| 0 Comments | 48 Views

Card Image

Ayub
Surah al-Kahfi adalah surah yang disunnahkan untuk dibaca sampai tuntas setidaknya sekali dalam seminggu karena banyaknya keutamaannya. Di dalam hadis yang didokumentasikan dan dishahihkan oleh al-Ḥākim dalam al-Mustadrak, Abū Saʿīd al-Khudrī menyatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda;  

إن من قرأ سورة الكهف يوم الجمعة أضاء له من النور ما بين الجمعتين

Sungguh mereka yang membaca surah al-Kahfi pada hari Jumat, maka ia akan diterangi cahaya surah itu sampai hari Jumat berikutnya.

Muqātil bin Sulaymān mencatat setidaknya sepuluh lapis makna yang diwakili oleh istilah nūr (cahaya) di dalam al-Qurʾān. Dari kesepuluh makna itu, bisa disimpulkan bahwa cahaya sering menjadi alegori petunjuk yang diberikan Aḷḷāh kepada orang-orang mukmin agar terhindar dari mara bahaya di dunia dan akhirat. Mulai dari petunjuk yang paling fundamental yakni keimanan yang membuatnya terhindar dari kesyirikan, petunjuk tentang yang halal agar terhindar dari keharaman, hingga petunjuk agar kelak bisa meniti sirat dengan tenang di hari pembalasan. 

Mungkin dalam konteks pemberi petunjuk inilah, surah al-Kahfi menjadi senjata ampuh menghadapi fitnah Dajjāl. Fitnah dalam frasa ini tentu tidak dipahami seperti fitnah ala KBBI, tapi dalam makna aslinya. Salah satu makna fitnah adalah sejajar dengan ibtila’ dan ikhtibar yakni ujian untuk membedakan siapa yang memilih kebaikan siapa yang sebaliknya. Hanya saja, kata fitnah sering dikaitkan dengan kondisi-kondisi yang berat. Dalam berbagai hadis, disebutkan bermacam-macam kemampuan dan perilaku Dajjal yang luar biasa. Ia disebutkan bisa menghidupkan yang mati dan keajaiban-keajaiban lainnya. Membuat banyak orang terpesona dan jadi pengikutnya.    

Untuk melindungi diri dari gonjang-ganjing fitnah Dajjāl, Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan untuk membaca surah al-Kahfi di hari Jumat.  Bacaan tersebut dimulai dari awal surah hingga sepuluh ayat pertama, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim:

من أدركه منكم فليقرأ عليه فواتح سورة الكهف

"Barang siapa di antara kalian yang menjumpainya, hendaklah ia membaca awal Surah Al-Kahfi kepadanya."

Muslim juga meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من حفظ عشر آيات من سورة الكهف عصم من الدجال

"Barang siapa yang menghafal sepuluh ayat dari Surah Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari Dajjal.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa yang melindungi dari fitnah Dajjal adalah tadabbur terhadap ayat-ayat awal tersebut. Sebab di ayat-ayat itu, Aḷḷāh menyampaikan serangkaian kejadian-kejadian luar biasa yang diizinkan Aḷḷāh untuk terjadi, sehingga seorang Muslim tidak akan kaget dan hilang akal hanya karena melihat ilusi keajaiban ala Dajjal. 

Poin Imam Nawawi tersebut bisa pula diperkaya dengan penafsiran Anregurutta Quraisy Shihab bahwa kalimat pembuka terhadap rangkaian kejadian luar biasa yang dimulai di ayat 9 harus dibaca sebagai kelanjutan dari ayat 7-8 yang berbicara tentang keseluruhan ciptaan Aḷḷāh di langit dan bumi. 

Kuasa Allah menciptakan dan menghiasi bumi dengan segala isinya, antara lain penciptaan tumbuh-tumbuhan dan kembang-kembang, aneka binatang dan barang tambang, dan juga kuasa-Nya menghiasinya sehingga memukaum anusia, kemudian kuasa-Nya membinasakan itu semua menjelang hari Kiamat adalah sangat luar biasa. Memang peristiwa yang dialami oleh Penghuni Gua juga luar biasa, tetapi apakah engkau mengira bahwa Ashhab al-Kahf, yakni para Penghuni Gua dan yang mempunyai ar-raqim adalah hanya itu yang merupakan tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? Itu bukan satu-satunya peristiwa menakjubkan, bukan juga satu-satunya bukti kuasa Allah menghidupkan yang mati, tetapi masih banyak lainnya. Peristiwa yang dialami oleh Ashhab al-Kahf/para Penghuni Gua tidaklah lebih menakjubkan dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang lain. Hanya saja tanda-tanda yang lain telah seringkali kamu saksikan, sehingga keajaiban dan kekaguman kamu menjadi berkurang atau sirna. Al-Mishbah, VIII/14.

Artinya, frasa  āyātinā ʿajabā  (tanda-tanda Kami yang menakjubkan) bukan hanya merujuk kepada kejadian luar biasa yang terjadi pada asḥābul kaḥfi, tapi juga keseluruhan ciptaan Aḷḷāh. Mereka yang memiliki akal dan menelitinya dengan saksama, akan mampu melihat betapa ajaib ciptaan itu, dan betapa agung penciptanya. Jika Dajjāl terlihat bisa ‘menghidupkan yang mati’, maka itu adalah peristiwa yang biasa saja. Peralihan mati-hidup adalah peristiwa yang biasa terjadi di sekitar kita. Bahkan pada level sub-atomik, realitas muncul-hilang secara konstan. Mereka tidak akan mudah tercengan hanya karena melihat sihir Dajjal, toh keajaiban ciptaan Aḷḷāh sudah mereka lihat dan rasakan setiap hari, di setiap nafas. 

Wallahu aʿlam.    



Leave a Comment