| 0 Comments | 46 Views
Salah satu metode memahami al-Quran yang disepakati oleh banyak ulama, adalah membiarkan ayat-ayat al-Quran menafsirkan satu sama lain. Metode ini kerap dianggap bagian dari tafsir bil-ma’tsur, tapi sebenarnya dibaliknya ada peran ijtihad yang besar. Sebab ayat mana yang pas untuk menafsirkan ayat yang sedang sedang ditafsirkan tetap perlu pemikiran mendalam. Konon, ini salah satu alasan mengapa pembagian tafsīr bil-maʾtsur dan bil-raʾyi itu tidak saklek dan hitam putih.
Anyway, salah satu ayat yang ketika dibaca sendiri rasanya akan problematis adalah QS. As-Sajdah:13. Setidaknya ini menurut pengalaman saya sendiri. Jadi, begini bunyi ayatnya.
وَلَوْ شِئْنَا لَاٰتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدٰىهَا وَلٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّيْ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ ١٣
Oleh tim Kementerian Agama, ayat ini diterjemahkan seperti ini, “Seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami menganugerahkan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)-nya, tetapi telah berlaku ketetapan dari-Ku (bahwa) sungguh Aku pasti akan memenuhi (neraka) Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama”
Jika dibaca sekilas, ayat ini seperti sebuah kutukan. Ternyata memang sejak awal, Allah sudah menetapkan bahwa manusia dan jin akan jadi kayu bakar neraka. Di akhir ayat ini bahkan ada kata ajma’in, yang mengindikasikan seluruh, atau setidaknya, bersama-sama. Kata kunci lainnya adalah frasa Haqqa l-qawlu minni. Telah tetap firman-Ku, telah berlaku ketetapan-Ku. Jadi penetapannya itu sudah terjadi!
Namun di sisi lain, kita sudah diajarkan sejak kecil bahwa yang masuk neraka ya hanya yang jahat atau tak patuh pada Allah. Jadi bagaimana memahami ayat ini?
Nah, di dalam pembahasannya terhadap ayat ini, Anregurutta Quraish Shihab menjelaskan ayat ini dengan menggunakan ayat lain sebagai penjelasanya. Isi dari al-qawlu minni (ketetapan dari-Ku), menurut beliau disebutkan dengan gamblang di tempat lain di dalam al-Quran, yakni di QS. Shad: 82-85.
﴿ قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ ٨٢ اِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ ٨٣ قَالَ فَالْحَقُّۖ وَالْحَقَّ اَقُوْلُۚ ٨٤ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنْكَ وَمِمَّنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ اَجْمَعِيْنَ ٨٥ ﴾
Prof. Quraish menerjemahkan ayat ini sebagai berikut, “Demi kemuliaan-Mu (aku bersumpah) aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis.” Allah menjawab: “Maka yang benar adalah (sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan. Sesungguhnya Aku pasti akan memenuhi neraka Jahanam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya”
Rangkaian ayat ini menyampaikan episode kosmik ketika Iblis bersumpah untuk menggoda keturunan Nabi Adam setelah Allah menetapkannya sebagai ‘si terlaknat’. Menurut beliau, yang dimaksud ketetapan (al-qawl) dari Allah tentang isi neraka adalah yang dirujuk oleh ayat 84 sebagai “fal-haqqu wa-l-haqqa aquulu” (Maka yang benar adalah (sumpah-Ku) dan hanya kebenaran itulah yang Kukatakan).
Ayat 85 memuat detail ketetapan tersebut dengan kalimat yang hampir mirip dengan as-Sajdah 13, yakni “Aku akan memenuhi neraka Jahannam”.. tapi di ayat ini terdapat spesifikasi yang melegakan, sekaligus membuat harap-harap cemas “dengan jenis kamu (yaitu Iblis) dan dengan orang-orang yang mengikuti kamu di antara mereka semuanya”. Artinya, yang ditetapkan masuk neraka adalah jin (makhluk yang sejenis Iblis) dan manusia yang mengikuti langkah-langkah Iblis.
Selain itu, jelas bahwa Allah-lah yang memberikan Iblis kemampuan untuk menggoda manusia, sehingga kemampuan itu tak akan berlaku bagi mereka yang dilindungi oleh Allah. Prof. Quraish memberikan analogi menarik tentang ini; jika anda masuk ke rumah yang dijaga anjing galak, bagaimana cara paling efektif agar tidak diterkam si anjing itu? Ya tentu dengan meminta tolong pemiliknya.
Selamat berpuasa, selamat meminta tolong “pemilik anjing galak” itu agar kita terhindar dari terkamannya.
Leave a Comment