| 0 Comments | 31 Views

Card Image

Sumber ilustrasi: telepieza.com

Anaximenes dari Miletus

Satu lagi nama filsuf alam dari Miletus yang sering muncul adalah Anaximenes. Ia diperkirakan hidup sekitar tahun 586-526 SM. Tidak ada kepastian mengenai tahun kelahiran dan kematiannya, tetapi sebagian besar catatan sejarah menunjuk pada rentang waktu tersebut. Anaximenes merupakan murid dari Anaximander, sang filsuf-saintis, yang sebelumnya sudah kita bicarakan. Dengan demikian, antara tiga nama filsuf alam dari Miletus ini (Thales, Anaximander, dan Anaximenes) terdapat hubungan guru-murid yang sangat erat. Anaximenes merupakan murid dari Anaximander, sementara Anaximander merupakan murid dari Thales. Namun uniknya, masing-masing memiliki pandangan yang berbeda tentang persoalan filosofis yang sama-sama mereka hadapi, yakni tentang asal-muasal alam semesta.

Sebagaimana gurunya, Anaximenes menulis karya. Namun sayangnya tidak ada karya asli yang utuh dari Anaximenes yang bertahan hingga sekarang. Karya-karyanya hilang seiring waktu. Yang kita miliki saat ini hanyalah satu fragmen kutipan dalam bentuk potongan kalimat pendek. Informasi tentang filsuf ini lebih banyak berasal dari laporan (testimonia) atau ringkasan yang ditulis oleh para filsuf dan penulis yang hidup jauh setelahnya, seperti Aristoteles (384–322 SM), Theophrastus (371–287 SM), Hippolytus (170–235 M), Diogenes Laertius (abad 3 M), dan Simplicius (490–560 M). Dari laporan dan ringkasan tersebut, karya Theophrastus menjadi sumber utama bagi hampir semua laporan yang ditulis kemudian. Menurut Burnet (1920), hampir seluruh tradisi doxografi (rantai transmisi teks) tentang filsuf pra-Sokratik berasal dari karya Theophrastus.


Persoalan Filosofis Anaximenes

Anaximenes bergerak dalam spektrum persoalan filsafat yang sama dengan gurunya (Anaximander) dan guru dari gurunya (Thales), yaitu pencarian rasional –dan bukan mitologis– tentang asal-usul alam semesta (Gaarder, 1996). Ketiga filsuf dari Miletus ini percaya bahwa ada satu zat, unsur, prinsip dasar, atau prinsip pertama (arkhē) yang menjadi sumber dari segala hal yang ada di alam semesta (Craig, 1998). Perbedaannya terletak pada apa yang ditetapkan oleh masing-masing sebagai arkhē serta bagaimana unsur atau prinsip tersebut digunakan untuk menjelaskan keragaman dan perubahan yang terjadi di alam semesta.

Berbeda dengan Thales yang menetapkan unsur fisik konkret sebagai arkhē dan Anaximander yang menunjuk prinsip tak terbatas yang melampaui unsur-unsur fisik, Anaximenes memahami arkhē sebagai unsur fisik yang bersifat dinamis. Baginya, keragaman dan perubahan di alam semesta dapat dijelaskan melalui mekanisme perubahan pada unsur dasar tersebut. Dengan demikian, meskipun Anaximenes bergerak dalam spektrum persoalan filsafat yang sama dengan Thales dan Anaximander, ia tidak hanya membahas asal-usul alam semesta, tetapi juga menjelaskan mekanisme perubahan yang memungkinkan munculnya keragaman realitas.


Udara (Aēr): Asal Mula Alam Semesta

Pandangan Anaximenes tentang arkhē dapat dipahami sebagai sintesis atas pandangan Thales dan Anaximander. Seperti Thales, ia menganggap bahwa arkhē haruslah berupa unsur fisik yang konkret. Namun, ia menolak gagasan Thales bahwa air merupakan unsur dasar alam semesta karena sulit menjelaskan keberadaan unsur lain yang memiliki karakter bertentangan dengan air. Misalnya api yang bersifat panas. Mustahil mengatakan bahwa api berasal dari air yang bersifat dingin (Physics. III.4.) (Barnes, 2014). Di sisi lain, Anaximenes tampaknya menerima gagasan Anaximander bahwa arkhē mestilah sesuatu yang tak terbatas dan tak berhingga. Meski demikian, ia tidak sepenuhnya menerima apeiron sebagai asal mula alam semesta. Menurutnya, prinsip yang disebutkan oleh Anaximander itu sepenuhnya abstrak, terlalu jauh dari pengalaman indrawi, dan kurang mampu menunjukkan mekanisme perubahan alam secara konkret.

