| 0 Comments | 2 Views
Para filsuf alam dari Miletus telah berjasa
dalam membidani lahirnya cara berpikir rasional-filosofis tentang alam raya yang
secara perlahan menggantikan penjelasan mitologis. Setelah era mereka, tradisi
filsafat Yunani mulai berkembang menjadi ruang dialog kritis yang semakin meluas.
Persoalan mendasar tentang asal-usul, bahan dasar, dan perubahan alam tidak
hanya dipertanyakan kembali, tetapi juga memicu munculnya perdebatan baru dalam
horizon pemikiran yang lebih kompleks. Sebagaimana ditekankan oleh Bertrand
Russell
Pythagoras dan Pythagoreanisme
Beberapa karya sarjana modern tentang filsafat
Yunani Pra-Sokrates menempatkan Pythagoras setelah para filsuf alam sebagai
tokoh penting dalam perkembangan awal tradisi filsafat
Sama seperti Thales,
Pythagoras tidak meninggalkan karya tulis yang dapat kita akses saat ini. Barnes
Walaupun sumber informasi
tentang Pythagoras sering dianggap problematis, para sarjana umumnya sepakat
bahwa filsuf ini terkait erat dengan komunitas religius-filosofis yang dikenal
sebagai Pythagoreanisme. Bertens
Filsafat sebagai Pandangan Hidup
Menurut Russell
Pythagoras menggeser orientasi filsafat para filsuf alam tersebut secara mendasar. Ia berfilsafat tidak semata‑mata karena alasan ilmiah, melainkan menjadikannya sebagai pandangan hidup (a way of life; bios philosophikos). Baginya, filsafat tidak lagi sekadar bertanya: “apa hakikat realitas”, tetapi juga “bagaimana manusia seharusnya hidup”. Filsafat tidak hanya menjadi pengetahuan tentang dunia, tetapi juga menjadi jalan pendewasaan diri dan penyucian jiwa. Dalam skema ini, tujuan seseorang berfilsafat tidak lagi sekadar mengetahui hakikat kosmos, tetapi menyesuaikan hidupnya dengan harmoni kosmos. Pada Pythagoras, pengetahuan filosofis dipahami memiliki fungsi transformasional, yakni mengubah cara hidup manusia.
Pergeseran orientasi
filsafat ke arah pandangan hidup ini memberi warna baru yang berpengaruh besar
terhadap karakter filsafat Yunani selanjutnya. Filsafat sebagai pandangan hidup
dipraktikkan di komunitas Pythagorean. Kehidupan komunal komunitas tersebut
secara rutin melakukan latihan asketik, praktik keheningan, meditasi musikal, hingga
menerapkan pengaturan makanan dan aturan moral tertentu. Orientasi filsafat
Pythagoras ini juga menginspirasi tokoh‑tokoh besar seperti Sokrates, Plato,
Epictetus, dan Marcus Aurelius. Selain itu, model ini juga berpengaruh pada aliran‑aliran
filsafat seperti Stoisisme dan Epikureanisme, serta tradisi tertentu dalam filsafat
Islam dan Kristen. Jejaknya masih terasa hingga kini, sebagaimana ditegaskan
Pierre Hadot
Pandangan tentang Jiwa
Pergeseran penting lain yang muncul dalam filsafat Pythagoras adalah pandangan tentang jiwa. Pada Pythagoras, persoalan jiwa untuk pertama kalinya menjadi problem filsafat. Dalam hal ini, filsafat Pythagoras menandai pergeseran arah diskusi filsafat dari persoalan tentang alam (kosmologi) menuju persoalan tentang manusia (antropologi). Ia membuka ruang bagi pertanyaan baru tentang siapa manusia sebenarnya, apa hakikat jiwa, dan bagaimana seharusnya manusia menjalani hidupnya. Pergeseran ini sekaligus menjadi titik awal bagi tradisi filsafat yang menempatkan manusia dan kehidupan etis sebagai tema utama refleksi filosofis.
