhda Anggiya Utomo, M.Pd., seorang konten kreator dan Key Opinion Leader di bidang pendidikan. Diskusi kami dipandu oleh moderator Rahtikawati, yang membantu menjaga alur dialog tetap hidup dan interaktif. Bersama para peserta, kami berdiskusi tentang bagaimana literasi dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk konten edukatif—mulai dari teks, visual, hingga media digital—yang dekat dengan keseharian peserta didik.

Yang menarik bagi saya adalah antusiasme peserta dalam proses praktik. Workshop ini tidak berhenti pada tataran teori, tetapi memberi ruang bagi peserta untuk berdiskusi, bereksperimen, dan mulai menghasilkan karya. Dari proses tersebut, terlihat bahwa ketika literasi diperlakukan sebagai aktivitas yang hidup dan menyenangkan, ia mampu menumbuhkan kepercayaan diri sekaligus kreativitas para pendidik.

Bagi saya pribadi, workshop ini menjadi pengingat bahwa perpustakaan, pendidikan, dan literasi memiliki peran strategis dalam membentuk ekosistem pembelajaran yang adaptif. Melalui kegiatan seperti ini, literasi tidak hanya diperingati, tetapi benar-benar dihidupkan—melalui praktik, kolaborasi, dan karya nyata.

Saya berharap kegiatan serupa terus mendapat ruang dalam berbagai agenda literasi, sehingga semakin banyak pendidik yang terdorong untuk memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki menjadi keterampilan yang berdampak luas.


Disclaimer:
Tulisan ini disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan telah disunting serta disesuaikan oleh penulis untuk keperluan publikasi di blog pribadi.


Leave a Comment