Dalam pandangan Anaximenes, asal-usul alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya adalah udara (aēr). Udara dipahami sebagai sumber seluruh realitas dan sekaligus prinsip kehidupan yang meliputi kosmos. Ia menetapkan udara sebagai arkhē karena unsur tersebut bersifat konkret sebagaimana pada Thales, dan sekaligus juga memiliki sifat tak terbatas yang mengingatkan kita pada gagasan Anaximander. Selain itu, udara dianggap lebih mampu menjelaskan perubahan dan keragaman di alam semesta. Menurutnya, udara adalah unsur dasar yang hidup, bergerak, dan dapat berubah menjadi berbagai bentuk materi. Dalam kutipan yang dipercaya berasal darinya, Anaximenes menyebutkan: “As our soul, being air, holds us together, so do breath and air surround the whole universe (sebagaimana jiwa kita, yang tidak lain daripada udara, menahan kita bersama, demikian pula napas dan udara melingkupi seluruh dunia)” (Barnes, 1987; Burnet’s, 1920).


Perubahan melalui Pemadatan (Kondensasi) dan Perenggangan (Rarefaksi)

Setelah menetapkan udara sebagai arkhē, Anaximenes melangkah lebih jauh dengan bertanya: “Bagaimana udara dapat berubah menjadi materi-materi yang berbeda; atau bagaimana materi yang berbeda di alam semesta bisa berasal dari udara?” Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anaximenes memperkenalkan proses pemadatan (condensation) dan perenggangan (rarefaction) untuk menjelaskan mekanisme perubahan udara hingga menghasilkan keragaman yang ada di alam semesta.

Pemadatan atau kondensasi (condensation) adalah proses ketika udara menjadi lebih rapat, lebih padat, lebih berat, dan lebih dingin. Melalui pemadatan bertahap, udara berubah menjadi angin dan awan. Apabila bertambah padat lagi, turun air hujan dari awan itu. Dari air, terjadilah tanah, dan tanah yang sangat padat menjadi batu. Sebaliknya, perenggangan atau rarefaksi (rarefaction) adalah proses ketika udara menjadi lebih tipis, lebih renggang, lebih halus, dan lebih panas. Apabila udara merenggang, yang muncul adalah api. Jadi dalam pandangan Anaximenes, api bukanlah unsur yang berbeda sama sekali dari udara, melainkan udara dalam kondisi paling tipis dan ringan. Dengan demikian, keragaman materi di alam semesta tidak disebabkan oleh adanya banyak unsur dasar yang berbeda, melainkan karena perbedaan tingkat kepadatan pada substansi yang sama, yakni udara.

Beberapa penulis menilai pandangan Anaximenes ini sebagai bentuk kemunduran dibandingkan dengan pandangan gurunya, Anaximander, yang dianggap lebih subtil dan spekulatif (Bertens, 1975). Penilaian tersebut muncul karena, seperti Thales, Anaximenes kembali menjadikan unsur fisik yang konkret sebagai arkhē. Padahal sebelumnya Anaximander telah mengajukan konsep apeiron sebagai prinsip pertama yang bersifat abstrak dan tak terbatas. Dalam perspektif ini, Anaximenes dianggap mengembalikan filsafat alam kepada unsur yang lebih konkret setelah Anaximander bergerak menuju abstraksi metafisis.

Sebaliknya, beberapa penulis lain justru menilai pandangan Anaximenes ini sebagai kemajuan (Bertens, 1975). Menurut mereka, proses kondensasi dan rarefaksi yang diperkenalkan Anaximenes menunjukkan mekanisme perubahan alam yang lebih konkret dan naturalistik dibandingkan prinsip keadilan (dikē) dalam kosmologi Anaximander. Karena itu, pandangan Anaximenes dianggap membuka kemungkinan yang lebih luas bagi berkembangnya penyelidikan ilmiah terhadap alam semesta.


Udara, Mikrokosmos, dan Makrokosmos

Satu-satunya kutipan dari Anaximenes yang telah dicantumkan di atas tidak hanya menunjukkan pandangannya tentang udara sebagai unsur dasar alam semesta, tetapi juga memperlihatkan gagasannya mengenai udara sebagai unsur yang menghubungkan manusia dengan alam semesta (kosmos) (Hatta, 1986). Menurutnya, udara merupakan substansi jiwa manusia. Dengan kata lain, jiwa manusia tidak lain daripada udara yang dipelihara dengan bernapas (pneuma), sehingga tubuh tetap hidup dan menyatu. Prinsip yang sama berlaku pada alam semesta. Sebagaimana udara menopang kehidupan manusia, demikian pula udara melingkupi dan menopang seluruh kosmos. Udara dipahami sebagai unsur vital yang hadir sekaligus dalam diri manusia dan alam semesta, serta menjadi unsur pemersatu antara manusia sebagai mikrokosmos (dunia kecil) dan alam semesta sebagai makrokosmos (dunia besar).

