| 0 Comments | 133 Views

Card Image

Artikel ini terbit di Journal of Qur'anic Studies volume 26, No. 1, 2024. Merupakan eksplorasi lebih lanjut dari satu bagian disertasi (diterbitkan open access di sini), artikel ini awalnya ditulis sebagai salah satu kontribusi pada edited volume yang berjudul Malay-Indonesian Islamic Studies: A Festschirft in Honor of Peter G. Riddell. Sayangnya, artikel ini tidak disetujui oleh penerbit ketika itu, sehingga tidak jadi dimuat. Setelah melakukan revisi kembali, ia menemukan tempatnya di JQS.

Bisa diakses di: https://www.euppublishing.com/doi/10.3366/jqs.2024.0568 (Jika tidak memiliki akses, silahkan hubungi penulis).


Isi Artikel

Artikel ini membahas edisi revisi 1989–1990 dari Al-Qur’an dan Terjemahnya (QT), terjemahan resmi Al-Qur’an yang diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag). Indonesia termasuk sedikit negara yang memiliki terjemahan Al-Qur’an resmi negara, dan proyek QT menjadi contoh penting bagaimana negara-bangsa modern berperan aktif dalam membentuk tafsir dan pemahaman Al-Qur’an di era kontemporer.

Selama ini, hasil revisi 1989–1990 kerap disebut sebagai “edisi Saudi” atau “edisi 1990”, karena merupakan hasil kerja sama antara Kemenag dan King Fahd Glorious Qur’an Printing Complex (KFGQPC) di Madinah. Narasi yang umum beredar menyebutkan bahwa revisi tersebut menghasilkan satu edisi tunggal. Namun, artikel ini menunjukkan bahwa kenyataannya lebih kompleks. Revisi itu justru melahirkan dua versi berbeda: satu dicetak di Arab Saudi dan satu lagi di Indonesia.

Melalui perbandingan antara edisi pertama (1965), edisi revisi Indonesia 1990, dan edisi Saudi 1990, kajian ini menelusuri perbedaan dalam unsur-unsur paratekstual—seperti judul, pengantar, dan penggunaan muṣḥaf—serta dalam sejumlah pilihan terjemahan pada ayat-ayat tertentu, seperti Q. 3:7; 9:94; 8:64, dsb. Perbedaan-perbedaan ini menunjukkan adanya keputusan interpretatif yang khas dalam edisi Saudi, yang tidak sepenuhnya sejalan dengan edisi yang beredar di Indonesia.

Artikel ini berargumen bahwa KFGQPC bukan sekadar percetakan atau penerbit teknis, melainkan aktor yang membawa agenda dan kepentingan global Arab Saudi. Jika pemerintah Indonesia terutama berorientasi pada kepentingan domestik—seperti mengakomodasi aspirasi umat Islam Indonesia, memperkuat posisi bahasa Indonesia, dan memperbaiki kualitas editorial—maka Arab Saudi memanfaatkan proyek ini sebagai bagian dari strategi memperluas pengaruh keagamaan globalnya, termasuk melalui kecenderungan interpretasi yang selaras dengan corak Salafi.

Dengan demikian, kajian ini menggugat anggapan bahwa revisi 1990 hanya menghasilkan satu “edisi Saudi”. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa kerja sama dua negara dengan kepentingan yang berbeda telah membentuk dua jalur perkembangan tekstual yang berlainan dalam sejarah QT.


Leave a Comment