| 0 Comments | 28 Views

Card Image

Pendekatan modern terhadap ayat-ayat kealaman sangat dipengaruhi oleh modernisasi itu sendiri. Ada dua faktor penting yang terjadi di masa modern ini yang membentuk berbagai pendekatan yang dipakai oleh sarjana Muslim terhadap ayat-ayat kealaman. Pertama, menguatnya posisi Ilmu Alam sebagai acuan epistemologis bagi disiplin-disiplin ilmu lainnya. Ada kesan bahwa ilmu alam menjadi penentu kebenaran tertinggi, menjadi unique arbitre of truth. Kedua, melemahnya posisi ilmu kalam. Artikel ini memetakan pendekatan modern terhadap ayat-ayat kealaman berdasarkan respon sarjana Muslim kepada dua faktor ini. Sebelumnya, kedua faktor ini akan dibahas secara ringkas.

Pengaruh Hegemoni Ilmu Alam Positivistik

Salah satu efek penting revolusi saintifik di Eropa adalah menguatnya hegemoni epistemik ilmu alam. Manifestasi paling ekstrimnya adalah saintisme.[1] Sedangkan manifestasinya yang mungkin tidak banyak disadari adalah pergeseran pedagogis yang terjadi di lembaga-lembaga pendidikan Islam dimana kajian Islam secara tidak sadar mengikuti model kajian ilmu alam. Aria Nakissa mengidentifikasi perubahan ini di al-Azhar dan Dar al-Ulum Mesir, dimana awalnya pengajaran agama mengikuti logika ilmu bahasa berubah mengikuti logika (disebut olehnya epistem) ilmu alam. Ciri penting dari epistem ilmu alam adalah tendensi untuk mencari kebaruan secara terus-menerus; discovery dan fresh ijtihad dianggap sebagai keharusan.

Ciri penting modernitas lainnya yang juga membentuk pendekatan modern adalah tendensi untuk menghindari ambiguitas dan mengutamakan koherensi.[2] Menurut Thomas Bauer, ciri ini merupakan pengaruh dari nalar Cartesian (dari nama Descartes) yang mengutamakan adanya penjelasan yang clear and distinct, tegas dan jelas. Jadi, bisa dikatakan masih sepaket dengan menguatnya hegemoni ilmu alam. Pengaruhnya terhadap tafsir adalah tendensi untuk meninggalkan eksplorasi pada keragaman makna (polyvalency) ayat-ayat al-Qur’an – karena menghindari ambiguitas. Pengaruh lainnya adalah munculnya kecenderungan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an secara tematik – karena menginginkan koherensi.

Pengaruh Melemahnya Ilmu Kalam

Menurut Walid Saleh, matinya ilmu kalam (the demise of kalam) merupakan faktor penting dari munculnya corak khas dalam tafsir modern. Saleh berbicara dalam konteks tafsir modern/kontemporer secara umum. Ia mengatakan bahwa tafsir modern adalah bentuk dari teologi skriptural.[3] Maksudnya, saat ini umat Islam melakukan teologisasi – upaya merumuskan bagaimana posisi Islam terhadap suatu topik tertentu dengan langsung kembali kepada al-Qur’an.

Meskipun Saleh berbicara dalam konteks tafsir secara umum, namun analisisnya juga relevan untuk wacana tafsir ayat kealaman. Pada masa pra-modern, ilmu kalam menjadi perantara sarjana Muslim untuk membangun respon yang sistematis terhadap perkembangan kajian ilmu alam. Dengan ilmu kalam, aspek-aspek tertentu dari ilmu alam dapat diintegrasikan ke dalam pemikiran Islam secara konstruktif. Intinya, dulu upaya untuk berdialog dengan ilmu alam adalah tugas ilmu kalam.  Dengan “meninggalnya” ilmu kalam, dialog tersebut dilakukan langsung dengan al-Qur’an (dan sunnah).

Pemetaan Pendekatan Modern Dalam Terang Dua Faktor tersebut

Ada banyak cara untuk memetakan ragam pendekatan modern terhadap ayat-ayat kealaman. Pemetaan berdasarkan pengaruh dari dua faktor yang didiskusikan sebelumnya hanyalah salah satunya. Jadi pemetaaan ini tidak bersifat mutlak. Catatan lainnya adalah bahwa tren-tren yang akan dibicarakan di sini hanyalah tren yang memang secara langsung mengaitkan al-Qur’an dengan sains dalam konteks pemahaman terhadap ayat-ayat kealaman. Jadi tren-tren yang berbicara dalam konteks yang lebih luas seperti Islamisasi Sains, Islam Sebagai Ilmu, termasuk integrasi-interkoneksi, tidak akan dibahas. Meskipun memang di dalam setiap tren ini ada aspek tafsirnya. Hal itu akan dibahas pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Catatan lainnya, setiap saya menyebut faktor pertama berarti itu merujuk kepada meningkatnya signifikansi sains dan faktor kedua merujuk kepada melemahnya kajian kalam di kalangan umat Islam.

