| 0 Comments | 15 Views

Card Image

gerbang ikonik Istanbul Universitesi, Juni 23, 2022

Di jantung kota Istanbul, berdiri salah satu institusi pendidikan tertua di dunia Islam: Istanbul Üniversitesi. Kampus ini bukan sekadar universitas modern, melainkan hasil panjang transformasi lembaga keilmuan dari era Utsmani hingga Republik Turki.

Akar sejarahnya dapat ditelusuri ke abad ke-15, ketika Mehmed II mendirikan sistem medrese (madrasah) setelah penaklukan Konstantinopel pada 1453. Medrese-medrese ini menjadi pusat pembelajaran ilmu agama, hukum Islam, filsafat, hingga ilmu rasional seperti matematika dan astronomi. Bahasa pengantar utamanya adalah Arab untuk ilmu-ilmu keislaman, dan Persia untuk sastra, sementara Turki Utsmani menjadi bahasa administrasi dan komunikasi sehari-hari.

Transformasi besar terjadi pada abad ke-19, ketika Kesultanan Utsmani mulai melakukan modernisasi pendidikan. Pada masa ini, lembaga pendidikan tinggi mulai mengadopsi model Eropa, melahirkan Darülfünun, cikal bakal universitas modern di Turki. Di sinilah bahasa mengalami pergeseran penting: selain Arab dan Persia, mulai masuk bahasa Prancis sebagai bahasa ilmu pengetahuan modern.

Perubahan paling drastis terjadi pada 1933, di bawah reformasi pendidikan yang digagas oleh Mustafa Kemal Atatürk. Darülfünun dibubarkan dan digantikan oleh Istanbul Üniversitesi dalam bentuk modern. Reformasi ini bukan hanya institusional, tetapi juga linguistik. Bahasa pengantar diubah menjadi Turki modern, seiring dengan kebijakan reformasi bahasa yang mengurangi pengaruh Arab dan Persia dalam kosakata resmi.

Namun demikian, jejak bahasa lama tidak pernah sepenuhnya hilang. Di fakultas-fakultas seperti teologi, studi Timur Tengah, dan filologi, bahasa Arab tetap diajarkan sebagai kunci untuk memahami teks klasik Islam dan juga di nama-nama fakultas. Begitu pula bahasa Persia dan Ottoman Turkish masih dipelajari untuk membaca manuskrip sejarah. Dengan kata lain, Istanbul Üniversitesi menjadi ruang di mana bahasa lama dan bahasa modern bertemu.

Hari ini, universitas ini menampung puluhan ribu mahasiswa dari berbagai negara. Di dalamnya, bahasa Turki menjadi lingua franca, tetapi bahasa Inggris juga digunakan dalam banyak program internasional. Di sisi lain, minat terhadap bahasa-bahasa klasik tetap bertahan, menunjukkan bahwa tradisi keilmuan lama tidak sepenuhnya ditinggalkan, melainkan diadaptasi.

Seorang mahasiswa asing pernah mengatakan, “Belajar di Istanbul bukan hanya belajar satu bahasa. Di sini, kita seperti belajar sejarah bahasa itu sendiri.” Pernyataan ini mencerminkan posisi Istanbul Üniversitesi sebagai ruang lintas zaman, tempat di mana bahasa Arab, Persia, Turki Utsmani, hingga Turki modern saling berlapis.

Jika universitas modern sering dipahami sebagai institusi yang sepenuhnya sekuler dan rasional, maka Istanbul Üniversitesi menawarkan sesuatu yang berbeda: sebuah kesinambungan. Dari medrese ke kampus modern, dari Arab ke Turki, dari manuskrip ke jurnal ilmiah, semuanya menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang bagaimana bahasa membentuk cara manusia memahami dunia.


Leave a Comment