Pythagoras secara implisit
menganut paham dualisme diri. Paham ini menyatakan bahwa diri manusia terdiri
dari dua substansi dasar atau entitas yang berbeda, yaitu tubuh dan jiwa. Tubuh
merupakan entitas fisik dan material, sedangkan jiwa merupakan entitas
non-fisik dan immaterial. Pythagoras percaya bahwa segala sesuatu yang hidup
pasti memiliki jiwa. Ia juga meyakini bahwa jiwa manusia merupakan fragmen dari
Jiwa Dunia, dan oleh karena itu bersifat abadi. Jiwa tersebut terpenjara dalam
tubuh dan berupaya untuk bersatu kembali secara penuh dengan Jiwa Dunia
Perpindahan Jiwa (Metempsychosis; Reinkarnasi)
Ajaran yang paling menonjol dari Pythagoras
dan mazhab Pythagorean adalah tentang perpindahan jiwa (metempsychosis; reincarnation).
Menurut Pythagoras, setelah kematian manusia, jiwanya tidak ikut hancur,
melainkan berpindah dari satu tubuh ke tubuh yang lain dan akan mengalami
siklus kelahiran kembali secara terus-menerus hingga mencapai kemurniannya. Perpindahan
ini dapat terjadi antar manusia, atau bahkan antara manusia dan hewan. Dalam
sebuah kesaksian dari Xenophanes disebutkan bahwa suatu ketika Pythagoras
mendengar seekor anjing mendengking karena dipukul. Ia lalu meminta agar
pukulan itu dihentikan karena menurutnya, ia mendengar suara sahabatnya yang
telah meninggal dalam dengkingan anjing tersebut
Pythagoras berpandangan bahwa kehidupan manusia menentukan keadaan jiwa setelah kematiannya. Agar manusia dapat terbebas dari siklus perpindahan jiwa setelah kematiannya, ia perlu menempuh proses penyucian diri selama hidupnya. Proses itu dijalani melalui disiplin yang ketat, berpantang jenis makanan tertentu, seperti daging hewan dan kacang, serta mempraktekkan filsafat dan ilmu pengetahuan sebagai sarana pembentukan diri. Dengan demikian, tujuan hidup manusia menurut Pythagoras adalah memurnikan jiwa agar terbebas dari siklus perpindahan setelah kematian. Dalam kerangka inilah filsafat sebagai pandangan hidup dalam tradisi Pythagoreanisme dapat dimengerti, yakni sebagai jalan etis dan spiritual untuk mencapai kesucian jiwa.
Dari Arkhē ke Harmoni Kosmos
Pergeseran lain dalam filsafat Pythagoras tampak dalam problem kosmologi yang dibahasnya. Sama halnya dengan para filsuf alam dari Miletus, Pythagoras masih bergulat dengan persoalan kosmologi. Dalam hal ini, pandangannya menunjukkan kesinambungan historis tertentu dengan mereka. Namun demikian, Pythagoras menggeser pertanyaan yang semula berpusat pada “apa unsur dasar alam semesta” menjadi “apa struktur terdalam yang membuat alam semesta teratur”. Para filsuf alam dari Miletus mencari arkhē dalam unsur material, yang menurut mereka berupa air (Thales), apeiron (Anaximander), atau udara (Anaximenes). Sementara Pythagoras berpendapat bahwa hakikat alam semesta bukanlah materi, melainkan keteraturan dan harmoni yang menyusunnya.
Menurut catatan Bertens
Pythagoras mengatakan bahwa hakikat terdalam dan prinsip dasar dari keteraturan kosmos adalah angka (arithmos). Ia tidak memahami angka sekadar sebagai simbol kuantitatif, melainkan sebagai struktur fundamental yang membentuk harmoni alam semesta. Dengan kata lain, alam semesta berfungsi menurut prinsip-prinsip matematis dan harus dipahami sebagai tatanan rasional dari bentuk-bentuk geometris, perbandingan, dan jumlah. Baginya, proporsi geometris, keteraturan kosmos, dan bahkan harmoni musik dapat dijelaskan melalui hubungan numerik. Pandangan Pythagoras ini menegaskan bahwa angka bukan hanya alat hitung, melainkan fondasi metafisik yang menjelaskan keteraturan realitas. Pandangan ini sekaligus membuka jalan bagi tradisi filsafat yang menempatkan rasionalitas dan struktur sebagai ini pemahaman tentang alam semesta.