ʾIʿjāz ʿIlmī      

Pendekatan ini kerap masih disamakan dengan tafsir ‘ilmi, padahal ada perbedaan penting di antara keduanya. Guessoum merupakan salah satu sarjana modern yang menyadari distingsi ini. I’jaz ‘ilmi menekankan pada upaya pembuktian status kewahyuan al-Qur’an dengan menunjukan kesesuaiannya dengan temuan-temuan sains modern. Di sini, pengaruh faktor pertama jelas sangat terlihat. Posisi sains kealaman dianggap begitu tinggi sehingga ia menjadi kriteria untuk mengungkap aspek i’jaz dari al-Qur’an. Sederhananya, i’jaz adalah aspek khas al-Qur’an yang membuatnya mustahil ditiru (inimitability).

Meski demikian, dalam wacana i’jaz ‘ilmi primasi sains kealaman tampaknya bukan pada aspek epistemiknya. Melainkan hanya pada signifikansi kulturalnya. Salah satu motif retoris yang sering diulang di kalangan penggiat i’jaz ‘ilmi adalah bahwa masa modern ini adalah era-nya sains, sehingga keunggulan al-Qur’an pun harus ditunjukan melalui sains – atau al-Qur’an harus ditunjukan sebagai lebih unggul dari sains (dan saintis) sebab al-Qur’an mampu mengungkap berbagai fakta-fakta saintifik sebelum para saintis sendiri menemukannya.

Kurangnya perhatian dalam tren i’jaz ilmi pada aspek epistemologis sains modern menunjukan jejak faktor kedua. Dalam berdialog dengan ilmu kealaman, para mutakallim pra-modern menaruh perhatian penting pada aspek ini. A.I Sabra dan Robert Morrison misalnya menunjukan bahwa para mutakallim, termasuk mereka yang menulis tafsir seperti al-Baidhawi (d. c. 719/1319) dan Nizamuddin an-Nishaburi (d. 728/1328), secara serius memperdebatkan apakah secara epistemologis sains alam, utamanya astronomi, sudah mencukupi standar kepastian ilmu kalam untuk dapat dijadikan sandaran membangun premis teologis atau pilihan penafsiran.  Salah satu indikasinya adalah temuan sains yang dianggap bertentangan dengan Islam seperti teori evolusi seringnya ditolak tanpa dialog memadai di level filsafatnya.

Tafsir ‘ilmi

Salah satu pespektif untuk melihat perbedaan antara i’jaz ilmi dan tafsir ‘ilmi adalah dengan melihatnya dalam terang faktor pertama. Pendekatan i’jaz ilmi jelas lebih terpesona pada janji kebenarna sains alam dibanding tafsir ilmi. Jika i’jaz ilmi menjadikan kebenaran temuan sains kealaman sebagai tumpuan untuk membangun argumen kemukjizatan al-Qur’an, maka tafsir ‘ilmi sekadar menjadikannya tambahan informasi untuk mengungkap makna al-Qur’an. Itulah sebabnya ia disebut sebagai tafsir.

Memasukan materi sains alam dalam upaya menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an jelas bukan khas moderen. Tafsir penting seperti Mafatih al-Ghaib dan Anwar at-Tanzil sudah melakukan itu. Namun tentu tafsir-tafsir pra-modern ini memiliki kekhasan. Ahmad Dallal menyebutkan di antaranya adalah bahwa tujuan penyebutan materi kealaman di dalam tafsir pra-modern bukan untuk menunjukan kesesuaiannya dengan al-Qur’an, tapi untuk membantu menunjukan kemahabijaksanaan Allah yang tercermin dalam ciptaan-Nya.

Selain itu, fitur penting lainnya dalam tafsir ilmi pra modern adalah adanya analisis kebahasaan mendalam sebagai bagian dari upaya menunjukan i’jaz linguistik al-Qur’an; kemukjizatan al-Qur’an bukan hanya ditunjukan oleh konten kedalamannya, tapi lebih pada keunggulan bahasa  yang digunakan untuk menggambarkan fenomena alam itu.[4] Namun posisi sentral analisis bahasa dalam memahami ayat kealaman bukan fitur unik tafsir pra-modern. Menurut Qadafy – berdasarkan analisisnya pada Ayat-Ayat Semesta- justru bahasa memainkan peran sentral dalam proyek tafsir ilmi modern.[5]

