| 0 Comments | 133 Views
Halo, gaes. Mari kita jujur. Sebagai alumnus Fakultas Adab—atau dengan nama yang sekarang terdengar lebih “akademik” seperti Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) atau Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB)—kita ini sering sekali jadi korban miskonsepsi publik yang rasanya sudah kronis. Begitu masyarakat mendengar kata Adab, imajinasi kolektif langsung melompat ke wilayah moral, etika, dan sopan santun. Seolah-olah fakultas ini adalah semacam lembaga sertifikasi tata krama nasional, tempat mahasiswa dididik untuk memastikan cara duduk di ruang publik tetap lurus, cara makan tidak berisik, dan cara berbicara selalu disertai kata “permisi”. Bahkan kadang ada yang dengan penuh keyakinan berkata bahwa anak Adab itu tugasnya memastikan masyarakat menjalankan prinsip “Adab Dulu, Baru Ilmu” (BMH, n.d.; Gramedia Literasi, n.d.).
Padahal, kalau tujuan utamanya hanya mempelajari etika praktis atau pembinaan akhlak secara normatif, mestinya orang mendaftar ke Fakultas Tarbiyah atau Ushuluddin yang memang memiliki disiplin khusus tentang pendidikan akhlak, etika Islam, atau filsafat moral (Salam, 1997; Miswar, 2020). Fakultas Adab justru berada di wilayah yang berbeda: wilayah humaniora, yakni disiplin yang mempelajari bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan manusia. Dengan kata lain, kalau Tarbiyah sering membahas bagaimana manusia seharusnya berperilaku secara normatif, maka Adab lebih tertarik mempelajari bagaimana manusia mengekspresikan diri, membangun makna, dan merekam pengalaman peradabannya melalui bahasa dan budaya.
Miskonsepsi Klasik: Kami Bukan Guru Etika, Kami Adalah Arkeolog Teks
Kesalahpahaman ini sebenarnya tidak muncul begitu saja. Dalam konteks masyarakat Indonesia, kata adab memang telah mengalami penyempitan makna sehingga identik dengan akhlak atau etiket sosial (Salam, 1997; PWM Jateng, 2024). Akibatnya, ketika seseorang menyebut dirinya mahasiswa Fakultas Adab, publik sering membayangkan bahwa yang dipelajari adalah teknik menjadi manusia paling santun di muka bumi.
Namun, dalam konteks akademik di kampus, istilah Adab merujuk pada tradisi al-Adab wa al-Lughah, yaitu kajian sastra dan bahasa (FADIB UIN Suka, n.d.). Dalam pengertian klasiknya, adab berarti kumpulan pengetahuan dan warisan kebudayaan yang membentuk pribadi yang terdidik dan berbudaya—cultivated knowledge dalam istilah modern (Supriyadi, 2010; core.ac.uk, n.d.). Dengan kata lain, yang dipelajari bukan sekadar tata krama sosial, tetapi produk kebudayaan yang merekam perjalanan intelektual suatu peradaban.Di ruang kelas, mahasiswa Adab tidak sekadar membaca teks untuk mencari nasihat moral, melainkan membedah teks sebagai artefak budaya. Sastra, misalnya, dipelajari bukan hanya sebagai sumber hikmah, tetapi sebagai dokumen yang menyimpan struktur bahasa, konteks sejarah, dan dinamika pemikiran zamannya.
Ambil contoh karya Hamzah Fansuri berjudul Perahu. Banyak orang membaca puisi ini sebagai nasihat sufistik tentang perjalanan spiritual menuju Tuhan. Memang benar bahwa sastra sering berfungsi sebagai medium penanaman nilai moral dan tauhid (PWM Jateng, 2024; Jumardi, 2012). Namun dalam kajian akademik Fakultas Adab, teks seperti ini dianalisis lebih jauh: bagaimana metafora “perahu” bekerja dalam simbolisme tasawuf, bagaimana struktur bahasanya mencerminkan perkembangan Melayu klasik, serta bagaimana teks tersebut merekam dinamika intelektual Islam di Nusantara pada masanya. Jadi yang dibedah bukan hanya hikmahnya, tetapi juga bagaimana hikmah itu diproduksi oleh bahasa, budaya, dan sejarah.
Evolusi Nama: Biar Tidak Terjebak dalam Stereotip
Secara historis, Fakultas Adab memiliki akar yang cukup panjang dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia. Lembaga ini sudah ada sejak era ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) pada tahun 1957 (FAH UIN Jakarta, n.d.). Pada masa awal tersebut, bidang kajian yang berkembang terutama adalah Bahasa dan Sastra Arab (BSA) serta Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) (FAH UIN Jakarta, n.d.; UIN Sunan Kalijaga, n.d.). Dua disiplin ini memang menjadi fondasi utama dalam studi humaniora Islam.
Perubahan penting terjadi ketika sejumlah IAIN bertransformasi menjadi UIN, misalnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2002 (FAH UIN Jakarta, n.d.). Transformasi ini tidak hanya membawa perubahan struktural, tetapi juga memunculkan kebutuhan untuk memperjelas identitas akademik fakultas. Karena itulah, banyak kampus kemudian menambahkan istilah Humaniora atau Ilmu Budaya pada nama fakultasnya, sehingga lahirlah istilah Fakultas Adab dan Humaniora atau Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (UIN Sunan Kalijaga, n.d.; Mojok.co, 2020).
Penambahan kata tersebut sebenarnya bukan sekadar perubahan kosmetik administratif. Ia merupakan pernyataan akademik bahwa fakultas ini bergerak dalam bidang humanities, yaitu disiplin ilmu yang mempelajari manusia melalui bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan. Dengan kata lain, ini adalah cara elegan untuk mengatakan kepada publik: “Kami bukan sekolah etiket. Kami adalah laboratorium kajian peradaban.”