Refleksi
Ada banyak hal yang dapat direfleksikan dari pemikiran Pythagoras. Namun jika dilihat dalam konteks perkembangan filsafat Yunani awal, setidaknya terdapat beberapa poin refleksi berikut ini.
Pertama, pemikiran Pythagoras menandai perkembangan kajian filsafat dari persoalan kosmologi ke arah persoalan eksistensi manusia. Ia memperluas horizon filsafat dari sekadar penyelidikan tentang alam menuju persoalan kedirian dan kehidupan manusia. Para filsuf alam dari Miletus telah memulai filsafat dengan bertanya tentang asal-usul dan struktur kosmos, sementara Pythagoras mengembangkannya pada persoalan jiwa, cara hidup, dan pembentukan diri manusia. Pengembangan yang dilakukan oleh Pythagoras ini sangat penting karena membuka jalan bagi lahirnya kajian etika, antropologi filosofis, dan filsafat kehidupan dalam tradisi Yunani berikutnya.
Kedua, pemikiran Pythagoras juga memperlihatkan bahwa filsafat bukan hanya dipahami sebagai cara berpikir (as a way of thinking) yang rasional dan dipraktikkan dalam aktivitas intelektual, tetapi juga dimengerti sebagai pandangan hidup (as a way of life) dan praktik keseharian yang bersifat transformasional. Dalam hal ini, pengetahuan filosofis menjadi sarana untuk memurnikan jiwa dan membentuk kehidupan yang harmonis dengan alam. Dalam konteks inilah filsafat memiliki dimensi etis dan spiritual yang sangat kuat. Pemikiran Pythagoras ini mempengaruhi para filsuf Yunani generasi selanjutnya dan berbagai tradisi filsafat lainnya.
Ketiga, pandangan Pythagoras tentang angka (arithmos) sebagai hakikat terdalam dan prinsip dasar dari keteraturan kosmos telah membuka ruang bagi penjelasan tentang alam semesta melalui pola, rasio, dan struktur formal. Cara pandang ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan matematika, astronomi, dan sains modern yang didasarkan atas asumsi bahwa kosmos memiliki keteraturan rasional yang bisa dipelajari.
Keempat, Pythagoras juga menekankan bahwa manusia dan alam semesta berada dalam hubungan harmonis yang mendalam. Jiwa manusia dipahami sebagai bagian dari keteraturan kosmik yang lebih besar, sehingga kehidupan yang baik bagi manusia adalah kehidupan yang selaras dengan harmoni alam semesta. Pemikiran Pythagoras menunjukkan munculnya kesadaran bahwa manusia bukanlah entitas yang terpisah dari kosmos, melainkan bagian dari tatanan universal yang sama. Pada periode berikutnya, pemikiran Pythagoras ini menjadi tema penting dalam Platonisme, Stoisisme, dan berbagai tradisi mistik-filosofis.
Secara keseluruhan, pandangan filsafat Pythagoras menunjukkan pergeseran dan perkembangan penting dalam sejarah filsafat Yunani. Ia mengubah filsafat dari sekadar penyelidikan tentang alam menjadi cara hidup yang berorientasi pada pembentukan jiwa. Ia juga memperkenalkan gagasan bahwa realitas alam semesta mengandung keteraturan struktural dan harmoni, sehingga dapat dipahami secara rasional.☺
REFERENCES:
Bagus, L. (2022). Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Barnes, J. (1987). Early Greek Philosophy. Penguin Books.
Bertens, K. (1975). Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.
Burnet’s, J. (1920). Early Greek Philosophy. A&C Black.
Guthrie, W. K. C. (1975). A History of Greek Philosophy. https://doi.org/10.1017/cbo9780511518423
Hadot, P. (1995). Philosophy as a Way of Life: Spiritual Exercises from Socrates to Foucault (A. I. Davidson, Ed.; M. Chase, Tran.). Blackwell Publisher.
Russel, B. (1991). History of Western Philosophy. Routledge.
Leave a Comment