| 0 Comments | 231 Views

Card Image

Pagi ini saya membaca sebuah artikel, "Politics and Ideology in Qur'anic Translation: A Comparative Analysis Between the Indonesian Ministry of Religious Affairs Translation and the Hilali-Khan Translation," yang mengkaji bagaimana kedua terjemahan menerjemahkan ayat tentang tauhid, awliyāʾ, dan relasi gender. 

Tidak ada analisis dalam artikel ini; hanya ada slogan-slogan saja. Terjemahan Kemenag (QT) mempromosikan 'religious pluralism' yang merupakan 'integral part of social life,' blah-blah-blah, dan Hilali-Khan (HK) literalis, wahabi, blah-blah-blah. Entah bagaimana data-data yang dihadirkan bisa berakhir pada kesimpulan-kesimpulan sloganistik tersebut, tidak ada penjelasan berarti. Entah bagaimana penerjemahan kata awliyāʾ di Ali Imrān 28 dan al-Ma'idah 51 yang diterjemahkan sebagai 'wali' di QT dan sebagai 'Auliya (supporters, helpers)' di HK bisa berakhir pada kesimpulan tersebut. QT yang menerjemahkan awliyāʾ sebagai 'wali' di kutipan langsung terjemahan yang dihadirkan, oleh penulis dieksplorasi dengan terjemahan versi lain, sebagai 'teman setia.' G nyambung.

Yang mengesalkan dalam artikel ini adalah penulisnya mengutip penelitian-penelitian terdahulu tanpa membacanya. Ada dua artikel saya yang dikutip dalam artikel ini: "Against the Control Argument" (2023) dan "Conflicting Interests" (2024). Saya sudah cukup familiar dengan kutipan tidak substansial; kutipan-kutipan yang gagal menangkap kontribusi utama dari bacaan yang dikutip. Kepentingannya hanya untuk menambah-nambahkan jumlah daftar pustaka. Bukan hanya oleh penulis, terkadang pengelola jurnal juga punya modus aneh seputar kutipan-kutipan siluman seperti ini. Artikel ini memperlihatkan contoh-contoh yang menggelikan seputar pengutipan siluman tersebut; seringkali tidak nyambung, bahkan juga bertentangan dengan argumen bacaan yang dikutip.

"Conflicting Interests" mengkaji QT di tangan dua lembaga yang berbeda, Kemenag RI dan King Fahd Complex di Saudi. Fokus saya hanya kepada QT saja, dan memang sepintas menyebut HK, tapi oleh penulis artikel ini, kutipan-kutipan atas "Conflicting Interest" mengesankan seolah saya membahas HK. Bagaimana ia bisa merujuk kepada "Conflicting Interests" untuk menyatakan "In contrast, the Hilali-Khan translation adopts a more exclusive stance, warning against alliances with non-Muslims, reflecting the Wahhabi ideological foundation"???

Yang paling menggelikan adalah "Against the Control Argumen" mempermasalahkan penyederhanaan tesis politik terjemahan dalam konteks kontrol atas diskursus religious negara, dan ia mengutip ini untuk menyatakan "this translation emphasizes tolerance and diversity, reflecting the nation's commitment to maintaining harmony among its diverse religious and cultural communities." 


Leave a Comment