Jika melihat komposisi program studi yang ada sekarang, orientasi humaniora itu terlihat cukup jelas (FADIB UIN Suka, 2020; FAH UIN Imam Bonjol, n.d.).
Pertama, Bahasa dan Sastra Arab (BSA) yang mempelajari linguistik Arab, filologi naskah klasik, hingga kritik sastra. Di sini mahasiswa tidak hanya belajar berbicara bahasa Arab, tetapi juga memahami bagaimana bahasa tersebut berkembang dan membentuk tradisi intelektual Islam.
Kedua, Sejarah Peradaban Islam (SPI) yang mengkaji dinamika sosial, politik, dan kebudayaan masyarakat Muslim dari masa klasik hingga modern.
Ketiga, Ilmu Perpustakaan (IP) yang fokus pada pengelolaan informasi, katalogisasi, dan preservasi pengetahuan agar warisan intelektual manusia tidak hilang dari sejarah.
Keempat, Sastra Inggris (SI) yang membuka kajian budaya global melalui teori sastra, studi budaya, hingga analisis teks kontemporer.
Dari Manuskrip Kuno sampai Fenomena Media Sosial
Menariknya, kajian di Fakultas Adab tidak berhenti pada naskah kuno yang berdebu di rak perpustakaan. Justru pendekatan humaniora memungkinkan mahasiswa membaca fenomena kontemporer secara lebih kritis.Sebagai contoh, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar pernah mengkaji fenomena Arabizi, yaitu praktik menulis bahasa Arab menggunakan huruf Latin dan angka dalam komunikasi media sosial (FAH UIN Alauddin Makassar, 2025). Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya tren anak muda di internet. Namun bagi para linguis, fenomena ini membuka diskusi serius tentang identitas bahasa, perubahan sistem tulisan, dan pengaruh teknologi digital terhadap praktik komunikasi.Kajian lain juga menyentuh persoalan yang lebih luas, seperti fenomena inferioritas bahasa nasional dalam masyarakat modern (Maylaffayza, 2025). Dalam konteks ini, bahasa tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga arena politik budaya, identitas nasional, dan relasi kekuasaan dalam globalisasi. Melalui berbagai kajian tersebut, fakultas ini sebenarnya melatih mahasiswa untuk membaca realitas sosial secara kritis dan reflektif (Dirjen Pendis, 2020).Kesimpulan: Adab sebagai Literasi Peradaban
Pada akhirnya, kata Adab dalam konteks fakultas ini tidak boleh dipahami secara sempit sebagai sopan santun semata. Dalam tradisi intelektualnya, istilah ini merujuk pada literasi, kebudayaan, dan pengetahuan yang membentuk manusia berperadaban (Mojok.co, n.d.).Karena itu, jika masih ada yang bertanya kepada mahasiswa Adab apakah setelah lulus mereka akan menjadi guru tata krama nasional, mungkin jawabannya bisa sedikit satir: tidak juga. Banyak dari mereka justru menjadi sejarawan, peneliti budaya, pustakawan, penerjemah, atau ahli bahasa yang bekerja menjaga ingatan intelektual masyarakat (FAH UIN Ar-Raniry, n.d.).Jadi lain kali kalau bertemu alumni Fakultas Adab, jangan buru-buru menguji sopan santunnya. Bisa jadi dia sedang meneliti manuskrip abad ke-17, menulis sejarah sosial sebuah kota, atau menganalisis bagaimana bahasa di media sosial membentuk identitas generasi baru. Itu juga bentuk adab, bukan sekadar sopan santun, tetapi kemampuan memahami dan merawat warisan peradaban manusia.
Daftar Rujukan
BMH. (n.d.). Indonesia Krisis Adab?.
Core.ac.uk. (n.d.). Pengertian Adab sebagai Sastra dalam Bahasa Arab Klasik.
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis). (2020). Panduan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Alauddin Makassar. (2025). Fenomena Arabizi: Pergeseran Identitas Linguistik Generasi Muda Arab.
Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry. (n.d.). Profil dan Sejarah Singkat.
Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Imam Bonjol Padang. (n.d.). Pengajaran.
Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (n.d.). Sejarah FAH.
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB) UIN Sunan Kalijaga. (2020). Kurikulum Kampus Merdeka FADIB (2020).
Fakultas Adab dan Ilmu Budaya (FADIB) UIN Sunan Kalijaga. (n.d.). Bahasa dan Sastra Arab.
Gramedia Literasi. (n.d.). Pepatah Adab Lebih Tinggi dari Ilmu: Makna dan Implikasinya dalam Kehidupan.
Jumardi. (2012). Memahami Sastra Islam. Sastra-Indonesia.com.
Maylaffayza, H. (2025). Inferioritas Bahasa dan Identitas Bangsa: Refleksi atas Penggunaan Bahasa Indonesia.
Miswar. (2020). Konsep Pendidikan Akhlak Menurut Ibnu Miskawaih. Al-Fikru: Jurnal Ilmiah, 14(1).
Mojok.co. (n.d.). Fakultas Adab dan Humaniora UIN yang Dikira Belajar Adab Sopan Santun.
PWM Jateng. (2024). Peranan Sastra dalam Mendidik Adab dan Akhlak Manusia.
Salam, B. (1997). Etika Sosial: Asas Moral dalam Kehidupan Manusia. Rineka Cipta.
Supriyadi, D. (2010). Pengantar Filsafat Islam. CV Pustaka Setia.
UIN Sunan Kalijaga. (n.d.). History and Organization.
Leave a Comment