Bertens (1975) menyebutkan bahwa meskipun Anaximenes belum menggunakan istilah mikrokosmos dan makrokosmos, gagasan mengenai keterkaitan antara manusia dan alam semesta telah tampak dalam kutipannya tentang udara dan jiwa. Oleh karena itu, Anaximenes dapat dipandang sebagai pemikir pertama yang mengemukakan adanya kesesuaian antara struktur manusia dan struktur alam semesta. Tema mengenai relasi mikrokosmos dan makrokosmos ini kemudian berkembang luas dalam tradisi filsafat Yunani pada periode-periode berikutnya. Sejalan dengan itu, Burnet (1920) menilai pandangan Anaximenes ini sebagai bentuk paling awal dari argumen tentang mikrokosmos dan makrokosmos, dan sekaligus sebagai tanda munculnya perhatian Yunani awal terhadap persoalan fisiologis dan kehidupan alamiah manusia.


Refleksi

Terdapat tiga hal utama yang dapat direfleksikan dari kontribusi Anaximenes sebagai seorang filsuf-naturalis dalam perkembangan awal filsafat Yunani.

Pertama, Anaximenes menerima pandangan pendahulunya, yakni Thales dan Anaximander, secara kritis. Ia tidak sekadar mengikuti salah satu di antaranya, tetapi berusaha menjembatani keduanya dalam pencarian arkhē. Dalam hal ini, pemikirannya dapat dipahami sebagai sintesis antara unsur material konkret dari Thales dan prinsip tak terbatas (apeiron) dari Anaximander. Anaximenes menetapkan udara sebagai arkhē karena udara bersifat nyata dan dapat dialami secara langsung, serta sekaligus memiliki fungsi universal sebagai prinsip kehidupan, gerak, dan keteraturan alam semesta. Udara tidak dipahami semata-mata sebagai benda fisik, melainkan juga sebagai medium yang menghubungkan manusia dan alam semesta dalam satu kesatuan ontologis. Melalui pandangan ini, Anaximenes tidak hanya berusaha menemukan arkhē, tetapi juga berusaha menjelaskan bagaimana sesuatu yang tampak sederhana dapat menjadi dasar bagi kompleksitas seluruh realitas.

Kedua, orisinalitas terpenting Anaximenes terletak pada usahanya menjelaskan mekanisme perubahan alam melalui proses kondensasi dan rarefaksi. Para filsuf sebelumnya lebih menekankan pencarian unsur atau prinsip dasar alam semesta. Anaximenes melangkah lebih jauh dengan mempertanyakan bagaimana unsur tunggal tersebut dapat menghasilkan keragaman materi di alam. Jawaban yang diajukannya menunjukkan intuisi filosofis yang sangat maju. Ia menyatakan bahwa perbedaan materi tidak harus disebabkan oleh substansi asal yang berbeda, tetapi dapat muncul dari perubahan tingkat kepadatan pada materi yang sama. Dalam kerangka ini, api, angin, awan, air, tanah, dan batu dipahami sebagai tahapan transformasi dan perubahan bentuk udara. Gagasan tersebut memperlihatkan munculnya pola berpikir kausal dan mekanistik dalam filsafat Yunani awal, yakni keyakinan bahwa perubahan alam dapat dijelaskan melalui proses transformasi internal alam itu sendiri, tanpa harus merujuk pada campur tangan mitologis atau kehendak para dewa.

Ketiga, pemikiran Anaximenes menandai salah satu langkah awal menuju lahirnya sains alam dalam tradisi intelektual Barat. Meskipun teorinya masih sangat sederhana bila diukur dari capaian ilmu pengetahuan modern, pendekatan yang digunakannya menunjukkan perubahan mendasar dalam cara manusia memahami dunia. Anaximenes memperlihatkan embrio pemikiran ilmiah melalui upayanya mencari hukum umum yang dapat menjelaskan berbagai gejala alam secara rasional. Nilai terbesar pemikirannya mungkin bukan terletak pada ketepatan teorinya, melainkan pada keberaniannya memandang alam sebagai sesuatu yang dapat dipahami melalui observasi, penalaran, dan prinsip-prinsip alamiah-naturalistik, tanpa bergantung pada penjelasan mitologis.


REFERENCES:

Barnes, J. (1987). Early Greek Philosophy. Penguin Books.

Barnes, J. (2014). The Complete Works of Aristotle. In The Complete Works of Aristotle (Vol. 2).

Bertens, K. (1975). Sejarah Filsafat Yunani. Kanisius.

Burnet’s, J. (1920). Early Greek Philosophy. A&C Black.

Craig, E. (1998). Routledge Encyclopedia of Philosophy (Vol. 25, Number 2). Routledge. https://doi.org/10.22201/iifs.18704913e.1999.45.496

Gaarder, J. (1996). Dunia Sophie Sebuah Novel Filsafat (A. Rahmani, Tran.). Mizan.

Hatta, M. (1986). Alam Pikiran Yunani. UI-Press.

 


Leave a Comment