| 0 Comments | 60 Views
Aku marah
tapi tidak berteriak.
Aku belajar dari kebohongan:
yang paling kejam
selalu berbicara tenang.
Aku pernah percaya.
Itu dosaku.
Aku menyembah tanpa bertanya,
mencium tangan patung
yang licin oleh sumpah sendiri.
Satu dusta terbuka
katanya khilaf.
Dusta kedua
katanya salah paham.
Dusta ketiga
aku diam,
sebab penyembah memang dilatih
untuk menelan.
“Celakalah orang-orang yang menulis Kitab dengan tangan mereka sendiri,
lalu berkata: ‘Ini dari Tuhan.’”
Ayat itu seperti palu.
Bukan memukul patung,
tapi kepalaku sendiri.
Patung-patung itu kini berderet,
menatapku tanpa mata.
Mana yang harus kupecahkan lebih dulu?
Yang bernama kejujuran?
Atau yang kusebut rumah
padahal isinya altar kebohongan?
Menghancurkan tuhan palsu itu mudah.
Ia tak akan mengaduh.
Ia tak punya saraf.
Yang sulit
adalah merobohkan kuil
yang kubangun dengan kerja siang-malam,
dengan kesabaran yang kusebut mulia,
dengan luka yang kupanggil cinta.
“Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang berdusta.”
Ayat itu singkat.
Lebih singkat dari alasan
yang diulang bertahun-tahun.
Jika kini tuhan penipu itu berdiri di depanku,
aku tak akan meludah.
Tak akan menampar.
Patung tak pantas dimusuhi.
Aku lebih marah pada penyembah
yang bersikeras sujud
meski tahu patung itu berongga.
Dan, aku akui
aku salah satunya.
“Dan kebanyakan mereka tidak beriman
kecuali dalam keadaan mempersekutukan.”
Maka aku berhenti.
Bukan berhenti percaya,
tapi berhenti menyembah kebohongan
atas nama apa pun.
Hari ini aku tak ingin tuhan baru.
Aku hanya ingin kebenaran
yang berani bicara
tanpa topeng kesucian.
Dan jika ini neraka
maka neraka ini lebih jujur
daripada surga
yang dibangun dari dusta.
Leave a Comment