| 0 Comments | 47 Views

Halo, Gaes. Mari kita jujur. Sebagai alumnus Fakultas Adab atau nama kerennya sekarang, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), atau Adab dan Ilmu Budaya (FADIB), kita tuh sering banget kena miskonsepsi yang bikin pusing tujuh keliling.

Begitu dengar kata "Adab", otak publik Indonesia langsung mikir: moral, etika, sopan santun, atau minimal kita ini job desk-nya adalah mengoreksi cara orang lain duduk di kereta. Seolah-olah, fakultas ini adalah lembaga yang cuma fokus mendidik kamu supaya jadi manusia yang tahu "Adab Dulu, Baru Ilmu" (BMH, n.d. ; Gramedia Literasi, n.d.). Padahal, cuy, kalau cuma mau belajar adab dalam arti moral praktis, mestinya kamu daftar di Fakultas Tarbiyah atau Ushuluddin yang memang lebih fokus ke Akhlak atau Etika Keagamaan (Salam, 1997; Miswar, 2020). Kami di sini? Kami adalah fakultas Humaniora, kawan.


Miskonsepsi Klasik: Kami Bukan Guru Etika, Kami Adalah Arkeolog Teks

Kita tidak menyalahkan kalau masyarakat gampang salah paham karena kata Adab sendiri memang sudah terlanjur menyempit maknanya di Indonesia menjadi sinonim Akhlak atau Etiket (Salam, 1997 ; PWM Jateng, 2024 ). Tapi, mari kita telaah dikit biar nggak salah kirim mahar.

Dalam konteks kampus kita, Adab merujuk pada Al-Adab wa Al-Lughah, yang secara harfiah berarti Sastra dan Bahasa (FADIB UIN Suka, n.d. ). Adab di sini adalah seperangkat pengetahuan dan warisan kebudayaan yang membentuk pribadi berbudaya atau cultivated knowledge (Supriyadi, 2010 ; core.ac.uk, n.d.). Jadi, kami bukan belajar cara duduk yang sopan, tapi mempelajari produk budaya yang merekam peradaban.

Contoh konkretnya, kami belajar sastra. Kenapa? Karena sastra (misalnya karya Hamzah Fansuri berjudul "Perahu") memang bisa menjadi media penanaman nilai moral dan tauhid (PWM Jateng, 2024 ; Jumardi, 2012 ). Tapi yang kami bedah secara akademik adalah teks, struktur, dan sejarahnya, bukan sekadar nasihat moral murni.


Evolusi Nama: Biar Nggak Dikira Jurusan Hura-Hura

Sejarahnya, fakultas ini sudah ada sejak 1957 di era ADIA (Akademisi Dinas Ilmu Agama) (FAH UIN Jakarta, n.d ). Sejak dulu, program studi awalnya memang Bahasa dan Sastra Arab (BSA) serta Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) (FAH UIN Jakarta, n.d. ; UIN Sunan Kalijaga, n.d. ).

Titik balik identitas kita terjadi saat IAIN berubah jadi UIN, misalnya di Jakarta pada tahun 2002 (FAH UIN Jakarta, n.d. ). Nama fakultas pun diperjelas menjadi Fakultas Adab dan Humaniora atau Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (UIN Sunan Kalijaga, n.d.; Mojok.co, 2020.). Penambahan kata "Humaniora" ini adalah pengumuman resmi kalau kita itu mengkaji Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Budaya Global secara luas (Mojok.co, n.d.).

Lihat saja isi prodi kami sekarang (FADIB UIN Suka, 2020; FAH UIN Imam Bonjol, n.d. ):

1.   Bahasa dan Sastra Arab (BSA): Belajar linguistik dan filologi teks klasik.

2.   Sejarah Peradaban Islam (SKI): Mengkaji sejarah dan kebudayaan.

3.   Ilmu Perpustakaan (IP): Mengelola informasi dan katalogisasi (biar ilmu nggak hilang!).

4.   Sastra Inggris (SI): Biar kita punya wawasan budaya global.


Dari Arab Klasik Sampai Fenomena Media Sosial

Fakultas Adab juga bukan cuma ngurusin naskah kuno yang berdebu. Kami juga sangat relevan dengan isu masa kini. Contohnya, FAH UIN Alauddin Makassar pernah membedah fenomena Arabizi, yaitu tren anak muda Arab nulis pakai huruf Latin dan angka di medsos (FAH UIN Alauddin Makassar, 2025 ). Ini adalah isu identitas linguistik yang serius, gaes.

Selain itu, kita juga membahas isu inferioritas bahasa nasional (Maylaffayza, 2025 ). Aktivitas ini membuktikan kalau fakultas ini melatih mahasiswa untuk berpikir kritis terhadap isu sosial kemasyarakatan (Dirjen Pendis, 2020 ).

Kesimpulannya: Kami memang menyandang nama "Adab", tapi dalam arti literasi, kebudayaan, dan sejarah peradaban (Mojok.co, n.d.). Jadi, buat yang masih bingung, jangan lagi tanya anak Adab lulus mau jadi guru sopan santun atau nggak. Kami mau jadi sejarawan, pustakawan, atau ahli bahasa yang mencerahkan bangsa (FAH UIN Ar-Raniry, n.d.). Itu baru beradab!

 

Daftar Rujukan

BMH. (n.d.). Indonesia Krisis Adab?.

Core.ac.uk. (n.d.). Pengertian Adab sebagai Sastra dalam Bahasa Arab Klasik.

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis). (2020). Panduan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).

Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar. (2025). Fenomena Arabizi: Pergeseran Identitas Linguistik Generasi Muda Arab.

Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry. (n.d.). Profil dan Sejarah Singkat.

Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Imam Bonjol Padang. (n.d.). Pengajaran.

Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (n.d.). Sejarah FAH.

Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB) UIN Sunan Kalijaga. (2020). Kurikulum Kampus Merdeka FADIB (2020).

Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB) UIN Sunan Kalijaga. (n.d.). Bahasa dan Sastra Arab.

Gramedia Literasi. (n.d.). Pepatah Adab Lebih Tinggi dari Ilmu: Makna dan Implikasinya dalam Kehidupan.

Jumardi. (2012). Memahami Sastra Islam. Sastra-Indonesia.com.

Maylaffayza, H. (2025). Inferioritas Bahasa dan Identitas Bangsa: Refleksi atas Penggunaan Bahasa Indonesia.

Miswar. (2020). Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibnu Miskawaih. Al-Fikru: Jurnal Ilmiah, 14(1).

Mojok.co. (n.d.). Fakultas Adab dan Humaniora UIN yang Dikira Belajar Adab Sopan Santun.

PWM Jateng. (2024). Peranan Sastra dalam Mendidik Adab dan Akhlak Manusia.

Salam, B. (1997). Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Rineka Cipta.

Supriyadi, D. (2010). Pengantar Filsafat Islam. CV Pustaka Setia.

UIN Sunan Kalijaga. (n.d.). History and Organization.

 


Leave a Comment