Salah satu bentuk tafsir ‘ilmi yang dapat disebut modern adalah tafsir ilmi yang bersifat tematik. Misalnya, “Penciptaan Semesta dalam al-Qur’an dan Sains”. Fenomena ini bisa disebut “moderen” sebab fitur-fitur pentingnya tampaknya dibentuk oleh konteks kemodernan yang kita bicarakan ini, yakni bangkitnya ilmu alam serta matinya kalam dan penekanan pada koherensi. Model tafsir tematik (at-tafsir al-maudhu’i) dapat disebut produk moderen sebab ia merupakan jawaban sarjana moderen pada pendekatan mufassir klasik yang ditengarai atomistik dan parsial[6]. Mengumpulkan ayat-ayat setema dianggap lebih efektif dalam mengungkap makna al-Qur’an secara koheren; dalam bahasa Fazlur Rahman, pendekatan sintesis tematik adalah satu-satunya cara untuk benar-benar mencicipi rasa asli al-Qur’an sebagai petunjuk dari Allah.[7]

Di dalam tafsir-tafsir ilmi tematik sebenarnya analisis keragaman makna kebahasaan juga memainkan peran penting, sebab dari keragaman makna tersebut, akan dipilih satu kemungkinan makna yang paling bisa dikaitkan dengan temuan sains modern. Maka, kita melihat tiga faktor modernitas memainkan peran; 1) ini jelas bentuk teologi skriptural 2) keunggulan epistemik ilmu alam ditunjukan dengan kekuatannya untuk menggiring mufasir menguatkan satu kemungkinan makna 3) penerimaan ini menunjukan melemahnya nalar kalam, sebab para mutakallim klasik[8] memiliki standar kepastian yang sangat tinggi sehingga mereka tidak begitu cepat menerima temuan ilmu alam. Untuk poin ketiga ini, ada catatan bahwa mutakallim yang sekaligus mufasir seperti al-Baidhawi terbukti memiliki standar ganda; ketika menulis tafsir ia tidak kritisismenya kepada ilmu alam tidak sebesar ketika menulis buku kalam.[9]

Wallahu a’lam .

[1] Penjelasan lebih detail dan mudah dipahami tentang revolusi sains ada di buku Nidhal Guessom, Memahami Sains Moderen. beli aja, nggak ada pdfnya. Untuk penjelasan tentang sains, saintisme, dan kaitannya dengan agama silakan baca beberapa artikel relevan di buku ini https://mengeja.id/wp-content/uploads/2020/06/Buku-Digital-Sains-Saintisme-dan-Agama.pdf . Awalnya ini perkembangan yang khas Eropa, tapi meluas melalui kolonialisme dan globalisasi – udah dibicarakan di pertemuan sebelumnya.

[2] Untuk tema ini, silakan baca buku Thomas Bauer A Culture of Ambiguity: An Alternative History of Islam.

[3] Untuk uraian tentang ini, termasuk terjemahan artikel Saleh, silakan baca ini https://studitafsir.com/2022/05/27/tafsir-kontemporer-kebangkitan-teologi-skriptualis/

[4] Lihat Dallal, A. (2007). Tolerance or Compatibility? The Search for a Qur’ānic Paradigm of Science, download di https://www.muslimheritage.com/uploads/Tolerance_or__Compatibility.pdf


[5] Qadafy, M. Z. (2017). Nalar Ayat-Ayat Semesta Dan Meningkatnya Posisi Bahasa Arab Dalam Tafsir Al-Qur’an (Q. 76: 17). AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur’an, 3(1). Download di https://jurnal.staialanwar.ac.id/index.php/itqon/article/download/35/33

[6] Penafsiran atomistik-parsial adalah tafsir yang memahami ayat demi ayat al-Qur’an secara terpisah dari konteks keseluruhan al-Qur’an, baik konteks tematik maupun konteks kesejarahannya. Karena terpisah-pisah (atomistik), maka dia tidak lengkap (parsial). Alasan ini sering menjadi motif untuk meninggalkan pendekatan klasik dan mencari pendekatan baru. Cari artikel ini Rohman, I. (2016). The pursuit of new interpretive approaches to the Qurʾ ān in contemporary Indonesia. In The Qur’an in the Malay-Indonesian World (pp. 97-150). Routledge. Coba cek aja, siapa tau ada pdfnya.

[7] Kata Rahman, “I am convinced that this synthetic exposition is the only way to give a reader a genuine taste of the Qur’ān, the Command of God for man” – Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an. bisa dibeli terjemahannya, coba cari pdfnya di internet.

[8] Bahkan mutakallim awal moderen seperti Husain Al-Jisr memiliki kecenderungan ini. Di dalam al-Hushun al-Hamidiyah al-Jisr menyatakan bahwa teori evolusi mungkin bisa saja diterima sebagai basis untuk menakwilkan ayat-ayat penciptaan Adam seandainya dia cukup meyakinkan dalam standar epistemik ilmu kalam. Ini mirip dengan posisi mutakallim pra-moderen terhadap ilmu astronomi.

[9] Robert Morriison, Tafsir and Science, dalam Oxford Handbook of Quranic Studies. Cari aja pdfnya.



Leave a Comment